Beranda Tokoh KH. Ichsan Zabidi: Ulama Penghafal Al-Qur’an dan Pengabdi Umat

KH. Ichsan Zabidi: Ulama Penghafal Al-Qur’an dan Pengabdi Umat

922
0
KH. Ichsan Zabidi, Pucung Tirto

Kehidupan Awal: Dari Sa’dullah hingga KH. Zabidi

KH. Ichsan Zabidi, yang akrab disapa KH. Zabidi, lahir dengan nama asli Sa’dullah di Desa Pucung, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan. Ia merupakan putra ketiga dari pasangan H. Mahfudz dan Hj. Latifah. Ayahnya, H. Mahfudz, dikenal sebagai penggagas pendidikan agama Islam di Desa Pucung, suatu dedikasi yang menjadi landasan kuat dalam kehidupan religius keluarga ini.

KH. Zabidi memiliki lima saudara, yaitu H. Yusuf, Hj. Alfiyah, H. Tamim, Siti Aisyah, dan Juwairiyah. Tahun 1964, ia menikah dengan Hj. Umi Hanik, putri seorang pengusaha sukses sekaligus pendiri Koperasi Pengusaha Batik Setono (KPBS). Dari pernikahan ini, pasangan tersebut dikaruniai 12 anak, terdiri atas 8 putra dan 4 putri.

Ujian Hidup dan Janji Sang Ayah

Masa remaja KH. Zabidi diwarnai ujian berat. Ia mengalami kelumpuhan yang berlangsung bertahun-tahun. Sang ayah, H. Mahfudz, bernazar kepada Allah SWT, berjanji akan menghafalkan Al-Qur’an jika putranya diberikan kesembuhan dan panjang umur. Doa serta usaha tak kenal lelah dari keluarga membuahkan hasil. KH. Zabidi sembuh dari lumpuh, dan sang ayah menepati nazarnya.

KH. Zabidi kemudian menempuh pendidikan di pesantren Lasem dan Cirebon. Selain menghafal Al-Qur’an, ia juga mendalami pembelajaran kitab kuning, menunjukkan kecintaannya terhadap ilmu agama.

Mengabdi kepada Masyarakat

Sepulang dari pesantren, KH. Zabidi aktif mengajar agama di berbagai desa serta mendirikan musholla panggung yang menjadi pusat kegiatan keagamaan. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, beliau sempat mencoba berdagang. Namun, setiap kali fokus pada usaha tersebut, hasilnya tidak memuaskan. Akhirnya, beliau memilih mengabdikan diri sepenuhnya kepada masyarakat.

Peran di Nahdlatul Ulama

Pada tahun 1980, KH. Zabidi mulai aktif di kepengurusan Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Pekalongan. Dalam perjalanannya, ia menjabat berbagai posisi penting, antara lain:

  1. 1980–1983: A’wan
  2. 1985–1988: Mustasyar
  3. 1989–1993: Mustasyar
  4. 1993–1997: Wakil Rais Syuriah
  5. 1997–2002: Rais Syuriah
  6. 2002–2007: Mustasyar

Kiprah beliau selama enam periode ini menjadi bukti nyata dedikasinya dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam melalui NU.

Sosok yang Bersahaja

KH. Zabidi dikenal sebagai pribadi yang tegas, pendiam, dan sedikit bicara. Ia lebih suka mengajarkan nilai-nilai Islam melalui sikap dan tindakan, bukan ucapan. Dalam mendidik anak-anaknya, beliau tak pernah menggunakan kekerasan, melainkan menanamkan kedisiplinan melalui keteladanan.

Salah satu pesan pentingnya adalah menjaga shalat lima waktu dan merawat musholla panggung, peninggalannya yang menjadi pusat kegiatan keagamaan. Keilmuannya dalam membaca Al-Qur’an dengan Qira’ah Sab’ah (tujuh cara membaca Al-Qur’an) menjadikan beliau dihormati hingga ke berbagai desa, bahkan oleh para santrinya.

Akhir Perjalanan Hidup

KH. Ichsan Zabidi berpulang ke Rahmatullah pada tanggal 14 Syawal 1428 H atau 26 Oktober 2007. Hingga kini, jejak perjuangan dan pengabdiannya tetap dikenang, baik melalui musholla panggung yang ia dirikan, majelis taklim yang masih hidup, maupun keteladanan yang telah ia wariskan kepada keluarga dan masyarakat.

(Ditulis Kembali dengan penyesuaian dari Buku “Tokoh-Tokoh Nahdlatul Ulama Kabupaten Pekalongan, Penyusun Drs. H. Imronudin, M.S.I)

LTN NU Kabupaten Pekalongan

Views: 388

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini