Beranda Warta Sekretaris LTNNU Pekalongan Dorong Mahasiswa Menjawab Krisis Lingkungan Lewat Tulisan

Sekretaris LTNNU Pekalongan Dorong Mahasiswa Menjawab Krisis Lingkungan Lewat Tulisan

102
0

Kajen, NU Kota Santri – Merawat bumi harus dimulai dari membangun cara berpikir masyarakat. Literasi menjadi jembatan untuk menyebarkan pengetahuan, menumbuhkan kepedulian, sekaligus menggerakkan aksi.

Pernyataan tersebut disampaikan Khairul Anwar, M.E., Sekretaris Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Kabupaten Pekalongan, saat menjadi narasumber Workshop “Ekoteologi In Action: Merawat Bumi, Menulis Solusi Lewat Literasi” yang diselenggarakan Kelompok Studi Mahasiswa Fakultas (KSM-F) ACTA UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan di Aula Fakultas Syariah, Ahad (5/7/2026).

“Perubahan sosial tidak hanya lahir dari aksi di lapangan, tetapi juga dari kekuatan gagasan yang disebarkan melalui tulisan dan berbagai karya intelektual. Ketika semakin banyak orang membaca, menulis, dan berdiskusi tentang lingkungan, maka semakin besar pula peluang lahirnya perubahan yang berkelanjutan.” kata Khairul yang juga dosen di Staikap dan UIN Gus Dur ini.

Kegiatan yang diikuti 45 peserta tersebut bertujuan membangun kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya pelestarian lingkungan melalui gerakan literasi. Khairul menjelaskan bahwa persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan teknologi atau kebijakan semata, tetapi memerlukan perubahan cara pandang manusia terhadap alam sebagai amanah dari Allah SWT.

“Ekoteologi mengajak kita melihat bahwa hubungan manusia dengan alam bukan hubungan penguasa dengan objek yang dikuasai, melainkan hubungan seorang khalifah dengan amanah yang dititipkan Allah. Setiap ikhtiar menjaga lingkungan sesungguhnya merupakan wujud ketaatan dan tanggung jawab moral sebagai seorang hamba” ujarnya.

Khairul juga mendorong mahasiswa agar tidak berhenti menjadi konsumen informasi, tetapi mampu menjadi produsen pengetahuan yang menghadirkan solusi atas berbagai persoalan lingkungan melalui artikel populer, penelitian, buku, maupun media digital.

Sementara itu, Ketua KSM-F ACTA Nur Silmi Kaffah dalam sambutannya menyampaikan, workshop tersebut merupakan langkah awal organisasi dalam membangun budaya akademik yang responsif terhadap isu-isu lingkungan. Ia berharap mahasiswa mampu mengintegrasikan nilai keislaman, kepedulian ekologis, dan tradisi literasi dalam setiap aktivitas akademik maupun pengabdian kepada masyarakat.

“Kami ingin KSM-F ACTA menjadi ruang lahirnya mahasiswa yang tidak hanya kritis dalam berpikir, tetapi juga peduli terhadap masa depan bumi. Melalui workshop ini, kami berharap literasi menjadi gerakan nyata yang mampu menumbuhkan kesadaran ekologis sekaligus melahirkan karya-karya yang memberi manfaat bagi masyarakat.” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa tindak lanjut dari kegiatan tersebut adalah penyusunan sebuah buku kolaboratif yang memuat gagasan, refleksi, hasil kajian, dan tulisan peserta mengenai ekoteologi, pelestarian lingkungan, serta peran generasi muda dalam merawat bumi.

“Target akhir dari rangkaian kegiatan ini adalah terbitnya sebuah buku karya bersama peserta Workshop Ekoteologi In Action. Buku ini diharapkan menjadi bukti bahwa literasi mampu menggerakkan aksi nyata, sekaligus menjadi kontribusi intelektual mahasiswa dalam menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan dari perspektif keislaman. Kami ingin gerakan ini tidak berhenti di ruang seminar, tetapi terus hidup melalui karya yang dapat dibaca, didiskusikan, dan menginspirasi masyarakat luas.” tambahnya.

Workshop ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan kapasitas mahasiswa dalam memahami bahwa isu lingkungan bukan hanya persoalan ilmiah, melainkan juga memiliki dimensi teologis yang erat kaitannya dengan nilai-nilai keislaman. Semangat tersebut sejalan dengan penguatan ekoteologi yang terus dikembangkan di lingkungan UIN Gus Dur sebagai bagian dari komitmen membangun kampus hijau dan berkelanjutan.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung melalui diskusi interaktif mengenai tantangan krisis iklim, pengelolaan sampah, budaya membaca, hingga peluang mahasiswa menjadi agen perubahan melalui karya tulis. Workshop ditutup dengan sesi tanya jawab dan foto bersama sebagai simbol komitmen bersama untuk terus mengembangkan gerakan literasi yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan.

Kontributor: Seftia Nurul Izati
Editor: Syaikhul Alim

Views: 31

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini