
Karangdadap, NU Kota Santri – MI Walisongo Kebonrowopucang, Kecamatan Karangdadap, Kabupaten Pekalongan, menerapkan konsep ekoteologi dalam pembelajaran berbasis proyek bagi murid kelas II pada Kamis (15/10/2026). Melalui kegiatan menanam dan merawat tanaman, madrasah berupaya menanamkan karakter cinta lingkungan sekaligus mengenalkan kepada murid bahwa menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan.
Ekoteologi merupakan pendekatan yang menghubungkan ajaran agama dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Dalam kegiatan ini, setiap murid diberi tanggung jawab untuk menanam dan merawat satu tanaman. Tanaman cabai, tomat, dan terong dipilih karena relatif mudah dirawat serta dapat menghasilkan buah yang nantinya bisa dimanfaatkan oleh murid.
Kegiatan diawali dengan pengenalan media tanam, jenis tanaman yang akan ditanam, serta kebutuhan tanaman agar dapat tumbuh dengan baik. Selanjutnya, murid melakukan penanaman dan mulai belajar merawat tanaman masing-masing. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya madrasah untuk membangun lingkungan sekolah yang hijau dan berkelanjutan, sekaligus melanjutkan semangat sebagai madrasah yang memperoleh predikat Adiwiyata dari Bupati Pekalongan pada 2025.
Kepala MI Walisongo Kebonrowopucang, Ahmad Muqorobin, S.Pd.I., menyampaikan bahwa pembelajaran tersebut tidak hanya mengajarkan keterampilan bercocok tanam, tetapi juga melatih kedisiplinan dan tanggung jawab murid.
“Setiap murid harus mengikuti jadwal perawatan tanaman, mulai dari menyiram, memupuk, hingga membersihkan gulma. Dengan demikian, murid belajar memahami bahwa merawat tanaman membutuhkan perhatian dan konsistensi.” ucapnya.
Sementara itu, guru pendamping, Istiqomah, S.Pd.I., menilai kegiatan ekoteologi efektif untuk menanamkan karakter cinta lingkungan sejak dini. Murid didorong untuk bertanggung jawab terhadap tanaman yang mereka tanam. Apabila tanaman layu atau mati, mereka juga belajar memahami penyebabnya dan bertanggung jawab untuk menanam kembali.
“Melalui ekoteologi, murid dapat belajar bahwa menjaga tanaman merupakan bentuk tanggung jawab kepada Tuhan yang telah memberikan nikmat berupa udara sehat dan makanan dari tumbuh-tumbuhan. Mereka juga belajar membangun hubungan yang harmonis dengan alam atau hablum minal ‘alam,” ungkapnya.
Disampaikan, tidak hanya memanfaatkan lahan madrasah, kegiatan ini juga mengajak murid memanfaatkan galon bekas sebagai wadah tanaman. Galon tersebut dihias dengan berbagai bentuk menarik, seperti bunga, hewan, dan karakter berwarna-warni. Kreativitas ini membuat kegiatan menanam terasa lebih menyenangkan sekaligus mengenalkan pemanfaatan kembali barang bekas kepada murid.
“Melalui pembelajaran berbasis proyek tersebut, nilai-nilai ekoteologi diwujudkan dalam tindakan nyata. Murid tidak sekadar memahami pentingnya menjaga lingkungan melalui penjelasan guru, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung melalui kegiatan menanam, menyiram, dan merawat tanaman secara rutin.” imbuh Istiqomah.
Dalam perspektif Islam, menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Alam bukan semata-mata objek yang dapat dieksploitasi, melainkan ciptaan Allah SWT yang menyediakan berbagai sumber kehidupan dan perlu dijaga kelestariannya. Pendidikan ekoteologi di madrasah menjadi sarana untuk menghubungkan nilai keimanan dengan perilaku peduli lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Ajaran Islam juga memberikan perhatian terhadap kegiatan bercocok tanam dan penghijauan. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seorang Muslim yang menanam pohon atau tanaman, kemudian hasilnya dimakan oleh manusia, burung, atau hewan, maka hal itu bernilai sedekah baginya. Ajaran tersebut menjadi salah satu landasan untuk menanamkan pemahaman kepada murid bahwa merawat tumbuhan tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga memiliki nilai ibadah.
Melalui kegiatan ini, MI Walisongo Kebonrowopucang berharap tumbuh kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan juga bentuk rasa syukur dan tanggung jawab moral kepada Allah SWT. Peran guru, antusiasme murid, serta dukungan lingkungan madrasah menjadi modal penting agar pembelajaran ekoteologi dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
Madrasah pun diharapkan menjadi lingkungan percontohan dalam membangun kebiasaan ramah lingkungan sejak usia dini. Dari satu tanaman yang dirawat setiap murid, tumbuh harapan lahirnya generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga kepedulian dan komitmen nyata untuk menjaga kelestarian bumi.
Kontributor: Raudhotul Janah
Editor: Khairul Anwar
Views: 7







