
BUARAN, NU Kota Santri – Perpaduan pendidikan formal dan pembelajaran khas pesantren menjadi salah satu keunikan yang dihadirkan Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah (MIS) Pakumbulan, Desa Pakumbulan, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan. Di madrasah ini, siswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran umum sebagaimana sekolah dasar pada umumnya, tetapi juga dikenalkan dengan berbagai disiplin ilmu keislaman sejak usia dini.
Nuansa religius telah terasa sejak pagi hari. Sebelum memulai kegiatan belajar mengajar, para siswa mengikuti apel pagi di halaman madrasah, kemudian membaca doa bersama. Setelah memasuki kelas masing-masing, kegiatan dilanjutkan dengan membaca doa, Asmaul Husna, serta surat-surat pendek. Pembiasaan tersebut menjadi bagian dari upaya menanamkan nilai-nilai keislaman dalam keseharian siswa.
Namun, keunikan MIS Pakumbulan tidak berhenti pada pembiasaan keagamaan. Madrasah ini memiliki program pembelajaran berbasis pesantren yang telah berjalan sejak tahun 2019. Program tersebut menghadirkan materi keilmuan yang selama ini identik dengan lingkungan pesantren dan umumnya dipelajari lebih mendalam pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Salah satu ciri khasnya adalah pembelajaran ilmu Nahwu dan Shorof serta Akidah atau Tauhid. Pembelajaran tersebut diberikan secara bertahap sesuai jenjang kelas dan menjadi bagian dari jadwal mata pelajaran siswa.

Dalam pembelajaran Nahwu, siswa menggunakan kitab Al-Jurumiyah karya Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Dawud al-Shinhaji. Sementara itu, materi Shorof menggunakan kitab Tashrif Amtsilati karya K.H. Taufiqul Hakim.
Adapun pembelajaran Akidah dan Tauhid menggunakan kitab Aqidatul Awam karya Syekh Ahmad al-Marzuqi al-Maliki al-Makki serta Kitab at-Tauhid karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Menariknya, proses pembelajaran tidak hanya mengandalkan metode ceramah. Guru menerapkan berbagai pendekatan yang disesuaikan dengan materi dan karakteristik siswa. Metode yang digunakan meliputi hafalan, menyanyi, drill atau latihan berulang, membaca tulisan Arab Pegon, bercerita, diskusi, hingga ceramah.
Penggunaan metode yang beragam tersebut menjadi salah satu upaya agar materi keagamaan dapat dipahami dengan lebih mudah oleh siswa madrasah ibtidaiyah. Dengan demikian, pembelajaran kitab tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga pada pengenalan dan penanaman nilai-nilai keislaman sejak dini.
Program pembelajaran berbasis pesantren ini digagas oleh Zuhairotul Makah, S.Pd. sejak tahun 2019. Kehadirannya menjadi bagian dari pengembangan pendidikan madrasah yang berupaya memadukan pengetahuan umum dengan penguatan pemahaman agama.
Zuhairotul Makah, S.Pd., selaku penggagas program, menyampaikan bahwa pengenalan ilmu-ilmu pesantren sejak jenjang MI merupakan upaya untuk memberikan bekal keagamaan kepada siswa sejak dini.
“Harapannya, anak-anak tidak hanya mengenal ilmu pengetahuan umum, tetapi juga memiliki dasar pemahaman agama yang kuat. Memang materi seperti Nahwu dan Shorof membutuhkan proses, sehingga pembelajarannya kami sesuaikan dengan usia dan kemampuan siswa. Yang terpenting, mereka mulai mengenal, memahami, dan mencintai ilmu agama sejak dini” Ujarnya.
Kepala MIS Pakumbulan, Idham Kholid, S.Pd.I, juga menegaskan bahwa pendidikan di madrasah tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan akhlak peserta didik.
“Melalui perpaduan pendidikan formal dan pembelajaran berbasis pesantren, kami berharap peserta didik tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga pemahaman agama dan akhlak yang baik. Ilmu yang diperoleh di madrasah diharapkan dapat menjadi bekal bagi mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari” jelasnya.
Komitmen tersebut sejalan dengan motto MIS Pakumbulan, yaitu Berakhlak Mulia, Cerdas, dan Berprestasi. Visi madrasah pun dirumuskan dalam semangat Belajar dan Beribadah Menuju Pribadi yang Cerdas, Prestasi yang Berkualitas, dan Berakhlakul Karimah.
Bahwa pembentukan karakter dan pengembangan prestasi dapat berjalan beriringan juga tercermin dari capaian peserta didiknya. Pada tahun 2026, Zhafira Putri, siswi kelas VI MIS Pakumbulan, berhasil meraih Juara 2 dalam ajang Olimpiade Sains dan Ke-NU-an (OSKANU) IV Tahun 2026 bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Prestasi tersebut menjadi salah satu capaian yang membanggakan bagi madrasah. Di tengah penguatan pembelajaran keagamaan, siswa tetap didorong untuk mengembangkan potensi akademik dan berkompetisi di tingkat yang lebih luas.
Melalui program pembelajaran yang memadukan pendidikan formal dan pesantren, MIS Pakumbulan terus berupaya menghadirkan pendidikan yang seimbang antara ilmu pengetahuan, pemahaman agama, dan pembentukan akhlak. Bagi madrasah ini, keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari prestasi yang diraih, tetapi juga dari karakter dan nilai-nilai kebaikan yang tumbuh dalam diri setiap peserta didik.
Kontributor: Ainun Khikmah, S.Pd.
Views: 23







