Beranda Tokoh Mengabdi dengan Hati: Kisah Hidup Kiai Muhammad Dhukron yang Meneduhkan

Mengabdi dengan Hati: Kisah Hidup Kiai Muhammad Dhukron yang Meneduhkan

520
0

Dalam ingatan masyarakat Kabupaten Pekalongan, nama Drs. KH. Muhammad Dhukron selalu hadir sebagai sosok ulama yang hangat, bersahaja, namun memiliki ketegasan dan wibawa yang terpancar dari suara bulatnya yang khas. Beliau bukan sekadar tokoh agama—lebih dari itu, beliau adalah representasi kiai NU yang tumbuh dari kultur khidmah, berjuang dengan keteguhan, dan membaktikan hidupnya bagi umat.

Tumbuh di Lingkungan Agamis dan Bermental Tangguh

Muhammad Dhukron lahir pada 28 April 1959. Beliau kemudian dibesarkan di lingkungan keluarga di Pekajangan, Kedungwuni—sebuah kawasan yang kental dengan suasana keagamaan. Lingkungan ini bukan hanya membentuk karakter religiusnya, tetapi juga mental kepemimpinannya. Sejak muda, beliau sudah ditempa oleh tanggung jawab. Sebagai anak tertua, ia mengambil peran besar dalam keluarga setelah ayahnya wafat, mengasuh adik-adiknya, dan memastikan rumah tetap berjalan dalam kehangatan dan keteguhan.

Tanggung jawab itu kelak terbukti membentuk pribadi beliau menjadi sosok yang sabar, dewasa, dan memiliki empati kuat terhadap sesama.

Darah NU yang Mengalir Sejak Lahir

Kiai Dhukron terlahir dalam keluarga besar yang amat dekat dengan Nahdlatul Ulama. Ibunya menikah dengan KH. Ibrahim Luqni Maulana, seorang ulama terpandang Pekalongan sekaligus Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pekalongan selama 1979–1993. Jauh sebelum itu, Kiai Luqni dikenal aktif sebagai bagian dari Lajnah Dakwah NU pada tahun 1970-an.

Kedekatan beliau dengan figur kiai struktural NU ini membentuk pengalaman batin yang tidak kecil. Dari rumah, Kiai Dhukron belajar arti khidmah, arti organisasi, dan bagaimana mengabdi tanpa pamrih untuk umat. Maka tidak heran, sejak muda beliau ikut bergerak bersama NU dan terus menapakkan diri dalam dinamika organisasi hingga akhir hayatnya.

Pengabdian di Dunia Pendidikan dan Keagamaan

Secara formal, Kiai Dhukron mengabdikan diri sebagai pegawai negeri di Kantor Departemen Agama (kini Kementerian Agama) Kabupaten Pekalongan. Menjadi abdi negara sejak tahun 1994, Kariernya berjalan baik hingga menjabat Kepala Seksi Penamas, posisi yang menegaskan komitmen beliau pada pembinaan masyarakat, pendidikan, dan kehidupan keagamaan.

Namun di luar kedinasan, kiprah beliau jauh lebih luas. Ia aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan dan keulamaan, antara lain:

  • Pengurus Cabang NU Kabupaten Pekalongan – Wakil Ketua, 3 periode (2008-2013, 2013-2018 dan 2018-2021)
  • Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pekalongan – Ketua Komisi Ukhuwah & Kerjasama (2020–2025)
  • Baznas Kabupaten Pekalongan – Ketua Baznas
  • Takmir Masjid Agung Al-Muhtaram Kajen – Ketua Takmir

Keterlibatan ini memperlihatkan betapa hidup beliau benar-benar diisi dengan khidmah. Beliau hadir di banyak ruang, memikirkan umat, dan menjadi penopang moral bagi masyarakat.

Keluarga yang Melanjutkan Tradisi Khidmah

Dalam kehidupan pribadi, Kiai Dhukron menikah dengan Hj. Sumarwati, S.Pd., M.A.P, sosok perempuan cerdas yang juga memiliki kiprah kuat dalam dunia pendidikan dan organisasi. Beliau adalah mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan, pernah menjabat sebagai Ketua PC Fatayat NU Kabupaten pekalongan dan saat ini masih menjabat sebagai ketua PC. Muslimat NU Kabupaten Pekalongan, dan sekaligus menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Fraksi PKB.

Pasangan ini menjadi contoh rumah tangga aktivis NU yang saling menguatkan dalam khidmah sosial-keagamaan.

Sosok Berwibawa dengan Kepribadian Mendalam

Orang-orang yang mengenal beliau selalu menyebut satu hal: wibawanya alami. Posturnya yang tinggi besar, ditambah suaranya yang bulat dan berisi, membuatnya tampak sebagai figur pemimpin yang kokoh. Namun di balik itu, ia memiliki kelembutan hati, humor yang hangat, dan kepedulian yang tak pernah putus pada masyarakat kecil.

Ia dihormati bukan hanya karena ilmunya, tapi karena kehadirannya yang menenteramkan.

Kepergian yang Menyisakan Duka Mendalam

Pada Sabtu, 16 Januari 2021, tepat pukul 11.38 WIB, Kiai Muhammad Dhukron berpulang ke Rahmatullah saat menjalani perawatan di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Kabar duka ini cepat menyebar dan menyisakan kesedihan bagi masyarakat Pekalongan, para jamaah, kolega, dan keluarga besar NU. Jenazah beliau dimakamkan sore harinya di Pemakaman Bojong

Warisan Khidmah yang Tak Pernah Padam

Kiai Dhukron mungkin telah tiada secara fisik, tetapi namanya tetap hidup dalam hati masyarakat Pekalongan. Dari masa kecil yang penuh tanggung jawab, perjalanan khidmah di NU, hingga pengabdiannya sebagai pegawai negeri, semua itu menjadi warisan nilai yang tak lekang oleh waktu.

Beliau adalah contoh nyata bahwa khidmah tidak hanya dilakukan lewat mimbar, tetapi melalui tindakan sehari-hari—melayani, menuntun, dan menjaga umat.

Views: 102

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini