Pekalongan, NU Kota Santri — MI dan MTs Salafiyah NU Karanganyar menggelar In House Training (IHT) bagi tenaga pendidik dan kependidikan sebagai upaya memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam pembelajaran dan budaya madrasah.
Kegiatan berlangsung di Hotel Howard Johnson, Ahad (30/8/2026), mulai pukul 09.30 hingga sekitar pukul 13.15 WIB. IHT diikuti 70 peserta, terdiri atas 39 pendidik dan tenaga kependidikan MTs serta 31 peserta dari MI Salafiyah NU Karanganyar.
Hadir sebagai narasumber utama H. Shofar Sholahudin Bisri, M.Pd., Pengawas Sekolah Ahli Madya MA Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tegal sekaligus salah satu Tim Perumus Kurikulum Berbasis Cinta.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan H. Mukhammad Irham, M.Pd.I., Pengawas MTs H. Suyoto, S.Pd., M.S.I., M.Si., Pengawas MI Dra. H. Munifah, M.Pd.I., jajaran Pengurus Yayasan Madrasah Salafiyah, serta komite madrasah.
KBC Perlu Dihidupkan dalam Praktik Pembelajaran
Mewakili Kepala MI dan MTs Salafiyah NU Karanganyar, H. Khoeron, S.Pd., menyampaikan apresiasi kepada jajaran Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan, para pengawas, serta narasumber yang telah mendukung pelaksanaan IHT.
Ia mengatakan kegiatan tersebut penting untuk memperkuat implementasi berbagai pengetahuan yang sebelumnya telah diperoleh guru melalui pelatihan, termasuk melalui platform digital seperti aplikasi Pintar.
“Pelatihan yang sudah kita ikuti perlu diperkuat dengan implementasi nyata di lingkungan madrasah. Karena itu, IHT ini menjadi penting agar apa yang sudah dipelajari benar-benar dapat diterapkan dalam pembelajaran,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan Madrasah Salafiyah, Khoirul Huda, S.Pd., menegaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan merupakan tanggung jawab bersama.
Menurutnya, MI dan MTs Salafiyah NU Karanganyar saat ini mendidik sekitar 1.400 peserta didik yang membutuhkan pengelolaan pendidikan secara serius dan berkelanjutan.
“Sekitar 1.400 murid menjadi tanggung jawab kita bersama. Mereka harus dikelola dengan sebaik-baiknya agar menghasilkan output yang berkualitas serta memiliki karakter yang kuat, terutama dalam iman, akhlak, dan ilmu,” tuturnya.
Guru Harus Menjadi Teladan Panca Cinta
Mewakili jajaran pengawas madrasah, Dra. H. Munifah, M.Pd.I., mengajak seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan serius dan aktif berdiskusi.
Ia menekankan bahwa implementasi KBC tidak cukup hanya dilakukan melalui penyampaian materi kepada peserta didik. Guru sebagai pendidik sekaligus teladan harus terlebih dahulu menghidupkan nilai-nilai KBC dalam dirinya.
“Guru adalah teladan. Karena itu, Panca Cinta tidak cukup hanya disampaikan kepada peserta didik, tetapi harus terlebih dahulu diwujudkan oleh guru dalam kehidupan sehari-hari,” pesannya.
Menurutnya, keteladanan guru menjadi salah satu kunci agar nilai-nilai yang diajarkan di kelas tidak berhenti sebagai teori, tetapi dapat terlihat dalam perilaku sehari-hari di lingkungan madrasah.
Kemenag Dorong Digitalisasi Madrasah
IHT secara resmi dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan, H. Mukhammad Irham, M.Pd.I.
Dalam sambutannya, ia mengapresiasi komitmen MI dan MTs Salafiyah NU Karanganyar dalam meningkatkan kompetensi sumber daya manusia madrasah melalui IHT. Menurutnya, pelaksanaan kegiatan di tengah kebijakan efisiensi anggaran menunjukkan kesungguhan madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Ia juga mendorong madrasah untuk semakin serius mengembangkan digitalisasi pembelajaran. Menurutnya, pemanfaatan teknologi dapat membuat pembelajaran lebih mudah, fleksibel, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Digitalisasi, lanjutnya, juga perlu dimanfaatkan untuk memperkuat publikasi dan pengenalan madrasah kepada masyarakat. Aktivitas madrasah yang dikomunikasikan secara aktif melalui media sosial dapat membantu masyarakat mengetahui berbagai program, kegiatan, serta keunggulan yang dimiliki.
Selain persoalan digitalisasi, Irham mengingatkan para guru agar tidak terjebak dalam gaya hidup hedonis. Sebaliknya, guru diharapkan menjalankan tugas dengan penuh keikhlasan dan lebih mengedepankan orientasi akhirat.
Ia mengaitkan pesan tersebut dengan motto Kementerian Agama, “Ikhlas Beramal.”
“Peningkatan mutu pendidikan yang dilakukan dengan keikhlasan tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta didik dan madrasah, tetapi juga diharapkan membawa keberkahan bagi Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan,” pesannya.
Memahami Cinta sebagai Dasar Pendidikan
Memasuki sesi inti, H. Shofar Sholahudin Bisri mengajak peserta memahami konsep cinta yang menjadi fondasi Kurikulum Berbasis Cinta.
Ia membedakan antara cinta romantis dan cinta hakiki. Menurutnya, cinta romantis dapat memiliki dampak positif maupun negatif, sedangkan cinta hakiki yang menjadi landasan KBC diarahkan pada nilai-nilai kebaikan.
Dalam implementasinya di madrasah, KBC dapat diterapkan melalui empat ruang utama, yakni intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, dan budaya madrasah.
Adapun pintu masuk implementasinya adalah Panca Cinta, yaitu cinta Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta alam, cinta diri dan orang lain, serta cinta tanah air.
Shofar menekankan bahwa pembelajaran berbasis cinta tidak berhenti pada penguasaan materi pelajaran. Guru perlu mengajak peserta didik memahami manfaat ilmu, menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari, serta mendorong mereka mengimplementasikan pengetahuan tersebut secara bertanggung jawab.
“Pembelajaran jangan berhenti pada penguasaan materi. Peserta didik perlu memahami manfaat ilmu dan mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan,” jelasnya.
Menurut Shofar, proses pendidikan tersebut harus dibangun melalui kesadaran, bukan semata-mata tekanan. Peserta didik idealnya melakukan kebaikan karena memahami dan mencintai nilai yang dipelajarinya, bukan hanya karena takut terhadap hukuman.
Selain menjelaskan konsep, Shofar juga memberikan contoh dan praktik bagaimana Panca Cinta dapat diintegrasikan dalam pembelajaran, kegiatan kokurikuler, serta budaya madrasah.
Dari Konsep Menuju Budaya Madrasah
Penyampaian materi berlangsung interaktif. Shofar menggunakan berbagai contoh yang dekat dengan aktivitas keseharian guru sehingga peserta tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga gambaran praktis mengenai penerapan KBC.
Para peserta mengikuti kegiatan dengan antusias. Diskusi dan praktik yang diberikan menjadi bagian penting dalam membantu guru menerjemahkan nilai-nilai Panca Cinta ke dalam kegiatan pembelajaran.
Melalui IHT tersebut, MI dan MTs Salafiyah NU Karanganyar menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan.
Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan tidak berhenti sebagai konsep dalam dokumen pembelajaran. Lebih dari itu, KBC diharapkan benar-benar hadir dalam pembelajaran, kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, serta budaya madrasah, sehingga nilai cinta dapat tumbuh menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan peserta didik.
Kontributor: Masithoh
Editor: K. Anwar
Views: 21








