Beranda Warta ISNU Kajen Gaungkan Santri Cendekia, 203 Peserta Webinar Bahas Akhlak Digital dan...

ISNU Kajen Gaungkan Santri Cendekia, 203 Peserta Webinar Bahas Akhlak Digital dan Masa Depan AI di Pesantren

63
0
Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kajen Kabupaten Pekalongan menggelar Webinar Hari Santri Nasional Tahun 2026 dengan tema “Santri Cendekia di Era Disrupsi: Meneguhkan Akhlak Digital, Literasi AI, dan Inovasi Pembelajaran Pesantren” pada Jumat (30/10/2026) (Dok. LTNNU)

KAJEN, NU KOTA SANTRI – Tantangan era digital menuntut santri tidak hanya memiliki kedalaman ilmu agama, tetapi juga kecakapan dalam memahami dan memanfaatkan perkembangan teknologi. Menjawab tantangan tersebut, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, menggelar Webinar Hari Santri Nasional 2026, Jumat (30/10/2026), melalui Zoom Meeting. Kegiatan yang diikuti 203 peserta dari berbagai kalangan ini mengangkat tema “Santri Cendekia di Era Disrupsi: Meneguhkan Akhlak Digital, Literasi AI, dan Inovasi Pembelajaran Pesantren”.

Webinar ini menjadi ruang penguatan wawasan dan tradisi intelektual Nahdlatul Ulama dalam merespons perubahan zaman. Tidak hanya menyasar kalangan santri, kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa, akademisi, pendidik, serta masyarakat umum untuk bersama-sama memahami peluang dan tantangan teknologi digital, terutama perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Hadir sebagai pemateri, Prof. Dr. H. Imam Kanafi, M.Ag., Guru Besar Bidang Ilmu Tasawuf UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan sekaligus Dewan Penasihat PAC ISNU Kajen, dan Dr. H. Arif Chasanul Muna, Lc., M.A., Pengasuh Pondok Pesantren Griya Santri Mahabbah, Rowolaku, Kajen, sekaligus dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan Dewan Ahli PAC ISNU Kajen. Adapun jalannya diskusi dipandu oleh Dr. Rahmi Anekasari, M.Pd.I., dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Ketua PAC ISNU Kajen, M. Syaefudin, M.Pd.I., dalam sambutannya menyoroti pesatnya perkembangan kecerdasan buatan yang membawa peluang sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan, termasuk lingkungan pesantren. Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi perlu disikapi secara terbuka, tetapi penggunaannya harus tetap berpijak pada kecermatan, tanggung jawab, dan prinsip etika.

Ia menegaskan, sosok santri cendekia tidak cukup hanya ditandai dengan kemampuan mengoperasikan perangkat dan teknologi digital. Lebih dari itu, santri harus memiliki kebijaksanaan dalam memanfaatkan teknologi dengan tetap menjunjung tinggi akhlak dan adab. Kemampuan literasi digital perlu disertai sikap tabayun, tanggung jawab, penghargaan terhadap karya intelektual orang lain, serta kepedulian terhadap privasi dan keamanan informasi.

Mengawali rangkaian pemaparan materi, Prof. Dr. H. Imam Kanafi, M.Ag. mengangkat tema “Ketahanan Spiritual dan Akhlak Digital Santri Melalui Kurikulum Berbasis Cinta”. Dalam paparannya, ia menempatkan nilai cinta dan kasih sayang sebagai landasan penting dalam membangun karakter santri. Nilai tersebut perlu diwujudkan melalui sikap empati, saling menghormati, kepedulian, dan tanggung jawab, termasuk dalam kehidupan serta interaksi di dunia digital.

Penguatan spiritual dan akhlak, menurut perspektif materi yang disampaikan, menjadi modal penting agar santri tidak mudah terseret arus informasi yang begitu deras. Dengan fondasi karakter yang kuat, santri diharapkan mampu memilah informasi secara kritis, menghindari berita yang menyesatkan, tidak terjebak dalam ujaran kebencian, serta menggunakan media digital secara lebih arif dan bertanggung jawab.

Sementara itu, narasumber kedua, Dr. H. Arif Chasanul Muna, Lc., M.A., membahas “Inovasi Pembelajaran Pesantren di Era AI (Artificial Intelligence)”. Ia mengajak kalangan pesantren untuk tidak bersikap tertutup terhadap kemajuan teknologi. Sebaliknya, perkembangan AI perlu dipahami sebagai peluang untuk memperkaya proses pembelajaran dan meningkatkan kualitas pendidikan pesantren.

Teknologi kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk membantu menyiapkan bahan ajar, mengembangkan variasi metode pembelajaran, hingga membuka ruang eksplorasi pengetahuan yang lebih luas. Namun, pemanfaatannya tidak boleh mengabaikan ketepatan referensi, kejujuran akademik, peran pendampingan guru, dan pentingnya otoritas keilmuan pendidik. Teknologi tetap harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti peran guru dan proses pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai keilmuan.

Kedua pemaparan tersebut selanjutnya dikembangkan melalui sesi diskusi dan tanya jawab interaktif. Para peserta mendapatkan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, menyampaikan pengalaman, serta bertukar pandangan mengenai berbagai persoalan yang dihadapi lembaga pendidikan pesantren dalam menghadapi transformasi digital.

Partisipasi 203 peserta menunjukkan tingginya perhatian berbagai kalangan terhadap isu masa depan pendidikan pesantren, khususnya terkait pembentukan karakter, penguatan literasi digital, dan pemanfaatan teknologi AI. Kehadiran peserta dari latar belakang yang beragam juga menjadi peluang untuk membangun jejaring keilmuan dan memperluas kolaborasi antara pesantren, perguruan tinggi, tenaga pendidik, mahasiswa, dan kalangan sarjana NU.

Melalui webinar ini, PAC ISNU Kajen berupaya mempertegas peran sarjana Nahdlatul Ulama sebagai penghubung antara khazanah keilmuan pesantren dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Sarjana NU diharapkan tidak berhenti pada penguasaan disiplin keilmuan masing-masing, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata melalui gagasan, pendampingan, dan solusi bagi pengembangan pesantren, madrasah, serta kehidupan masyarakat.

Komitmen tersebut diharapkan berlanjut dalam berbagai agenda kolaboratif, terutama di bidang pendidikan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan literasi digital, dan pendampingan lembaga pendidikan Islam. Dengan demikian, webinar ini tidak sekadar menjadi forum berbagi pengetahuan, tetapi juga titik awal untuk membangun gerakan bersama dalam merespons tantangan pendidikan masa depan.

Pada akhirnya, kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Kehadiran AI dan berbagai inovasi digital semestinya semakin memperluas manfaat ilmu pengetahuan, bukan justru menggeser nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi pendidikan pesantren.

Melalui semangat santri cendekia, ISNU Kajen mengajak seluruh elemen Nahdlatul Ulama untuk terus merawat tradisi keilmuan, memperkokoh akhlak, dan mengembangkan inovasi. Sebuah ikhtiar agar santri dan sarjana NU mampu hadir sebagai generasi berilmu, berkarakter, adaptif terhadap perubahan, serta memberikan kemanfaatan bagi umat dan bangsa.

Pewarta: Syaikhul Alim

Views: 44

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini