Oleh: Ajie Najmuddin (pemerhati sejarah pesantren)
Tak jauh dari Pasar Kedungwuni Kabupaten Pekalongan, terdapat sebuah wilayah yang bernama Kranji. Pekan depan, kebetulan di kampung tersebut akan diselenggarakan acara besar, orang Kranji menyebutnya Rajaban karena diselenggarakan pada bulan Rajab, sekaligus peringatan haul tokoh yang dianggap menjadi perintis berdirinya kampung Kranji dan penyebar agama Islam di Pekalongan, Syaikh Nurul Anam atau biasa disebut dengan nama Mbah Nur Anom.
Nama Kranji sendiri juga tak lepas dari sejarah Mbah Nur Anom. Di dalam manaqib yang ditulis oleh KH Ahmad Munawwir Gringsing Batang (masih keturunan dari Mbah Nur Anom), dikisahkan setelah diperintah ayahnya yang bernama Mbah Nur Sepuh (dimakamkan di Geritan), Mbah Nur Anom kemudian membuka sebuah wilayah yang diberi nama Kranji yang dapat dimaknai sebagai pekarangan (tempat) untuk mengaji. Adapula yang menyebut penamaan tersebut, karena wilayah tersebut banyak tumbuh pohon asam Kranji.
Begitulah, Kranji kemudian menjadi pusat orang mengaji ilmu agama Islam. Hingga saat ini, ada beberapa pesantren yang berdiri di Kranji. Selain itu, ada majelis taklim, madrasah, TPQ, dan lain sebagainya yang hampir non-stop setiap hari. Murid atau santri yang mengaji di Kranji, juga berasal dari berbagai daerah.
Karena menjadi pusat pertemuan orang dari berbagai daerah, Kranji kemudian juga menjadi pusat gerakan kelompok masyarakat. Seperti pada umumnya wilayah santri, maka Nahdlatul Ulama (NU) dan Banom-banomnya seperti Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat, IPNU, dan IPPNU menjadi wadah organisasi bagi warga Kranji. Dari ruang organisasi inilah, kemudian melahirkan banyak tokoh, baik di level lokal hingga nasional.
Pusat Konveksi
Yang menjadi pertanyaan tentu bagaimana semua kegiatan tersebut dapat berjalan dengan konsisten dan memiliki akar yang kuat. Selain ideologi, tentu juga mesti dibekali dengan kemampuan ekonomi yang baik. Sebab, sebuah organisasi ataupun lembaga, tentu perlu ditopang dengan modal kemandirian dan ekonomi yang stabil.
Selain dari urunan yang menjadi khas warga NU pada umumnya, biasanya juga ada donatur yang mbakohi. Di Kranji, banyak Bos Kaji yang memiliki usaha konveksi atau njait. Usaha konveksi di Kranji ini sudah berlangsung hampir satu abad. Biasanya karir Bos Kaji ini dimulai dengan ikut kepada saudara atau tetangganya yang sudah sukses, kemudian bila sudah merasa cukup berani, ia akan membuka sendiri usaha konveksinya.
Yang unik, karena kampung santri, sistem libur para karyawan pun di malam dan hari Jumat, bukan Minggu, karena umumnya di sana ya ikut berjanjen atau yasinan, sedangkan di hari Jumat tentu Jumatan. Termasuk juga cara pembayaran upah diberikan ada yang sepekan sekali, setiap Kamis Sore. Orang menyebutnya pocokan.
Begitulah, setiap hari deru mesin jahit dan obras terus berpacu bersama para santri ngaji yang sedang melantunkan nadhoman kitab. Kecuali, ya itu di hari Jumat. Kalau sekarang ada yang berubah hari liburnya, bisa jadi karena mengikuti pola industri di luar, yang tidak ada kata libur.
Ruang Katarsis
Pada akhirnya, dengan segala hiruk pikuk kegiatan yang ada, tentu masyarakat Kranji juga butuh hiburan. Banyak warga yang memanfaatkan lapangan dan tentu sungai untuk melepas penat. Biasanya lapangan akan ramai pada sore hari. Terutama kaum laki-laki dari berbagai kalangan umur, akan mendatangi lapangan yang terletak di sebelah barat Masjid Kranji. Untuk anak perempuan, waktu sore biasanya saatnya untuk pergi ke madrasah diniyah.
Di lapangan, sepakbola menjadi hal yang sangat mengasyikkan. Tempat pertemuan manusia beragam jenis. Tak mengenal usia maupun status sosial. Bagi warga Kranji, dan umume orang Indonesia, lapangan menjadi ruang katarsis. Tempat untuk healing atau pelampiasan penat dan emosi, yang mungkin disebabkan karena pekerjaan dan lain sebagainya.
Saking tingginya animo warga Kranji untuk bermain bola, dulu saat penulis masih tinggal di sana tahun 2000-an, dibuat jadwal per hari. Misal, Senin untuk dewasa, Selasa remaja, Rabu SSB atau anak-anak, dan seterusnya. Bahkan, setiap setahun sekali diselenggarakan turnamen bergengsi yang diikuti tidak hanya warga Kranji. Singkatnya, saking tinggi animo tersebut, barangkali hanya dua hal yang dapat menghentikan warga Kranji bermain bola: banjir bandang dan adzan Maghrib.
Ya, lapangan Kranji letaknya juga tak jauh dari Sungai Sengkarang. Saban musim hujan utamanya, sungai tersebut akan meluap dan terkadang dapat menyebabkan banjir bandang yang merendam seluruh lapangan. Namun, keberadaan sungai ini tentu juga menjadi sebuah berkah tersendiri. Bayangkan, setelah capek main bola, kemudian ambyur-ambyuran di kali. Seger! Bila membawa uang saku, bisa juga mampir ke warung terdekat, sekadar menikmati sego megono dan gorengan yang masih panas plus teh atau kopi hangat. Nikmat Sakpore!
Views: 236







