Beranda Pendidikan MI Sullam Taufiq Kajen Perkuat Sinergi Keluarga dan Madrasah Lewat Seminar Parenting

MI Sullam Taufiq Kajen Perkuat Sinergi Keluarga dan Madrasah Lewat Seminar Parenting

84
0
Seminar Parenting yang digelar MI Sullam Taufiq Kajen pada Sabtu (3/10/2026) di Gedung MWCNU Kajen, Jalan Pahlawan No. 4 Rowolaku Kajen (Dok. MI Sullam Taufiq)

KAJEN, NU Kota Santri – MI Sullam Taufiq Kajen menggelar Seminar Parenting bertema “Madrasah Pertama adalah Rumah: Menguatkan Peran Orangtua dalam Pengasuhan dan Pendidikan Anak” di Gedung MWCNU Kajen, Jalan Pahlawan No. 4 Rowolaku, Kajen, Kabupaten Pekalongan, Sabtu (3/10/2026).

Kegiatan yang mengusung subtema “Kolaborasi Keluarga dan Madrasah dalam Membangun Kebiasaan Baik Anak” tersebut diikuti segenap dewan guru serta orangtua dan wali murid MI Sullam Taufiq dari kelas 1 hingga kelas 6. Seminar menghadirkan M. Niamil Hida, S.H.I., fasilitator Keluarga Kita sekaligus pengembang modul pendidikan inklusif Kementerian Agama. Dalam materi yang disampaikan, Niamil menekankan pentingnya menempatkan rumah sebagai ruang pendidikan pertama bagi anak.

Kepala MI Sullam Taufiq Kajen, M. Syaikhul Alim, S.Ag., M.S.I., mengatakan kegiatan parenting memiliki nilai penting dalam membangun sinergi, kolaborasi, dan kerja sama yang positif antara madrasah dengan orangtua atau keluarga.

“Sebaik apa pun program pendidikan yang dicanangkan oleh madrasah, tidak akan berjalan dengan baik dan optimal tanpa dukungan dan sinergi dari orangtua atau wali murid. Dukungan orangtua merupakan salah satu prasyarat penting tercapainya target dan suksesnya program madrasah,” tandasnya.

Menurut Syaikhul Alim, proses pendidikan anak tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada madrasah. Waktu anak bersama keluarga jauh lebih panjang sehingga pembentukan kebiasaan, karakter, kedisiplinan, dan nilai-nilai keagamaan perlu terus dilanjutkan di rumah.

Pandangan tersebut selaras dengan materi yang disampaikan Niamil Hida. Ia mengajak para orangtua untuk kembali menyadari bahwa meskipun anak telah memasuki usia sekolah, pendidikan di rumah tetap memegang peran utama. Orangtua, menurutnya, memiliki peran besar dalam menentukan arah tumbuh kembang anak.

Niamil juga mengingatkan bahwa setiap orangtua membawa pengalaman pengasuhan dari generasi sebelumnya. Pola tersebut sering kali diwariskan tanpa disadari sehingga perlu ditinjau kembali apakah masih sesuai dengan kebutuhan anak pada masa sekarang.

Ia mengajak peserta untuk memilah pola pengasuhan yang tetap layak dipertahankan, seperti membiasakan ibadah bersama, hidup sederhana, dan bergotong royong. Sementara kebiasaan membentak, membandingkan anak, menggunakan hukuman fisik, serta tidak mendengarkan anak perlu ditinggalkan.

Dalam pengasuhan sehari-hari, lanjut Niamil, orangtua juga perlu belajar mengelola respons ketika menghadapi anak yang rewel, melawan, atau melakukan kesalahan. Saat emosi terpancing, orangtua terkadang bereaksi dengan membentak, mengkritik, mengancam, menarik diri, atau justru mengalah secara berlebihan. Karena itu, kemampuan berhenti sejenak, menyadari emosi, lalu kembali berkomunikasi dengan tenang menjadi keterampilan penting dalam menjaga relasi dengan anak.

“Anak belajar mengelola emosi dari melihat orangtuanya,” demikian salah satu pesan yang ditekankan dalam materi seminar. Orangtua dianjurkan menyampaikan perasaan dengan tenang, memberi jeda ketika emosi meningkat, kemudian kembali berdialog setelah kondisi lebih terkendali.

Niamil juga mengenalkan pola komunikasi yang lebih empatik kepada anak. Alih-alih memberi cap seperti “malas” atau langsung menyalahkan, orangtua disarankan bertanya mengenai kesulitan yang sedang dihadapi anak. Dalam situasi tertentu, orangtua dapat menggunakan I-Message untuk mengungkapkan perasaan dan harapan tanpa menyerang pribadi anak.

Lebih lanjut, ia menjelaskan tiga peran utama orangtua, yakni sebagai pendidik, pendamping, dan penghubung. Sebagai pendidik, orangtua menanamkan iman dan adab melalui keteladanan. Sebagai pendamping, orangtua hadir, mendengar, dan menanggapi perasaan anak. Adapun sebagai penghubung, orangtua berperan menyatukan informasi antara rumah dan madrasah.

Sinergi tersebut, menurut Niamil, perlu dibangun melalui komunikasi yang empatik antara orangtua dan guru. Kekhawatiran yang muncul terhadap perkembangan anak sebaiknya disampaikan secara langsung dengan tetap saling memahami kebutuhan masing-masing. Pemahaman antara guru dan orangtua menjadi modal penting untuk memahami kebutuhan anak secara lebih utuh.

Sementara itu, Nunuk Yuli Mulyati, S.Pd.SD., yang mewakili Ketua Yayasan Sullama Taufiq, mengapresiasi penyelenggaraan seminar parenting tersebut. Menurutnya, Yayasan Sullama Taufiq terus mendorong peningkatan mutu pendidikan dengan memperhatikan capaian akademis sekaligus pembentukan karakter peserta didik.

Ia berharap komunikasi antara keluarga dan madrasah semakin kuat sehingga kebiasaan positif yang dibangun di sekolah dapat memperoleh dukungan yang sama di rumah. Dengan demikian, anak mendapatkan lingkungan pendidikan yang selaras dan berkesinambungan.

Selain seminar parenting, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan untuk sosialisasi layanan pembayaran institusi oleh Bank Syariah Indonesia Kantor Cabang Pembantu Kajen. Sosialisasi dilakukan sebagai bagian dari upaya memberikan pemahaman kepada orangtua mengenai layanan transaksi pembayaran institusi yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan administrasi madrasah.

Sepanjang kegiatan, peserta tampak antusias mengikuti pemaparan narasumber. Sesi tanya jawab berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan seputar pola komunikasi dengan anak, pengelolaan emosi orangtua, pembentukan kebiasaan positif, serta cara menyelaraskan pola pendidikan di rumah dan di madrasah.

Melalui seminar tersebut, MI Sullam Taufiq Kajen berharap terbangun kesadaran bersama bahwa keberhasilan pendidikan anak memerlukan keterlibatan aktif keluarga dan madrasah. Kolaborasi yang kuat diharapkan mampu menciptakan pola pengasuhan yang lebih hangat, konsisten, dan sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang anak.

Kontributor: Kharis Zakariya

Editor: Syaikhul Alim

Views: 43

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini