Matahari gurun menyengat begitu terik, membakar hamparan pasir yang membentang luas sejauh mata memandang. Di tengah padang tandus itu, seorang lelaki tua berjalan tertatih, melawan debu yang berputar diterpa angin kering. Ia adalah Ibrahim al-Khawwas, seorang ulama sufi yang telah menempuh perjalanan panjang untuk menunaikan ibadah haji. Namun, di tengah perjalanan, ia terpisah dari rombongan dan kini harus mencari jalan sendiri menuju Baitullah.
Saat tubuhnya mulai lelah dan langkahnya terasa berat, ia pun bersandar pada sebuah batu besar untuk beristirahat. Mata tuanya terpejam sejenak, membiarkan lelahnya meresap ke dalam tanah. Namun, begitu ia membuka mata, sebuah pemandangan tak biasa menyambutnya. Seorang pemuda, masih belia, berdiri tak jauh darinya. Wajahnya bersih dan bercahaya, sorot matanya penuh ketenangan, seolah tak terusik oleh panasnya gurun yang membakar kulit.
Ibrahim al-Khawwas menatap pemuda itu dengan penuh rasa ingin tahu. “Assalamu’alaikum,” sapa Ibrahim.
Tanpa ragu, pemuda itu menjawab dengan senyum yang lembut, “Wa’alaikumussalam, wahai Ibrahim.”
Ibrahim terkejut. Bagaimana mungkin pemuda yang tak dikenalnya ini mengetahui namanya? Dengan penuh keheranan, ia bertanya, “Bagaimana engkau bisa tahu namaku, wahai anak muda?”
Pemuda itu tersenyum. “Sejak aku mengenal Allah, aku tidak pernah terpisah dari-Nya. Maka, Dia mengenalkanku kepada siapa saja yang juga mencintai-Nya.”
Jawaban itu menggugah hati Ibrahim. Ada sesuatu yang berbeda dari pemuda ini. “Apa yang membawamu ke padang pasir ini? Bukankah perjalanan ini penuh bahaya?” tanyanya dengan nada penuh kepedulian.
Pemuda itu mengangkat wajahnya ke langit, matanya menerawang dengan penuh kerinduan. “Aku berjalan bukan untuk mencari sesuatu di dunia ini. Aku berjalan hanya untuk-Nya. Tidak ada yang lebih aku cintai selain Allah. Aku tak butuh teman selain Dia, dan aku telah menyerahkan seluruh hidupku kepada-Nya.”
Ibrahim semakin kagum. “Bagaimana engkau bertahan di tengah panasnya gurun ini? Dari mana engkau mendapatkan makanan dan minuman?”
Pemuda itu tersenyum. “Kekasihku telah menanggung segalanya. Aku tidak pernah khawatir, karena Dia selalu mencukupiku.”
Ibrahim menatapnya lekat-lekat. Pemuda itu tampak begitu tenang, seolah tidak terusik oleh kerasnya perjalanan yang ia tempuh. Tanpa sadar, hatinya dipenuhi rasa haru dan kagum.
Pemuda itu kemudian bersyair dengan penuh perasaan:
Siapakah yang dapat menakut-nakutiku dengan luasnya gurun ini? Aku berjalan, bukan untuk dunia, tapi menuju Kekasihku. Rinduku kepada-Nya menuntunku, hingga aku tak peduli akan panas atau dahaga. Aku mengisi kelaparan dengan mengingat-Nya, dan kehausanku sirna dengan melantunkan pujian untuk-Nya.
Ibrahim terdiam. Ia tidak menyangka bahwa pemuda yang masih begitu muda ini telah mencapai tingkat cinta kepada Allah yang begitu mendalam. Saat ia bertanya usianya, pemuda itu menjawab dengan tenang, “Aku baru dua belas tahun.”
Setelah percakapan yang begitu menggetarkan hati, pemuda itu mempersilakan Ibrahim untuk beristirahat. Dengan lembut, ia mengangkat tangan dan berdoa. Tak lama kemudian, Ibrahim merasakan kantuk yang begitu dalam. Ketika ia terbangun, ia telah kembali bersama rombongannya. Seolah pemuda itu telah menghilang begitu saja.
Namun, pertemuan mereka tidak berhenti di situ.
Sesampainya di Baitullah, Ibrahim melihat pemuda itu berdiri di depan Kakbah, kedua tangannya erat memegang kain suci yang menyelubungi rumah Allah. Air matanya mengalir deras. Ia berdoa dengan penuh kerinduan dan kepasrahan.
“Ya Allah, aku datang kepada-Mu dengan penuh cinta dan kerinduan. Aku telah mencari-Mu sejak aku belum mengenal arti cinta. Engkau adalah tujuan akhir perjalananku. Jika ajalku tiba, izinkan aku berpulang dalam keadaan mencintai-Mu.”
Setelah itu, pemuda itu bersujud, begitu lama dan begitu khusyuk. Ibrahim mendekatinya, ingin membangunkannya. Namun, saat ia menyentuh bahunya, tubuh pemuda itu tak lagi bergerak. Ia telah kembali kepada Rabb yang begitu ia cintai.
Namun, keajaiban belum berakhir. Ketika Ibrahim hendak mengurus jasad pemuda itu, tiba-tiba tubuhnya lenyap. Allah sendiri yang telah mengurus penguburannya, sebagai penghormatan bagi hamba yang begitu mencintai-Nya.
Pelajaran Moral dari Kisah Ini
Cinta Sejati kepada Allah
Pemuda dalam kisah ini menunjukkan bahwa cinta kepada Allah adalah cinta yang paling hakiki. Ia tidak memerlukan dunia, karena hatinya telah dipenuhi dengan rindu kepada Sang Pencipta.
Tawakal dan Keyakinan Penuh
Kepercayaan penuh kepada Allah akan menjadikan seseorang tenang dalam menghadapi kehidupan. Seperti pemuda itu yang tidak pernah mengkhawatirkan makan, minum, atau keselamatannya karena ia yakin Allah telah mengatur segalanya.
Keikhlasan dalam Ibadah
Pemuda ini tidak hanya beribadah, tetapi ia benar-benar menghayati ibadahnya dengan penuh keikhlasan. Ia menghadap Allah bukan untuk dunia, tetapi murni karena cinta.
Hidup dalam Kesederhanaan, Mati dalam Kemuliaan
Meski hidupnya sederhana dan penuh pengorbanan, pemuda ini mendapatkan kemuliaan di akhir hidupnya. Bahkan, Allah sendiri yang mengurus penguburannya sebagai bentuk penghormatan bagi hamba yang mencintai-Nya.
Penulis: Syaikhul Alim
Views: 166








