Beranda Tokoh “Sang Ulama Penjaga Pelita: Riwayat Panjang Perjuangan KH. Chumaedi dari Kedungrandu untuk...

“Sang Ulama Penjaga Pelita: Riwayat Panjang Perjuangan KH. Chumaedi dari Kedungrandu untuk Umat dan NU”

390
0

Di sebuah sudut Pekalongan, tepatnya di Dukuh Kedungrandu, Desa Getas, Wonopringgo, pada 29 Desember 1920 M/18 Rabi’ul Awwal 1339 H, lahirlah seorang anak desa yang kelak menjadi pelita bagi ribuan umat. Anak itu diberi nama Chumaedi, putra dari Tasa’an, seorang petani sederhana yang hidup dengan kesahajaan dan keikhlasan. Dari keluarganya yang kecil, beliau tumbuh bersama seorang kakak perempuan, Hj. Siti Khodijah, dan sedini itulah benih kesalehan dan ketekunan mulai terlihat.

Takdir kemudian mempertemukan beliau dengan H. Syafi’i, sosok yang menjadi ayah angkat dan membuka jalan besar dalam kehidupannya. Ketika sebagian anak seusianya memilih bekerja atau menikah setelah menamatkan sekolah dasar, KH. Chumaedi justru didorong untuk menuntut ilmu agama. “Agama itu nomor satu,” begitu pesan yang terus dikenang keluarga. Dari pesan itu pula, perjalanan panjang sang ulama dimulai.

Menuntut Ilmu ke Tebuireng: Perjalanan Spiritual yang Membentuk Watak Ulama

Atas dorongan H. Syafi’i, KH. Chumaedi berangkat menuntut ilmu ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, salah satu pusat pendidikan Islam terkemuka di Indonesia. Perjalanan dari Pekalongan ke Jombang pada masa itu bukan perkara mudah; pondok jauh dari kampung halaman, transportasi terbatas, dan santri dari daerah luar masih sangat sedikit. Namun bersama sahabat sekampungnya, KH. Syamsudin, beliau berangkat dengan penuh tekad.

Selama sekitar sepuluh tahun, Tebuireng menjadi kawah candradimuka bagi pembentukan karakter dan keilmuan KH. Chumaedi. Di pesantren warisan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari itulah beliau belajar adab, fikih, Al-Qur’an, dan ilmu-ilmu pesantren lain yang kelak menjadi pijakan dakwahnya. Pendidikan di Tebuireng tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga keteguhan spiritual, kesabaran, dan keluasan pikir sebagai seorang ulama. Saat mondok di Tebuireng KH. Chumaedi menjadi salah satu khadam Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang membantu keperluan Kiai. Bahkan, ketika Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari berhalangan mengajar ngaji, KH. Chumaedi diminta menggantikan mengajar santri dengan membacakan kitab. Hal ini menunjukkan kepercayaan dari Kiai, sekaligus pengakuan akan kapasitas keilmuan dari KH. Chumaedi.

Mengajar dari Mushalla Kecil: Pengabdian yang Dimulai dari Nol

Sepulang dari pesantren, kehidupan KH. Chumaedi tidak berjalan menuju kemapanan pribadi, tetapi menuju pengabdian kepada umat. Ia diminta mengajar di mushalla-mushalla desa, mengajarkan sorogan, kitab fikih, dan pelajaran agama bagi anak-anak sekitar. Saat itu belum ada madrasah resmi; yang ada hanyalah lahan parkir mobil atau bilik mushalla kecil sebagai tempat belajar agama.

Jumlah murid tak lebih dari 10–15 anak. Guru pun kadang hanya satu orang, dan bila berhalangan, guru lain merangkap mengajar semua pelajaran. Namun KH. Chumaedi menjalani semuanya dengan kesabaran khas seorang pendidik sejati. Dari tempat-tempat kecil itulah cikal bakal pendidikan Islam di Wonopringgo tumbuh perlahan.

Pada masa ini, KH. Chumaedi belum terlibat langsung dalam struktur Nahdlatul Ulama, meski praktik dakwah dan pendidikannya telah mencerminkan ruh perjuangan NU yang menekankan pelayanan terhadap masyarakat kecil.

Masuk ke Nahdlatul Ulama: Dakwah yang Menembus Desa-desa Awam

Setelah Indonesia merdeka, kiprah KH. Chumaedi makin meluas. Beliau mulai aktif di Nahdlatul Ulama dan dipercaya menangani bidang dakwah. Penugasan ini menandai babak baru dalam perjuangannya; ia harus mendatangi daerah-daerah terpencil, masyarakat yang masih awam terhadap ibadah, bahkan ada desa yang belum mengenal shalat sama sekali.

Dengan hanya mengendarai sepeda—karena sepeda motor masih sangat langka—beliau menyusuri jalan-jalan kampung, mengajar dari rumah ke rumah, dari mushalla kecil ke balai-balai desa. Saat di Wonopringgo sudah berdiri Koperasi Batik Wonopringgo (KBW), mereka mensupport mobilitas dakwah KH. Chumaedi dengan mobil Jeep, sehingga dakwah dapat menjangkau lokasi yang lebih jauh. Tak jarang dakwah KH. Chumaedi sampai ke pelosok pegunungan di selatan, seperti Wilayah Paninggaran bahkan sampai ke Karangkobar Banjarnegara.

KH. Chumaedi juga mendapatkan support dari kiai-kiai lain yang juga berperan menjadi partner dalam misi dakwah Islam di wilayah Pekalongan dan sekitarnya kala itu. Di antara mitra/partner dakwah KH. Chumaedi adalah KH. Syafi’i Pringlangu, KH. Akrom Chasani Simbang, KH. Zaenal Abidin Banyuurip serta KH. Syu’bi Alwi Pekajangan.

Kiprah di Politik, G30S/PKI, dan Pengabdian pada Keamanan Jamaah

Kiprah KH. Chumaedi di politik sudah bermula semenjak jaman Masyumi dan NU masih bergabung menjadi bagian dari Masyumi. Beliau menjadi anggota DPRD Kabupaten Pekalongan sejak Pemilu multipartai pertama di tahun 1955. Sampai kemudian NU berdiri sebagai Partai Politik kiprah beliau sebagai wakil rakyat tidak surut. Bahkan saat dinamika politik memanas, dimana kampanye sering berlangsung tegang dan penuh ancaman. Beliau berada di depan membela hak dan kepentingan warga, ketika banyak warga NU ditahan di kepolisian atau koramil akibat situasi politik yang tidak menentu. KH. Chumaedi tampil sebagai pembela jamaahnya. Ia mendatangi kantor-kantor aparat, menjemput warga yang ditahan, dan memastikan mereka dapat pulang dengan selamat. Sikap berani dan kepekaan sosial ini membuatnya dihormati luas, bukan hanya sebagai ulama, tetapi juga sebagai figur pelindung umat.

Melayani NU dengan Kesetiaan: Dari Katib hingga Rais Syuriyah

Kiprahnya di NU kian kokoh. Beliau pernah menjabat:

  • Katib Syuriyah PCNU Kabupaten Pekalongan (1971–1979) selama tiga periode, dan
  • Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Pekalongan (1985–1989).

Sebagai Katib, beliau dikenal teliti, tertib administrasi, dan teguh memegang prinsip. Saat menjabat Ketua NU tingkat kecamatan, ia menjadi motor penggerak kegiatan keagamaan dan sosial. Di masa tua, ia dihormati sebagai musytasyar—penasihat utama—karena kebijaksanaan dan pengalaman panjangnya.

Membangun Lembaga, Membangun Peradaban

Jejak dakwah KH. Chumaedi tidak berhenti pada ucapan, tetapi mewujud nyata dalam pembangunan lembaga-lembaga pendidikan dan ibadah. Hingga kini, masyarakat masih merasakan keberkahan dari perjuangan beliau melalui:

  • Madrasah dan TPQ Wonorejo
  • Masjid Wonorejo yang beliau wakafkan tanahnya
  • Mushalla dan TPQ An-Nur
  • Mushalla di Rowokembu
  • Jamaah tahlil malam Jumat

Pada daerah-daerah yang dulu beliau dakwahi—yang sebelumnya nyaris kosong dari kegiatan keagamaan—kini berdiri komunitas Muslimat, Fatayat, dan jamaah NU yang hidup dan berkembang.

Keluarga Besar yang Rukun dan Meneruskan Jejak Pengabdian

KH. Chumaedi dianugerahi keluarga besar dari dua istri: Hj. Rimonah dan Hj. Muslikhah. Banyak anaknya yang menjadi dosen, ustadz, guru, dan penggerak masyarakat. Drs. Khozin Chumaedi menjadi anggota DPR RI dari PPP. Beliau pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP PPP saat Ketua Umum H. Surya Dharma Ali. Jabatan terakhir adalah sebagai Duta Besar RI di Libanon. Ada juga putra pertama KH. Chumaedi, H. Farikhin yang merupakan Dekan Fakultas Ushuluddin pertama di IAIN Sunan Gunung Jati Jawa Barat.

Dari anak, mantu, cucu, hingga cicit, keluarga besar ini dikenal rukun dan guyub. Mereka rutin mengadakan halal bihalal keluarga besar Bani Chumaedi, meneruskan kultur kekeluargaan yang dibangun sang ulama.

Akhir Hayat dan Warisan Tak Tergantikan

Pada 12 Mei 1992/10 Dzulqa’dah 1412 H, KH. Chumaedi mengembuskan napas terakhirnya. Beliau dimakamkan di dekat Koramil Wonopringgo. Sejak itu, setiap tahun masyarakat, santri, keluarga, dan warga NU memperingati haul beliau sebagai bentuk penghormatan.

KH. Chumaedi mungkin telah tiada, tetapi cahaya perjuangannya belum padam. Ia tetap dikenang sebagai ulama yang:

  • tekun mengajar di tempat-tempat kecil,
  • berani berdakwah di daerah yang paling awam,
  • menjadi pelindung jamaah di masa-masa genting,
  • dan setia menggerakkan NU hingga usia senja.

Beliau adalah contoh nyata ulama yang memadukan kesalehan pribadi, keberanian sosial, ketekunan dakwah, dan ketulusan pengabdian. Dari Kedungrandu untuk umat, dari Wonopringgo untuk Umat dan NU, KH. Chumaedi telah menorehkan jejak sejarah yang sulit dilupakan.

Views: 95

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini