Beranda Pendidikan Institusionalisasi Gerakan Koin NU sebagai Gerakan Filantropi Kemanusiaan

Institusionalisasi Gerakan Koin NU sebagai Gerakan Filantropi Kemanusiaan

92
0

Gerakan Koin NU yang selama ini dikenal sebagai salah satu model filantropi masyarakat Nahdlatul Ulama menjadi fokus penelitian disertasi yang dilakukan oleh Salmaa Al Zahra, penerima Beasiswa S3 BAZNAS RI. Penelitian ini mengkaji sejarah, dinamika, serta proses institusionalisasi Gerakan Koin NU, yang berawal dari sebuah gerakan lokal di Kabupaten Sragen hingga berkembang menjadi gerakan filantropi berskala nasional di bawah koordinasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Penelitian tersebut berangkat dari ketertarikan untuk memahami bagaimana sebuah gerakan sosial berbasis masyarakat mampu berkembang menjadi kebijakan organisasi yang memiliki dampak luas bagi pelayanan sosial dan kemanusiaan. Tidak hanya menelusuri aspek historis lahirnya Gerakan Koin NU, penelitian ini juga mengkaji proses pelembagaan (institusionalisasi) gerakan tersebut sehingga menjadi bagian dari strategi filantropi Nahdlatul Ulama di tingkat nasional.

Menurut Salmaa Al Zahra, keberhasilan Gerakan Koin NU tidak hanya terletak pada mekanisme penghimpunan dana melalui recehan masyarakat, tetapi juga pada kemampuannya membangun solidaritas sosial, partisipasi warga, serta semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Nilai-nilai tersebut kemudian berkembang menjadi fondasi bagi gerakan filantropi kemanusiaan yang menjangkau berbagai bidang, mulai dari pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, hingga respons terhadap kebencanaan.

“Saya ingin melihat bagaimana sebuah inisiatif sederhana yang lahir dari masyarakat di Sragen mampu berkembang menjadi gerakan filantropi kemanusiaan yang diadopsi secara nasional oleh PBNU. Yang menarik bukan hanya proses organisasinya, tetapi bagaimana nilai kepedulian dan solidaritas sosial dapat dilembagakan sehingga terus hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar Salmaa.

Ketertarikan Salmaa terhadap tema tersebut juga dipengaruhi oleh refleksi kemanusiaan yang ia temukan dalam karya-karya Dr. Fahruddin Faiz. Salah satu kutipan yang paling membekas baginya adalah:

“Menjadi manusia itu takdir, tapi menjadi kemanusiaan itu pilihan.”

Bagi Salmaa, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kemanusiaan bukan sekadar identitas, melainkan sebuah komitmen yang diwujudkan melalui tindakan nyata. Nilai itulah yang menurutnya tercermin dalam Gerakan Koin NU, ketika partisipasi masyarakat melalui donasi bernilai kecil mampu dihimpun menjadi kekuatan besar untuk membantu sesama.

Melalui penelitian ini, Salmaa berharap kajian mengenai Gerakan Koin NU tidak hanya memperkaya khazanah akademik tentang gerakan sosial dan filantropi Islam, tetapi juga memberikan kontribusi bagi pengembangan model filantropi berbasis komunitas yang berkelanjutan. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi bagi organisasi kemasyarakatan, akademisi, maupun para pegiat filantropi dalam membangun gerakan kemanusiaan yang berakar pada partisipasi masyarakat dan nilai-nilai solidaritas.

Penulis: Anwar

Views: 10

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini