Biografi K.H. Achmad Showy
K.H. Achmad Showy, yang lebih akrab disapa Pak Showy, lahir di Pekalongan pada 4 Rabi’ul Awal 1361 Hijriyah, yang bertepatan dengan 21 Maret 1942 Masehi—sebuah hari yang kelak akan dikenang sebagai titik awal perjalanan panjang seorang manusia luar biasa. Sebagai anak pertama dari tujuh bersaudara, Pak Showy lahir di tengah kesederhanaan. Ayahnya, K.H. Abdur Rozzaq bin Wali bin Rozi, seorang Kyai Besar yang dihormati di Kecamatan Karangdadap, khususnya di desa Kebonrowopucang, menjadi panutan utama dalam hidupnya. Ibunya, Hj. Sri Qoinah binti Moh. Ilyas bin Abdul Wahab, adalah seorang wanita yang penuh keteguhan dan kasih sayang. Meski tumbuh dalam keterbatasan materi, Pak Showy tak pernah merasa kekurangan. Sejak kecil, ia terbiasa mengarungi kerasnya kehidupan, membantu ayahnya bekerja di sawah dan mengajar ngaji di mushola—setiap langkahnya dipenuhi dengan pengorbanan. Dalam setiap nasihat yang diberikan orangtuanya, ia selalu tunduk dan tak pernah berani membantah. Begitulah, keikhlasan dan keteguhan hatinya menumbuhkan pesona yang begitu memikat hati setiap orang yang berkesempatan mengenalnya.
Pendidikan pertama yang diterima oleh K.H. Achmad Showy datang langsung dari sang ayah, yang dengan penuh kasih mengajarkan beliau ilmu agama, mengaji, serta mempelajari kitab-kitab klasik yang menjadi warisan keilmuan yang tak ternilai. Namun, perjalanan pendidikannya tak berhenti di situ. Pak Showy juga menempuh pendidikan formal di Sekolah Rakyat (SR), yang kini dikenal sebagai SD/MI, di desa Kebonrowopucang, Kecamatan Karangdadap, Kabupaten Pekalongan. Di tengah keterbatasan hidup, di masa itu, seragam sekolah hanyalah impian bagi anak-anak seperti dirinya. Dalam kesederhanaan, Pak Showy hanya mengenakan baju lengan pendek dan celana pendek yang dijahit dengan penuh cinta oleh ibunya dari potongan sisa kain yang ada. Warna pakaian yang berbeda antara sisi kanan dan kiri menjadi simbol nyata dari perjuangan dan ketabahan keluarga yang tak pernah menyerah. Begitulah, meski di tengah keterbatasan, semangat belajar Pak Showy tak pernah padam, menjadi bukti dari tekad yang tak mengenal kata menyerah.
Meski tak mengenakan seragam seindah teman-temannya, semangat juang K.H. Achmad Showy untuk menuntut ilmu tak pernah surut sedikit pun. Rasa lapar akan pengetahuan justru semakin membara dalam dirinya. Setelah menuntaskan pendidikan di Sekolah Rakyat, beliau melanjutkan langkahnya ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), yang kini dikenal dengan nama SMP, di Warungasem, Kabupaten Batang. Namun perjalanan pendidikannya tak berhenti di sana. Beliau kemudian melanjutkan dengan penuh tekad ke pondok pesantren APIK Kaliwungu, Kendal, bersama sahabat-sahabat seperjuangannya, seperti K.H. Thohir (Simbang Wetan), K.H. Zuhri Jaelani, dan K.H. Mustofa Bakri. Di sana, beliau menggali ilmu dari para guru besar, di antaranya K.H. Rukyat dan Kyai Bisri Mustofa (Rembang). Tidak hanya itu, dalam pencariannya akan ilmu, beliau juga berguru pada beberapa kyai di Kebonrowopucang, serta di desa Jrebengkembang dan Logandeng, tempat ayahnya mengajar—meski waktu yang dimilikinya terbatas, semangatnya untuk menyerap ilmu tak pernah terhalang.
Ketika usia K.H. Achmad Showy menginjak 20 tahun, sang nenek, dengan penuh harap, ingin segera melihatnya menikah. Namun, semangat jihad beliau dalam menuntut ilmu agama jauh lebih membara daripada keinginan untuk menikah. Beliau masih merasa bahwa perjalanan ilmunya belum selesai dan tekadnya untuk terus menggali ilmu di pondok pesantren begitu kuat. Mengingat sikapnya yang selalu sopan dan patuh terhadap orang tua, akhirnya beliau setuju untuk menikah, tetapi dengan satu syarat: setelah menikah, beliau akan kembali melanjutkan mondok di Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, untuk meneruskan pendidikan agamanya. Namun takdir berkata lain, hanya beberapa bulan setelah kembali ke pesantren, beliau jatuh sakit. Kesehatannya yang terus menurun memaksanya untuk pulang ke kampung halaman. Dalam keterbatasan itu, beliau mulai mengabdikan diri sepenuh hati untuk masyarakat, menyebarkan ilmu dan kebaikan yang telah ia pelajari selama ini. Seolah sakit yang menimpanya justru menguatkan tekadnya untuk memberikan yang terbaik bagi umat, meski dengan cara yang berbeda.
Pada tahun 1963, K.H. Achmad Showy menikahi Hj. Umi Tsani, seorang gadis cantik berusia 15 tahun, putri dari saudagar kaya di desanya. Sebagai kembang desa yang banyak dilirik oleh para pemuda, tak satu pun lamaran yang diterimanya, hingga akhirnya takdir mempertemukannya dengan K.H. Achmad Showy. Ketika ayahnya menjodohkan mereka, Hj. Umi Tsani menerima dengan penuh ketulusan, dan pernikahan mereka pun menjadi awal dari sebuah perjalanan hidup yang penuh berkah. Dari ikatan suci tersebut, mereka dikaruniai 11 anak: Yukhanidz, Nu’ama Fitriyah, Abdur Rozzaq, Sri Niswati, Anis Aini, Achmad Imtihan, Nunik Dzuhriyati, Siti Syifa, Shofuro’, Mohammad Fadlan, dan Umi Fadhilati. Namun, cobaan hidup datang ketika Achmad Imtihan meninggal dunia saat berusia 10 tahun, dan Siti Syifa meninggal di usia yang lebih muda, 7 tahun. Meski begitu, semangat K.H. Achmad Showy dan Hj. Umi Tsani untuk mendidik anak-anaknya tetap teguh. “Keseluruhan putra-putrinya, kecuali yang meninggal, dipondokkan ke berbagai tempat—ada yang mondok di Kaliwungu, Buaran, Banyuputih Batang, Cirebon, dan Pacitan, Jawa Timur. Semoga ini menjadi amal jariyah beliau,” tutur Abdur Rozzaq, salah satu putranya, dengan penuh haru. Begitulah, perjuangan K.H. Achmad Showy tak hanya tercermin dalam ilmu yang beliau peroleh, tetapi juga dalam warisan yang beliau berikan kepada generasi penerusnya—sebuah legacy yang mengalir dari setiap langkah mereka.
Kiprah K.H. Achmad Showy di Masyarakat
Setelah bertahun-tahun menuntut ilmu, baik di dunia formal maupun nonformal, K.H. Achmad Showy merasa bahwa tugas utamanya kini adalah mengabdi dan berbagi ilmu dengan masyarakat desanya, Kebonrowopucang. Setiap malam setelah shalat Maghrib, rumah beliau menjadi tempat anak-anak desa untuk belajar membaca Al-Qur’an dan tajwid, sementara sesekali beliau mengajar di Madrasah Diniyah. Namun, pengajaran beliau tak hanya terbatas pada anak-anak kecil. Beliau juga mengajar para remaja dan orang dewasa dengan mengajarkan kitab-kitab klasik, yang paling terkenal di kalangan masyarakat adalah kitab Safinatun Najah—sebuah kitab yang menjelaskan dasar-dasar ilmu Fikih menurut Madzhab Syafi’i. Pengajaran ini dilaksanakan di mushola desa pada pagi, sore, atau malam hari, sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Namun, seiring berjalannya waktu, K.H. Achmad Showy merasa prihatin dengan kondisi kampungnya yang hanya memiliki satu mushola, yang letaknya pun terletak di ujung desa. Melihat kebutuhan masyarakat akan tempat ibadah yang lebih dekat dan memadai, beliau pun menggagas pembangunan mushola baru dekat dengan rumahnya. Dengan bantuan sang ayah dan dukungan dari masyarakat, akhirnya beliau berhasil mendirikan mushola yang kini dikenal dengan nama Mushola Sabilul Huda. Di mushola tersebut, beliau tidak hanya mengajar dan mendalami ilmu agama, tetapi juga menjadi imam dan khotib masjid, memberikan pencerahan bagi seluruh jamaah yang hadir. Inilah bentuk pengabdian K.H. Achmad Showy, yang tak hanya menuntut ilmu, tetapi juga menyalurkannya untuk kemaslahatan umat.

Selain mengajar ngaji di rumah dan mushola, K.H. Achmad Showy juga mengabdikan dirinya di dunia pendidikan formal. Beliau mengajar di Madrasah Awaliyah Nahdlatul Ulama (MANU), yang saat itu masih bernama SD atau MI di Kebonrowopucang. Pada tahun 1970-an, beliau mengambil langkah besar dengan mendaftar sebagai calon Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk posisi guru agama. Setelah melalui berbagai proses seleksi, beliau dinyatakan lolos dan akhirnya diberi tugas mengajar di MTS Salafiyah Syafi’iyah Proto hingga beliau mencapai masa pensiun.Namun, meski sudah mengajar di sekolah, semangat K.H. Achmad Showy untuk mengabdi pada masyarakat tak pernah pudar. Beliau tetap setia mulang ngaji di desanya, khususnya di mushola Sabilul Huda yang terletak dekat rumahnya. Pada masa itu, beliau adalah satu-satunya kyai di desa yang memiliki kemampuan untuk mengajar dan memberikan bimbingan agama, sehingga kehadirannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Bahkan di tengah kesibukan mengajar di sekolah, beliau selalu menyempatkan diri untuk melanjutkan pengabdiannya di desa, memberikan ilmu yang bermanfaat dan menuntun warganya dalam jalur kebenaran. Keikhlasan dan dedikasi beliau dalam mengabdi untuk umat menjadi teladan yang tak lekang oleh waktu.
Sekitar tahun 1998, di tengah pergolakan politik yang melanda Indonesia, hanya ada tiga partai politik yang dominan: Golkar (khusus untuk aparat pemerintah), PPP (khusus untuk umat Islam), dan PDI (untuk non-Muslim). Pada masa itu, K.H. Achmad Showy diminta untuk memilih salah satu partai, namun beliau menolak untuk terlibat dalam politik praktis. Namun, dalam situasi yang penuh tekanan tersebut, beliau dijemput paksa oleh aparat kepolisian dan dipaksa untuk menandatangani surat pernyataan mendukung partai Golkar di atas panggung pada pagi hari, disaksikan oleh banyak orang. Kejadian ini sempat mencoreng nama beliau, yang sebelumnya begitu dihormati dan disegani oleh masyarakat. Sebagai sosok yang sering dimintai pendapat dan dihormati, kejadian tersebut menjadi pukulan berat bagi beliau. Namun, meski nama beliau sempat tercoreng dan banyak orang mulai berpendapat negatif, K.H. Achmad Showy tidak membiarkan hal itu menghalangi perjuangannya. Beliau tetap teguh dalam menjalankan tugas mulia sebagai seorang pendidik dan guru agama. Tidak ada kata berhenti bagi beliau untuk terus mengajar dan mulang ngaji di desanya, di mushola Sabilul Huda, tempat yang menjadi pusat ilmu bagi masyarakat sekitar. Seiring berjalannya waktu, berita tentang kejadian tersebut semakin menghilang, dan keteguhan hati serta dedikasi beliau dalam mengabdi pada umat berhasil mengembalikan kehormatan dan kepercayaan masyarakat. K.H. Achmad Showy tetap menjadi sosok yang dihormati dan dicintai, karena keberanian dan integritasnya dalam mengajar dan memberikan bimbingan agama yang tulus tanpa mempedulikan cobaan yang datang.
Pada tahun 2000-an, K.H. Achmad Showy diangkat menjadi Rois Syuriah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Karangdadap, Kabupaten Pekalongan, sebuah amanah yang semakin memperkuat pengabdiannya kepada umat. Jasanya selama menjadi Syuriah sangat banyak seperti pada saat ada orang yang baru meninggal biasanya pada pagi harinya masyarakat akan ke kuburan untuk mendo’akan orang yang sudah meninggal tersebut di pemakamnya kemudian setelah selesai mendo’akan, ke rumah keluarga yang meninggal dan makan-makan atau sarapan disana, pak Showy merasa adat itu memberatkan keluarga yang meninggal (shohibul musibah) karena tak semua masyarakatnya mempunyai banyak uang atau makanan yang dapat dihidangkan akhirnya dibuatlah kebijakan agar tidak perlu memberikan hidangan setelah dari kuburan. Pada saat pengajian rutin di mushola biasanya makanan yang di bawa masyarakat akan di berikan kepada yang mengisi pengajian (Ustad atau Kyai), kemudian pak Showy mengubahnya agar makanan tersebut dibagikan kepada jama’ah yang mengikuti pengajian. Hingga saat ini kebijakan itu terus berjalan dan masyarakat merasakan manfaatnya.
Pada tahun 2003, meskipun beliau telah pensiun sebagai PNS, pihak MTS Salafiyah Syafi’iyah Proto meminta beliau untuk tetap mengajar, dan beliau pun melanjutkan tugas mulianya di sana hingga tahun 2007. K.H. Achmad Showy adalah sosok yang sangat sederhana. Beliau selalu menjaga sholat berjamaah, tak pernah meninggalkan rutinitas membaca Al-Qur’an setiap hari dengan target satu juz, serta membaca kitab Dala’il sebagai bagian dari dzikir dan ibadah harian. Dalam mengajar, beliau selalu ikhlas, tidak mengharap imbalan duniawi atau harta, namun lebih mengutamakan keberkahan ilmu yang dapat disebarkan kepada umat.Pada 01 Dzulhijjah 1432 Hijriyah, yang bertepatan dengan 28 Oktober 2011 Masehi, K.H. Achmad Showy berpulang ke rahmatullah. Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, sahabat, dan masyarakat yang telah merasakan manfaat dari ilmu dan kebijaksanaannya. Beliau dimakamkan di Dukuh Rowobulus Lor, Desa Kebonrowopucang, tepat di samping orangtuanya, K.H. Abdur Rozzaq dan Hj. Sri Qoinah—sebuah tempat yang penuh makna, di mana ketiga generasi pejuang ilmu agama ini bersatu kembali dalam kedamaian abadi.
Kontributor: Khayatun Nufus
Editor : Mohammad Syaifuddin
Views: 436








