Beranda Pendidikan Petualangan Cilik MINUKA, Murid Kelas 2 Belajar Meneliti Bentuk Daun di Lingkungan...

Petualangan Cilik MINUKA, Murid Kelas 2 Belajar Meneliti Bentuk Daun di Lingkungan Madrasah

40
0
Murid-murid Kelas 2 MI NU Takhassus Karangjati sudah dikenalkan mini riset di lingkungan sekitar madrasah. Hal ini guna menumbuhkan rasa keingintahuan dan cinta ilmu sedini mungkin (Dok. MI NU Takhassus Karangjati)

WIRADESA, NU KOTA SANTRI – Menumbuhkan rasa ingin tahu dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dapat dimulai dari hal-hal sederhana di sekitar anak. Semangat inilah yang diterapkan MI NU Takhassus Karangjati (MINUKA), Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, melalui kegiatan riset bertajuk Petualangan Cilik, Mengamati Bentuk Daun, Sabtu (24/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.15 hingga 10.45 WIB tersebut melibatkan murid kelas 2 dengan menjelajahi lingkungan madrasah untuk mengamati dan mengenali beragam bentuk daun dari berbagai jenis tumbuhan. Melalui pengalaman belajar secara langsung, murid diajak menjadikan lingkungan sekitar sebagai sumber pengetahuan sekaligus laboratorium alam yang mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kegiatan tersebut, murid mengamati sejumlah karakteristik daun, mulai dari bentuk, ukuran, warna, tepi daun, hingga pola tulang daun. Mereka kemudian membandingkan karakteristik daun dari satu tumbuhan dengan tumbuhan lainnya, menemukan persamaan dan perbedaan, serta mencatat hasil pengamatan untuk mengelompokkan daun berdasarkan ciri-ciri yang ditemukan.

Proses riset dilaksanakan secara bertahap dengan pendampingan guru. Murid diajak menentukan objek pengamatan, merumuskan pertanyaan sederhana, menyampaikan dugaan awal, melakukan pengamatan, mencatat hasil, hingga menyusun kesimpulan berdasarkan temuan mereka. Dengan demikian, kegiatan ini tidak sekadar mengenalkan keanekaragaman bentuk daun, tetapi juga melatih keterampilan dasar penelitian sejak usia dini.

Guru pendamping riset kelas 2, Ika, menjelaskan bahwa pengamatan daun merupakan salah satu metode pembelajaran untuk memperkenalkan proses penelitian secara sederhana dan menyenangkan. Menurutnya, objek yang dekat dengan kehidupan sehari-hari akan memudahkan anak memahami materi sekaligus mendorong keberanian mereka untuk bertanya dan mengemukakan pendapat.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat dan temukan sendiri. Mereka dapat membedakan bentuk, warna, ukuran, dan tepi dari berbagai macam daun. Mereka tidak hanya mengetahui bahwa bentuk daun itu beragam, tetapi juga belajar mengamati, membandingkan, mencatat, dan menyampaikan hasil temuannya. Hal sederhana seperti ini dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan,” ungkap Ika.

Ia menambahkan, pelaksanaan kegiatan riset bagi murid kelas 2 harus disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Dalam hal ini, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga menjadi fasilitator yang mendampingi proses pengamatan, memberikan pertanyaan pemantik, serta membantu murid memahami hasil temuannya tanpa harus langsung memberikan seluruh jawaban.

Kepala MI NU Takhassus Karangjati, Asep Awaludin, M.Pd., menyampaikan bahwa program riset merupakan bagian dari upaya madrasah membangun budaya belajar yang mendorong murid untuk berpikir kritis, kreatif, dan memiliki rasa ingin tahu. Menurutnya, pengenalan riset sejak jenjang kelas rendah penting dilakukan agar anak terbiasa memperoleh pengetahuan melalui proses menemukan, bukan sekadar menerima informasi dari guru.

“Anak-anak perlu mendapatkan pengalaman belajar yang membuat mereka aktif bertanya, mencoba, mengamati, dan menemukan sesuatu. Kami ingin menanamkan bahwa penelitian tidak selalu harus dilakukan dengan peralatan yang rumit. Dari sehelai daun yang mereka temukan di halaman madrasah pun, anak-anak bisa belajar banyak hal. Inilah salah satu cara kami membangun budaya riset sejak dini,” tutur Asep.

Ia juga berharap kegiatan semacam ini dapat membentuk karakter murid yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Melalui interaksi langsung dengan alam, murid tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga belajar menghargai dan menjaga keanekaragaman tumbuhan di sekitarnya.

Kegiatan tersebut sekaligus mengintegrasikan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), khususnya Cinta Ilmu serta Cinta Alam dan Lingkungan. Melalui nilai Cinta Ilmu, murid dibiasakan mencari pengetahuan dengan rasa ingin tahu, ketekunan, dan sikap terbuka terhadap temuan. Sementara itu, nilai Cinta Alam dan Lingkungan ditanamkan melalui pengalaman mengenal tumbuhan serta kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan madrasah.

Sebagai tindak lanjut, hasil pengamatan murid akan didokumentasikan dalam bentuk gambar, foto, dan catatan sederhana sebagai bagian dari portofolio kegiatan riset. Murid juga diberi kesempatan mempresentasikan hasil pengamatannya secara sederhana di hadapan guru dan teman-temannya. Dokumentasi tersebut menjadi rekam jejak perkembangan kemampuan belajar sekaligus bahan refleksi atas pengalaman penelitian yang telah dilakukan.

Melalui program Petualangan Cilik, Mengamati Bentuk Daun, MI NU Takhassus Karangjati berharap dapat membiasakan murid belajar melalui proses bertanya, mengamati, membandingkan, mencatat, dan menyimpulkan. Dari lingkungan madrasah yang sederhana, tumbuh pengalaman belajar yang bermakna sebagai langkah awal membangun generasi pembelajar yang kritis, kreatif, cinta ilmu, dan peduli terhadap alam.

Kontributor: Nur Anis Fusana, S.Pd

Editor: Syaikhul Alim

Views: 11

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini