Beranda Warta Jamaah Haji KBIHU An-Nahdliyyah Tinggalkan Madinah, Bersiap Laksanakan Umrah Wajib di Makkah

Jamaah Haji KBIHU An-Nahdliyyah Tinggalkan Madinah, Bersiap Laksanakan Umrah Wajib di Makkah

417
0
Jamaah Haji KBIHU An Nahdliyah Bersiap Bertolak ke Kota Makkah untuk melaksanakan Umroh Wajib dan rangkaian ibadah haji di Kota Makkah. (Dok. LTNNU)

MADINAH, nukotasantri.or.id – Setelah menjalani rangkaian ibadah selama sembilan hari di Kota Madinah, Jamaah Haji KBIHU An-Nahdliyyah resmi mengakhiri masa tinggal mereka pada Kamis, 15 Mei 2025. Hari ini, para jamaah diberangkatkan menuju Kota Makkah untuk melanjutkan ibadah, sekaligus melaksanakan umrah wajib sebagai bagian dari rangkaian haji.

Koordinator Tim Pembimbing Haji KBIHU An-Nahdliyyah, KH Muchamad Nur Alif, melaporkan bahwa masa tinggal jamaah di Madinah berlangsung sejak 7 hingga 15 Mei 2025. Selama di kota suci tersebut, jamaah secara rutin melaksanakan salat berjamaah di Masjid Nabawi, melakukan ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW (raudlah), serta mengunjungi sejumlah tempat bersejarah di sekitar Masjid Nabawi dan kawasan Kota Madinah.

“Hari ini jamaah akan melakukan perjalanan menuju Makkah dan berhenti terlebih dahulu di Bir Ali untuk mengambil miqat dan melaksanakan niat umrah wajib,” ujar KH Muchamad Nur Alif dalam laporan yang diterima redaksi nukotasantri.or.id.

Ia juga menuturkan bahwa seluruh layanan akomodasi, baik penginapan di Madinah dan Makkah, transportasi antar kota, hingga fasilitas maktab di Arafah dan Mina ditentukan oleh pihak syarikah (perusahaan layanan haji di Arab Saudi) yang bekerja sama dengan pemerintah. Namun, tahun ini terdapat kendala teknis yang cukup signifikan akibat pembagian layanan syarikah yang tidak merata dan membingungkan.

“Ada delapan syarikah yang melayani jamaah Indonesia tahun ini. Akibatnya, dalam satu kloter bisa terdapat jamaah yang dilayani oleh syarikah yang berbeda-beda,” jelas KH Muchamad Nur Alif. Bahkan, dalam beberapa kasus, suami dan istri yang tergabung dalam satu kloter harus berpisah karena berbeda layanan syarikah.

Kondisi ini tidak hanya menimbulkan kebingungan bagi jamaah, namun juga merepotkan para pembimbing haji KBIHU serta petugas lapangan. Koordinasi antarjamaah menjadi tidak optimal, dan pelayanan terhadap jamaah lanjut usia atau yang memiliki kebutuhan khusus pun menjadi terhambat.

Ketua KBIHU An-Nahdliyyah, H. Mansur Ahmad, menyampaikan keprihatinannya atas situasi ini. Ia berharap ke depan Kementerian Agama RI dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem layanan syarikah agar permasalahan serupa tidak terulang.

“Diperlukan negosiasi ulang antara pemerintah Indonesia dan pihak terkait di Arab Saudi, agar pembagian layanan syarikah dapat disesuaikan dan lebih berpihak pada kemudahan dan kenyamanan jamaah,” ujar H. Mansur Ahmad.

Di tengah dinamika tersebut, KBIHU An-Nahdliyyah tetap mengimbau kepada seluruh keluarga dan masyarakat untuk terus mendoakan keselamatan dan kelancaran para jamaah. “Mohon doa restu dari semua pihak agar seluruh jamaah KBIHU An-Nahdliyyah senantiasa diberi kemudahan dalam menjalankan ibadah haji di tanah suci,” pungkas KH Muchamad Nur Alif.

Sebagai informasi, pelaksanaan ibadah haji tahun ini diikuti oleh ribuan jamaah dari Indonesia yang tersebar dalam berbagai kloter. Jamaah dari KBIHU An-Nahdliyyah menjadi bagian dari gelombang pertama yang diberangkatkan ke tanah suci dan telah memulai tahapan ibadah sejak awal Mei lalu. Setelah umrah wajib di Makkah, para jamaah akan melanjutkan persiapan menuju puncak ibadah haji, yakni wukuf di Arafah.

Kontributor: KH. Muchammad Nur Alif

Penulis Berita: Syaikhul Alim

Views: 150

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini