Beranda Warta Ketua PC ISNU Kabupaten Pekalongan Jadi Dosen Tamu di UIN Jambi, Bahas...

Ketua PC ISNU Kabupaten Pekalongan Jadi Dosen Tamu di UIN Jambi, Bahas Tantangan Pendidik Era Digital

249
0

Pekalongan – Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Pekalongan, Dr. Moh. Nasrudin, M.Pd.I, menjadi dosen tamu dalam program Kuliah Tamu “Pengantar Ilmu Pendidikan” yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi. Acara yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis, 9 Oktober 2025, ini merupakan bagian dari kerja sama implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) antara UIN STS Jambi dan UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Dalam paparannya yang bertajuk “Menjadi Pendidik Transformatif di Era Digital”, Dr. Nasrudin yang juga merupakan Dosen di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, mengupas tantangan-tantangan yang dihadapi para pendidik di tengah era disrupsi. Ia menyoroti empat krisis utama yang mengintai para guru, yakni krisis otoritas, relevansi, perhatian, dan keteladanan.

“Di era ini, guru menghadapi tantangan serius. Murid bisa lebih percaya pada Google atau TikTok daripada gurunya (krisis otoritas), materi ajar bisa terasa kuno (krisis relevansi), rentang fokus siswa sangat pendek (krisis perhatian), dan sulitnya mencari figur panutan nyata (krisis keteladanan),” papar Dr. Nasrudin di hadapan para mahasiswa PAI UIN STS Jambi.

Menjawab tantangan tersebut, ia menegaskan bahwa misi seorang pendidik harus bergeser dari sekadar ‘mengajar’ (teaching) menjadi ‘mendidik’ (tarbiyah). Menurutnya, mengajar hanya berfokus pada transfer pengetahuan ke ranah kognitif, sementara mendidik bertujuan menyentuh hati untuk melakukan transformasi jiwa dan pembentukan karakter.

Dr. Nasrudin menekankan relevansi tiga pilar utama dalam pendidikan Islam untuk menjawab tantangan zaman, yaitu Ta’lim (transfer ilmu terstruktur), Tarbiyah (pengembangan potensi holistik), dan Ta’dib (pembentukan adab dan akhlak).

“Di era digital, pilar Ta’dib menjadi yang paling krusial. Adab adalah wadah bagi ilmu. Tanpa adab, ilmu bisa menjadi tidak berkah atau bahkan digunakan untuk keburukan. Inilah mengapa kita harus kembali pada prinsip ‘Adab dulu, baru ilmu’,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa secanggih apa pun teknologi, ada peran guru yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin. “Teknologi bisa menyajikan jutaan informasi, tapi hanya sentuhan manusiawi seorang guru yang bisa memberikan keteladanan (uswah), empati dan kasih sayang (rahmah), nasihat dari hati (mau’izhah), serta doa yang tulus untuk muridnya,” jelasnya.

Di akhir sesi, Dr. Nasrudin memberikan pesan penutup yang kuat bagi para calon pendidik. “Dunia tidak butuh lebih banyak orang pintar. Dunia butuh lebih banyak orang baik dan peduli. Jadilah pendidik yang melahirkan generasi seperti itu. Jadilah guru yang namanya bukan hanya terukir di sertifikat, tapi juga terukir dalam doa tulus murid-muridnya,” pungkasnya.

Kegiatan ini menunjukkan kontribusi aktif para akademisi sekaligus penggerak organisasi seperti ISNU dalam memperkuat diskursus pendidikan nasional, menjembatani kolaborasi antarperguruan tinggi, dan menegaskan kembali pentingnya pendidikan karakter di era digital.

Views: 58

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini