Beranda Tokoh Kiai Abdullah Afif: Sosok Teladan dari Kauman, Wiradesa, Pekalongan

Kiai Abdullah Afif: Sosok Teladan dari Kauman, Wiradesa, Pekalongan

797
0
Kyai Abdullah Afif, Kauman Wiradesa

Nasab dan Latar Belakang

Kiai Abdullah Afif, atau yang akrab dipanggil Mas Dul oleh orang-orang terdekatnya, adalah seorang tokoh agama yang dihormati di Desa Kauman, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Beliau lahir pada hari Rabu, 9 April 1958, sebagai putra ketiga dari pasangan Kiai Machali dan Nyai Mushokhihah. Mas Dul memiliki tiga saudara kandung, yaitu KH. Ahmad Shofi (wafat 29 Januari 2012), KH. Muhammad Fauzi (wafat 7 Desember 2020), dan Nyai Futuhatul Machaliyah, yang hingga kini masih aktif mengasuh Majelis Ta’lim Futuhiyyah.

Pendidikan dan Peran di Masyarakat

Mas Dul mendapatkan pendidikan agama langsung dari ayahnya, Kiai Machali, yang juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al Amin. Pesantren ini didirikan oleh kakeknya, KH. Amin bin Kiai Qodri. Sepanjang hidupnya, Mas Dul tidak pernah menimba ilmu di luar Pesantren Al Amin, tetapi beliau rajin belajar kepada ayah, saudara, serta beberapa kiai di daerah Pekalongan dan sekitarnya.

Setelah dewasa, Mas Dul menikah dengan Nyai Inshofiyati, putri dari pasangan Nyai Mafruhah dan Bapak Tarmidzi, yang juga berasal dari Desa Kauman. Nyai Inshofiyati dikenal sebagai seorang aktivis Fatayat dengan suara merdu dalam melantunkan tilawah Al-Qur’an dan sholawat. Mereka tinggal di rumah warisan Kiai Machali, di sebelah utara Musholla Al Amin.

Sebagai seorang ulama, Mas Dul mendalami berbagai disiplin ilmu agama, terutama fiqih. Beliau juga dikenal sebagai sosok yang akrab dengan teknologi, bahkan sebelum internet dan media sosial populer di masyarakat. Beliau sering mengajarkan santri cara menggunakan internet, termasuk membuat akun Facebook.

Mas Dul melanjutkan estafet kepemimpinan Pondok Pesantren Al Amin bersama saudara-saudaranya setelah wafatnya Kiai Machali. Di luar pesantren, beliau aktif dalam Lembaga Bahtsul Masail MWC NU Kecamatan Wiradesa dan pernah menjabat sebagai Katib Syuriah PCNU Kabupaten Pekalongan. Beliau juga menjadi salah satu sesepuh di website PISS-KTB (Pustaka Ilmu Sunni Salafiah-KTB), sebuah platform diskusi keislaman berbasis fiqih.

Jam’iyyah Nurul Musthofa dan Kecintaan kepada Sholawat

Mas Dul mendirikan Jam’iyyah Nurul Musthofa, sebuah organisasi keagamaan di Desa Kauman yang rutin mengadakan pembacaan Maulid Simtud Duror setiap malam Senin dan Maulid Burdah tiap malam Selasa. Bersama Nyai Inshofiyati, Mas Dul kerap mendampingi kegiatan rutinan, ziarah, hingga perlombaan rebana.

Kecintaannya pada sholawat terlihat dari keistiqamahannya menghadiri peringatan maulid di berbagai daerah. Meski sering ditawari kendaraan, beliau lebih memilih berboncengan dengan Nyai Inshofiyati menggunakan sepeda motor, menunjukkan kesederhanaan dan kebersahajaan mereka.

Mas Dul dalam Kenangan

Mas Dul dikenal sebagai sosok yang santun, sederhana, dan apa adanya. Pengetahuannya luas, dengan toleransi yang tinggi. Kesehariannya diisi dengan kegiatan-kegiatan sederhana, seperti membersihkan kamar mandi pesantren dan musholla, serta menyapu halaman pesantren, meski sebenarnya ada santri dan masyarakat yang siap melakukannya.

Di mata anak-anak, Mas Dul adalah sosok yang ramah dan dekat. Mereka sering mendatangi beliau untuk membersihkan kamar mandi pesantren, lalu diberi hadiah uang jajan. Anak-anak juga memiliki kenangan unik tentang pohon mangga di pesantren, di mana mereka mengukir nama pada buah mangga muda untuk memesan jatahnya saat matang.

Kisah Inspiratif di Hadapan Habib Luthfi bin Yahya

Mas Dul kerap sowan kepada Habib Luthfi bin Yahya. Dalam suatu kesempatan, Habib Luthfi memintanya membaca Al-Qur’an dan memberikan makna dari ayat yang dipilih secara acak. Ayat-ayat tersebut menjadi jawaban atas persoalan yang diajukan tamu dari Jawa Timur, menunjukkan keilmuan Mas Dul yang mendalam.

Wafat di Majelis Sholawat

Mas Dul wafat pada Rabu malam, 25 Mei 2016, bertepatan dengan 19 Sya’ban 1437 H, setelah menghadiri peringatan maulid di Majelis Ta’lim Al Khoir wal Barokah. Sebelumnya, beliau sempat melaksanakan sholat Isya’ dan bersilaturahmi dengan para habaib serta kiai. Namun, mendadak beliau tersedak saat minum air dan tidak sadarkan diri. Meskipun sempat dilarikan ke rumah sakit, dokter menyatakan beliau telah wafat.

Kiai Abdullah Afif, seorang ulama yang penuh kecintaan terhadap sholawat, menghembuskan napas terakhirnya di tengah kegiatan yang begitu dicintainya. Beliau dimakamkan di pemakaman umum belakang Masjid Jami’ Al Qodim, Desa Kauman, berdampingan dengan makam orang tua dan saudara-saudaranya.

Warisan dan Haul

Sebelum wafat, Mas Dul menyelesaikan kitab panduan pengurusan jenazah yang direncanakan menjadi materi pengajian Ramadhan. Hingga kini, kenangan tentang beliau tetap hidup, dan haul ke-6 untuk mengenang jasa-jasanya dilaksanakan pada 19 Sya’ban 1443 H (23 Maret 2022).

(Biografi Singkat Kiai Abdullah Afif, ditulis ulang dari tulisan santri beliau dalam rangka Peringatan haul ke-6 Kiai Abdullah Afif dilaksanakan Rabu, 19 Sya’ban 1443 H/23 Maret 2022 M)

LTN NU Kabupaten Pekalongan

Views: 245

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini