Beranda Warta Meneguhkan Keutuhan Jam’iyyah: Musyawarah Kubro Lirboyo Serukan Supremasi Hukum dan Kemaslahatan NU

Meneguhkan Keutuhan Jam’iyyah: Musyawarah Kubro Lirboyo Serukan Supremasi Hukum dan Kemaslahatan NU

515
0
Delegasi Kabupaten Pekalongan dalam Musyawarah Kubro yang digelar Pondok Pesantren Lirboyo Ahad (21/12/2025) (Dok. LTNNU)

KEDIRI, nukotasantri.or.id – Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, menjadi saksi sejarah berkumpulnya para pilar utama Nahdlatul Ulama dalam agenda Musyawarah Kubro bertajuk “Meneguhkan Keutuhan Jam’iyyah NU” pada Ahad (21/12/2025). Meski dipersiapkan dalam waktu yang sangat singkat, yakni hanya tiga hari sebelum pelaksanaan, forum ini berhasil menghadirkan lebih dari 500 peserta secara luring serta 100 peserta lainnya yang tersambung melalui platform daring. Para peserta tersebut merupakan representasi resmi dari berbagai Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dari seluruh penjuru Indonesia, hingga Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) di berbagai belahan dunia.

Di antara ratusan delegasi yang hadir, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pekalongan turut mengirimkan delegasi lengkapnya untuk mengawal jalannya musyawarah. Hadir langsung di lokasi acara adalah Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Pekalongan, KH. Baihaqi Anwar, yang didampingi oleh Katib Syuriyah, KH. Ahmad Muzaki. Dari jajaran Tanfidziyah, tampak hadir Ketua PCNU Kabupaten Pekalongan, KH. Muslikh Khudlori, bersama Sekretaris H. Lukman Hakim dan Bendahara H. Abdurrohim. Kehadiran jajaran inti pengurus ini menegaskan komitmen PCNU Kabupaten Pekalongan dalam menjaga stabilitas dan marwah organisasi di tingkat nasional.

Rangkaian acara khidmat ini diawali dengan sesi doa istighosah yang dipimpin langsung oleh KH. Abdullah Kafa Bihi Mahrus. Lantunan doa ini menjadi fondasi spiritual sebelum memasuki inti pembahasan yang krusial bagi masa depan organisasi. Memasuki sesi kedua, dinamika organisasi terlihat sangat kental saat forum mulai menyerap aspirasi dari para utusan daerah dan luar negeri. Dipandu oleh KH. Ubaidillah Shodaqoh, rapat penyerapan aspirasi ini berlangsung dinamis dan demokratis. Sementara itu, di lokasi yang terpisah namun dalam waktu yang bersamaan, para Mustasyar PBNU bersama jajaran Masayikh menggelar rapat tertutup untuk merumuskan langkah-langkah strategis organisasi.

Puncak dari rangkaian acara ini terjadi pada sesi ketiga, saat seluruh aspirasi yang telah dikerucutkan dari para utusan wilayah dan cabang disampaikan langsung di hadapan para ulama sepuh. Hadir dalam sesi penting ini KH. Anwar Mansur, KH. Nurul Huda Djazuli, KH. Ali Akbar Marbun dari Sumatera Utara, KH. Moh. Hasib Wahab Chasbullah, KH. Abdullah Kafa Bihi Mahrus, KH. Said Aqil Siradj, serta KH. Abdul Ghofur Maimoen. Turut menyimak secara daring, KH. Ma’ruf Amin memberikan perhatian penuh pada butir-butir aspirasi yang diajukan oleh para pengurus tingkat basis tersebut.

Dalam arahannya, KH. Said Aqil Siradj menegaskan pentingnya refleksi bagi setiap kader dan pengurus organisasi. Beliau menyatakan bahwa seluruh pengurus Nahdlatul Ulama di setiap tingkatan harus memiliki keberanian untuk ber-muhasabah diri sebelum langkah mereka di-muhasabah atau dievaluasi oleh pihak lain. Lebih lanjut, Kiai Said menekankan agar organisasi kembali pada komitmen awal untuk menjunjung tinggi supremasi hukum nidhom berjam’iyyah. “Kita harus menghormati nasihat para Mustasyar sebagai kompas moral dalam menjalankan organisasi ini,” tegasnya di hadapan ratusan peserta yang hadir.

Senada dengan hal tersebut, KH. Ma’ruf Amin yang memberikan arahan secara virtual memberikan apresiasi tinggi terhadap hasil musyawarah ini. Menurutnya, kesimpulan yang lahir dari aspirasi para peserta Musyawarah Kubro adalah sebuah langkah yang tepat dan fundamental bagi kelangsungan organisasi. Beliau menilai bahwa setiap keputusan yang diambil telah mengedepankan prinsip kemaslahatan jam’iyyah di atas kepentingan personal maupun kelompok. Prinsip ini dianggap sebagai kunci utama dalam meredam gejolak dan menjaga marwah NU di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

Di sisi lain, respons positif juga datang dari KH. Yahya Cholil Staquf. Dalam sesi terpisah, beliau menegaskan keterbukaannya terhadap segala bentuk klarifikasi demi menjaga keutuhan organisasi. Gus Yahya menyampaikan bahwa sejak awal dirinya sangat terbuka untuk mengklarifikasi berbagai tuduhan dengan menghadirkan bukti serta saksi yang sah. Baginya, jalan islah atau perdamaian selalu menjadi tawaran utama sejak pertama kali konflik muncul ke permukaan. Beliau juga menyatakan sikap taslim atau tunduk sepenuhnya terhadap kesimpulan aspirasi peserta Musyawarah Kubro serta mufakat yang dihasilkan oleh para Mustasyar dan Masayikh.

Sekretaris PCNU Kabupaten Pekalongan, H. Lukman Hakim, menyampaikan bahwa kehadiran delegasi dari Kabupaten Pekalongan merupakan mandat untuk memastikan aspirasi warga Nahdliyin di tingkat cabang tersampaikan dengan baik. Menurut Lukman, suasana musyawarah berlangsung dengan penuh kekeluargaan namun tetap dalam koridor organisatoris yang ketat. Penyelenggaraan yang dipersiapkan secara singkat ini justru membuktikan soliditas luar biasa di kalangan pesantren dan pengurus wilayah dalam merespons dinamika internal PBNU demi menjaga martabat para masayikh.

Rangkaian Musyawarah Kubro ini akhirnya ditutup dengan doa yang sangat menyentuh hati, dipimpin oleh KH. Nurul Huda Djazuli dan KH. Anwar Mansur. Doa tersebut menjadi penutup sekaligus harapan besar agar segala keputusan yang diambil dalam forum di Lirboyo ini menjadi titik awal bagi pemulihan kekuatan organisasi secara menyeluruh. Dengan berakhirnya acara ini, Nahdlatul Ulama diharapkan kembali pada khittah sebagai organisasi yang solid, tertib hukum, dan selalu mengikuti bimbingan para ulama sepuh demi kemaslahatan umat dan bangsa.

Kontributor: H. Lukman Hakim (Sekretaris PCNU Kab. Pekalongan)

Editor: Syaikhul Alim

Views: 127

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini