Beranda Warta PCNU Kabupaten Pekalongan: Pesantren Harus Menjadi Pelopor untuk Merawat Jagad

PCNU Kabupaten Pekalongan: Pesantren Harus Menjadi Pelopor untuk Merawat Jagad

599
0

Pekalongan, NU Kota Santri. Pondok Pesantren harus menjadi pelopor untuk merawat jagad, demikian ditegaskan KH. Muslikh Khudlori, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pekalongan dalam Launching Program Penghijauan, Konservasi Tanah dan Mata air untuk Mitigasi Pengurangan Resiko Bencana yang diselenggarakan oleh Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) PCNU Kabupaten Pekalongan pada Ahad (29/09/2024) di Pondok Pesantren Baitul Muqoddas Kranji Kedungwuni Pekalongan.

Kyai Muslikh menjelaskan bahwa NU sekarang memiliki moto merawat jagad, membangun peradaban. Ini adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Hakikatnya tugas NU itu membangun peradaban dan meningkatkan taraf kehidupan. Meningkatkan kehidupan harus dilakukan dengan cara yang berperadaban. Sebagai contoh orang kadang untuk meningkatkan taraf kehidupan mereka menebang hutan, apalagi dilakukan secara serampangan, maka itu tidak bisa dikatakan membangun peradaban karena hal itu justru merusak dan akan mengancam kehidupan.

Kyai Muslikh mendorong pondok pesantren untuk bisa mengambil peran dalam upaya untuk menjaga kelestarian alam.
“NU tidak bisa dilepaskan dari pesantren, karena itu pesantren harus bisa berbicara bagaimana merawat jagad. Dan pesantren memiliki potensi menjadi pelopor dalam program dan Upaya merawat jagad ini. Santri pesantren itu dididik tidak hanya belajar teori, tetapi menekankan pentingnya amaliyah yang diiringi dengan akhlakul karimah” jelasnya.

Kyai Muslikh menekankan alasan mengapa kita harus merawat jagad. Menurutnya Allah menciptakan makhluk dengan karakter yang berbeda-beda. Pertama, ada makhluk yang diberi akal, diberi perasaan dan dapat berkomunikasi contohnya manusia. Kedua, ada makhluk yang diberi akal (berupa insting), diberi perasaan tapi tidak bisa berkomunikasi, contohnya hewan. Yang ketiga, ada makhluk tidak diberi akal, tidak bisa berkomunikasi tetapi diberi perasaan, contohnya pohon. Pohon jika diperlakukan dengan baik, dia akan memberikan respon positif kepada manusia yang memperlakukannya dengan baik.

“Mengingat pentingnya Upaya merawat jagad melalui konservasi hutan, maka santri harus didekatkan dengan hutan. Santri harus dikenalkan dengan hutan. Bukan untuk mengekploitasi tetapi untuk bersama-sama menjaga kelestariannya. Karena itu pondok pesantren harus menjadi miniatur kehutanan dengan program pesantren hijau”tandasnya.

Sementara itu KH. Tajuddin Shorih selaku pengasuh Pondok Pesantren Baitul Muqoddas, Kranji Kedungwuni Pekalongan menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan sehingga Pondok Pesantren Baitul MUqoddas dipilih sebagai salah satu Piloting Project Pesantren Hijau di Kabupaten Pekalongan.

“Kami menyambut baik kerja sama yang digagas LPBINU berkolaborasi dengan pemangku kepentingan yang lain untuk mewujudkan pesantren hijau dengan program penghijauan di lingkungan pesantren dan juga program lanjutan dengan mengajari santri-santri untuk mengenal pertanian berupa pembibitan tanaman. “ jelas Kyai Tajuddin.

Kyai Tajuddin menambahkan meskipun santri kami kesehariannya hanya mengaji dan mengaji, mereka insya Allah mempunyai kemauan untuk belajar dan santri juga memiliki kemampuan untuk menularkan ilmunya kepada santri lain.
“Hari ini mengajari satu santri insya Allah dalam jangka waktu satu tahun akan berkembang menjadi 20 santri yang menguasai. Jika tiga atau lima ke depan mungkin sudah satu kabupaten Pekalongan, karena sudah ada beberapa piloting project untuk Upaya penghijauan baik di Paninggaran, Rogoselo dan akan berkembang ke daerah2 lain. Pondok Pesantren Baitul Muqoddas siap berkolaborasi dalam rangka menyukseskan program-program PCNU Kabupaten Pekalongan”ujarnya.

Pada kesempatan Launching tersebut, Muhammad Eko Prasetyo, Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI NU) PCNU Kabupaten Pekalongan melaporkan bahwa Ada tiga sasaran program yakni Program Pesantren Hijau berupa penyerahan bantuan bibit tanaman bagi pesantren-pesantren yang masih memiliki lahan kosong yang belum termanfaatkan. Santri-santri juga akan dilatih dengan penegnalan pertanian dan pembibitan. Kedua Program Pendampingan Madrasah LP Maarif Adiwiyata, berupa pemberian bantuan bibit tanaman kepada madrasah-madrasah di bawah binaan LP Maarif NU untuk mewujudkan madrasah yang hijau dan sehat. Serta ketiga program Pendampingan pembibitan bagi kelompok tani NU. Semua Upaya tersebut dalam rangka merealisasikan tugas utama LPBINU yakni mitigasi pengurangan resiko bencana.

Kegiatan Launching ditandai penandatanganan Nota Kesepahaman antara Lembaga-Lembaga Nahdlatul Ulama PCNU Kabupaten Pekalongan tentang Lingkungan Hidup dan untuk meminimalisasi perubahan iklim. Juga secara simbolis diserahkan bibit tanaman dari Cabang Dinas Kehutanan Wilayah IV kepada PCNU Kabupaten Pekalongan dan para Ketua Lembaga di Jajaran PCNU dan dilanjutkan penanaman bibit pohon di lingkungan Pondok Pesantren Baitul Muqoddas.

Kegiatan Launching Program Penghijauan ini dihadiri Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Pekalongan, KH. Baihaqi Anwar, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pekalongan, KH. Muslikh Khudlori, Ketua NU Peduli Kabupaten Pekalongan, H. Ahsin Hana serta Jajaran Ketua Lembaga, antara lain Ketua LPBINU, RMI NU, LAZISNU, LPPNU, LP. Maarif NU, LWPNU dan LTNNU. Tampak hadir juga dari Dinas Perkim dan Lingkungan Hidup, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Pekalongan, serta Cabang Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Tengah Wilayah IV.
Kontributor: Syaikhul Alim

Views: 159

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini