Beranda Tokoh Mutiara dari Bojong: Riwayat Hidup dan Perjuangan Drs. KH. M. Muslim Ichsan

Mutiara dari Bojong: Riwayat Hidup dan Perjuangan Drs. KH. M. Muslim Ichsan

445
0

Di sebuah sudut pekarangan Bojong yang teduh, pada tanggal 24 Agustus 1956, lahirlah seorang anak laki-laki yang kelak menjadi salah satu tokoh penting Nahdlatul Ulama di Pekalongan: Drs. KH. M. Muslim Ichsan. Ia lahir dari pasangan H. Ikhsan dan Hj. Tuminah, keluarga sederhana yang hidup dalam disiplin nilai-nilai agama dan tradisi Nahdliyyin yang kuat. Sejak kecil, Muslim Ichsan tumbuh sebagai anak yang tenang, tekun, dan lebih banyak mengamati ketimbang berbicara. Namun di balik ketenangannya itu tersimpan kecintaan mendalam pada ilmu dan dakwah—kecintaan yang telah ditanamkan ayahnya sejak dini.

Ketika anak-anak seusianya bermain, Muslim kecil justru sering diajak sang ayah berkeliling dari desa ke desa untuk menghadiri dan membantu kegiatan dakwah. Ia menyaksikan langsung bagaimana ayahnya berbicara lembut kepada masyarakat, menyampaikan ajaran agama dengan bahasa yang mudah dipahami, dan selalu menutup setiap majelis dengan senyum. Dari perjalanan-perjalanan inilah, Muslim kecil belajar bahwa dakwah bukan hanya ilmu—tetapi juga akhlak, keikhlasan, dan kesabaran.

Pendidikan dan Awal Kiprah Organisasi

Setelah menyelesaikan pendidikan SD, SMP, dan SMA di Pekalongan, Muslim Ichsan melanjutkan cita-cita intelektualnya ke IAIN Yogyakarta (kini UIN Sunan Kalijaga). Di kota pelajar itu, ia tak hanya belajar dari dosen-dosen besar, namun juga menimba ilmu spiritual dan moral dari lingkungan pesantren Krapyak Al-Munawwir, salah satu pesantren paling berpengaruh di Indonesia.

Di pesantren, ia dibentuk menjadi pribadi yang disiplin dan bersahaja; sementara di kampus, kecerdasannya mengantarnya menjadi mahasiswa aktif yang cepat dikenali oleh para pembina organisasi. Ia bergabung dengan KODAMA (Korum Dakwah Mahasiswa)—organisasi intra kampus yang fokus pada dakwah dan pembinaan mahasiswa. Di sinilah bakat retorika dan kemampuan kepemimpinannya ditempa. Berkat aktivitasnya di KODAMA, ia sering diundang mengisi kajian di masjid-masjid Yogyakarta, bahkan hingga ke desa-desa di sekitar kota.

Dari satu mimbar ke mimbar lain, ia semakin mengerti bahwa dakwah adalah jalan panjang yang membutuhkan keteguhan hati. Kemampuannya bertutur kata yang runtut, suaranya yang tenang, serta gaya penyampaian yang penuh kehangatan membuatnya mudah diterima siapa saja—baik kalangan terpelajar, masyarakat kampung, maupun lingkungan pesantren.

Pertemuan Jodoh dan Kembali untuk Mengabdi

Di masa kuliah pula, ia berjumpa dengan seorang aktivis perempuan yang cerdas dan kuat: Hj. Sumarwati. Keduanya sama-sama aktif berorganisasi dan mempunyai visi yang sejalan terhadap perjuangan Islam dan NU. Setelah Muslim Ichsan menyelesaikan pendidikannya, ia kembali ke Pekalongan dan menikah dengan Sumarwati. Pernikahan ini menjadi awal perjalanan keluarga yang kelak dikaruniai empat anak—satu putri dan tiga putra—yang semuanya tumbuh menjadi pribadi sukses dan berakhlak baik berkat didikan keras, hangat, dan penuh teladan.

Istri beliau, Hj. Sumarwati, bukan perempuan biasa. Ia pernah menjabat sebagai Ketua PC Fatayat NU dan kemudian Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Pekalongan. Sebuah rumah tangga yang dibangun atas dasar cita-cita perjuangan organisasi, pendidikan, dan pengabdian sosial.

Pengabdian Tanpa Henti di Dunia Pendidikan dan Ekonomi

Setelah kembali ke Bojong, KH. Muslim Ichsan tidak hanya mengabdikan dirinya untuk dakwah, tetapi juga pendidikan formal. Ia menjadi guru di SMA Wahid Hasyim Pekalongan, sebuah sekolah yang kemudian banyak mencetak generasi muda berakhlak dan berprestasi. Di sekolah, beliau dikenal sebagai guru yang sangat disiplin, tegas dalam prinsip, namun lembut dalam membimbing. Murid-muridnya mengenang beliau sebagai sosok yang tak hanya mengajar pelajaran, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan.

Di luar perannya sebagai guru, beliau juga dikenal sebagai pengusaha batik yang gigih dan sukses. Kehidupan ekonomi keluarga tidak hanya disokong oleh gaji guru yang sederhana, tetapi juga kerja keras beliau mengembangkan usaha batik. Dari subuh hingga malam, waktunya habis antara mengajar, berdakwah, mengurusi organisasi, dan mengelola usaha. Meski demikian, beliau tetap hadir sebagai suami dan ayah yang penuh perhatian.

Tokoh NU yang Setia Mengabdi

Di lingkungan NU, KH. Muslim Ichsan bukanlah orang baru. Ia tumbuh dalam atmosfer NU sejak kecil, dan kiprahnya semakin kokoh setelah dewasa. Di Bojong, beliau menjadi salah satu pendiri Masjid Jami Bojong dan Mushola Ichsan, dua pusat kegiatan ibadah yang hingga kini berdiri sebagai tonggak sejarah dakwah keluarganya.

Kiprah organisasinya mencapai puncak ketika ia dipercaya menjadi Sekretaris PCNU Kabupaten Pekalongan selama tiga periode berturut-turut:

  • 1989–1993 (Rais Syuriyah KH. RM Syarifudin, Ketua Tanfidziyah KH. Ibrahim Luqni Maulana)
  • 1993–1997 (Rais Syuriyah KH. RM Syarifudin, Ketua Tanfidziyah KH. Busyro Khofi)
  • 1997–1999 (Rais Syuriyah KH. Zabidi, Ketua Tanfidziyah H. M. Hasan Bisri)

Tidak banyak orang yang bisa memegang jabatan sekritaris itu selama tiga periode. Hal tersebut menjadi bukti betapa beliau dipercayai, dihormati, dan dibutuhkan oleh para kyai dan pengurus NU di Pekalongan.

Selain itu, beliau bersama sahabat-sahabatnya merintis berdirinya kantor PCNU di Karangdowo Kedungwuni. Setiap hari, ia mengajak putranya yang kedua untuk turut serta mengunjungi kantor itu. Kebiasaan kecil itu ternyata adalah cara beliau menanamkan kecintaan pada organisasi kepada anaknya—warisan yang lebih berharga daripada harta benda.

Kyai Kampung yang Dicintai Masyarakat

Walaupun memiliki jabatan penting di NU, masyarakat Bojong lebih mengenalnya sebagai “kyai kampung”. Gelar ini tampak sederhana, tetapi justru mengandung makna paling agung: kyai yang dekat, merakyat, selalu hadir dalam denyut kehidupan masyarakat.

Setiap subuh, beliau memberikan kuliah subuh selepas shalat berjamaah. Setiap ada hajatan, tahlilan, atau pengajian desa, beliau hadir tanpa mencari popularitas. Gaya ceramahnya halus, runtut, jelas, dan sangat mudah dipahami. Banyak orang paling rindu mendengar cara beliau menyampaikan hikmah-hikmahnya. Bahkan hingga kini, belum ada seorang pun—termasuk anaknya sendiri—yang mampu meniru gaya khas tauziyah beliau.

Akhir Perjalanan: Wafat dalam Senyum

Pada 2 Oktober 1999, takdir Allah menjemputnya dengan cara yang menyayat namun penuh keindahan. Setelah pulang mengajar dan hendak mengirim paketan batik, beliau mengalami kecelakaan di wilayah Wiradesa. Ia segera dilarikan ke rumah sakit, namun Allah lebih menyayanginya. Dalam keadaan tersenyum indah, beliau menghembuskan napas terakhir.

Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman umum Bojong Lor, disambut linangan air mata masyarakat yang mencintainya.

Warisan yang Tak Lekang

KH. M. Muslim Ichsan adalah teladan tentang manusia yang hidup dengan penuh kesederhanaan, namun meninggalkan jejak luar biasa:

  • Ulama yang rendah hati
  • Guru yang disiplin dan sabar
  • Pengusaha yang gigih
  • Aktivis NU yang setia
  • Ayah yang mendidik dengan keteladanan
  • Khalifah kecil di bumi Bojong yang memancarkan cahaya ilmu

Nama beliau terpatri bukan hanya terpatri di ingatan, tetapi di hati masyarakat yang merindukan kembali sosok kyai yang dekat, bijaksana, dan selalu tersenyum.

Views: 158

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini