
Oleh: Hasan Fauzi, S.Pd.I
Pembelajaran matematika di Indonesia mulai diperkenalkan sejak usia dini, namun seringkali terasa terpisah dari realitas budaya dan kehidupan sehari-hari. Meskipun matematika memiliki akar kuat dalam berbagai aspek budaya, pendekatan pembelajaran di sekolah cenderung formal dan teoritis. Sebagian masyarakat mungkin tidak pernah mengikuti pembelajaran matematika secara formal, namun konsep-konsep matematika secara tidak langsung telah terwujud dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sayangnya, kompleksitas matematika dan pendekatan formal ini dapat menciptakan pandangan rumit dan persepsi negatif terhadap mata pelajaran tersebut.
Pandangan rumit terhadap matematika tidak muncul tanpa alasan. Mempelajari matematika sejatinya berarti memahami konsep-konsep yang bersifat abstrak. Banyak siswa mengalami kesulitan dalam matematika karena merasa takut dan cemas menghadapi soal-soal yang dianggap sulit. Mereka berfikir bahwa matematika itu rumit dan sulit untuk dimengerti. Konsep pembelajaran matematika di sekolah, yang seringkali diajarkan secara formal dan teoritis, mempengaruhi minat siswa dan dapat menyebabkan kebosanan, terutama jika materi sulit diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk mengatasi tantangan ini, perlu dirancang metode pembelajaran matematika yang lebih kontekstual, menyenangkan, dan terhubung dengan budaya setempat. Hubungan antara matematika dan budaya disebut dengan etnomatematika. Menurut Hasan Fauzi guru matematika, etnomatematika dapat didefinisikan sebagai matematika yang berkembang dalam suatu budaya, mencerminkan perilaku khusus yang diterapkan oleh kelompok masyarakat tertentu dalam aktivitas matematika.
Integrasi etnomatematika melalui permainan tradisional menjadi alternatif menarik untuk meningkatkan minat siswa terhadap matematika. Karena permainan tradisional tidak hanya mengandung unsur kesenangan dan budaya, tetapi juga melatih keterampilan berpikir dan berhitung. Salah satu pilihan permainan tradisional yang menarik adalah permainan tradisional gedrik. Permainan gedrik
sangat popular di tahun 80 hingga 90-an. Meskipun demikian, permainan tradisional seperti gedrik semakin terlupakan dan penting untuk mendukung pemulihannya sebagai alat pembelajaran yang berharga. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penting untuk diadakan penelitian tentang kaitan matematika dengan permainan tradisional gedrik. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengeksplorasi etnomatematika yang terdapat pada permainan tradisional gedrik.
Penelitian ini menggunakan permainan tradisional gedrik, dengan jenis penelitian etnografi, yang bertujuan untuk mendapatkan deskripsi dan analisis mendalam tentang kebudayaan pada permainan tradisional gedrik yang berkaitan dengan matematika di sekolah. Peneliti berperan sebagai human instrument dan hadir secara langsung dalam pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini dilakukan di MI Roudlotul Huda Terban karena permainan tradisional gedrik menjadi kegiatan yang sering dimainkan oleh anak-anak di lingkungan MI Roudlotul Huda Terban tersebut, Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dalam pemilihan subjek. Subjek observasi terdiri dari anak-anak yang memenuhi kriteria memahami aturan permainan gedrik, sedang memainkannya, dan berusia anak-anak. Subjek wawancara melibatkan seorang ahli relawan komunitas permainan tradisional dan sesepuh Desa Jabon yang memiliki pengalaman memainkan gedrik dan memiliki pemahaman tentang aturan serta strategi permainan. Metode penelitian ini menggunakan instrumen observasi dan wawancara yang dirancang berdasarkan enam aktivitas matematika fundamental. Validitas instrumen telah diverifikasi melalui proses validasi oleh validator yang memiliki pengetahuan mendalam dalam bidang tersebut. Objek penelitian berfokus pada aturan main dari permainan gedrik itu sendiri. Dari kegiatan pengumpulan data, peneliti akan memperoleh data yang berkaitan dengan aktivitas matematika dan unsur-unsur matematika yang terdapat pada permainan tradisional gedrik. Analisis data dilakukan secara terus menerus dengan teknik kondensasi data, pengelompokan data, dan penarikan simpulan. Keabsahan data diperiksa melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber melibatkan penggunaan beberapa sumber data atau perspektif untuk mengumpulkan informasi tentang permainan tradisional gedrik, sedangkan triangulasi teknik melibatkan penggunaan beberapa metode pengumpulan data yang berbeda. Dengan kedua metode tersebut peneliti menemukan kesesuaian dan konsistensi pada penelitian, sehingga dapat dipastikan bahwa data yang diperoleh memberikan gambaran yang lebih lengkap dan akurat terkait aktivitas matematika dan unsur-unsur matematika yang terdapat pada permainan tradisional gedrik. Dengan pendekatan ini pembelajaran di MI Roudlotul Huda Terban menjadi menarik dan menyenangkan siswa-siswinya khususnya mata pelajaran Matematika yang bisanya dianggap siswa sangat sulit dan membosankan.
Views: 20







