Beranda Khutbah Pengaruh Kehalalan Makanan Terhadap Pembentukan Karakter

Pengaruh Kehalalan Makanan Terhadap Pembentukan Karakter

227
0

Pengaruh Kehalalan Makanan Terhadap Pembentukan Karakter

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِـنَهْـتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللهُ   مَنْ يَـهْدِ اللهُ فَـلَا مُضِلَّ لَهُ  وَمَنْ يُـضْلِلْهُ فَلَا   هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ   وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَـبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِـيَّ بَـعْدَهُ  أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَـلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ  صَاحِبِ الشَّفَاعَةِ وَعَلَى ألِـهِ وَصَحْـبِهِ ذَوِي الـسِّـيَادَةِ

أَمَّا بَعْــدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِـتَقْوَى اللهِ . إِتَّقُوْا اللهِ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَا وَأَنْـتُمْ مُسْـلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَـابِهِ الْكَرِيْمِ : يَاأَيُّـهَاالنَّاسُ كُلُوْا مِمَّافِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَـيِّـبًـا وَلَا تَتَّـبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَّـيْطَانِ. إِنَّـهُ لَكُـمْ عَدُوٌّ مُبِـيْنٌ

Hadirin jama’ah jum’at, yahdikumullah.

Mari kita gunakan kesempatan hidup di dunia yang hanya satu kali saja untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Jangan sampai kita  lewatkan setiap waktu yang berlalu kecuali untuk beribadah kepada Allah, baik dalam bentuk ibadah mahdhoh yakni ritual ibadah murni, maupun ibadah ghoiru mahdhoh, yakni aktifitas apapun yang kita niati semata-mata untuk berbuat baik dan menebar manfaat. Karena takwa adalah bekal terbaik untuk mengarungi hidup yang hakiki dan abadi, yakni ketika kita pulang menghadap Allah Swt di alam akhirat.

Hadirin jama’ah Jum’at, arsyadakumullah.

Salah satu implementasi ketakwaan adalah senantiasa mengkonsumsi makanan yang halal dan baik sebagaimana firman Allah:

يَـاأَيُّـهَاالنَّاسُ كُلُوْا مِمَّافِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّـبًا وَلَا تَتَّـبِـعُوْا خُطُوَاتِ الشَّـيْطَانِ. إِنَّـهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِـيْنٌ (سورة البقرة: ۱٦۸)

“Wahai manusia, makanlah sesuatu yang halal dan baik dari apa yang terdapat di muka bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 168)

Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, maksud dari makanan yang halal dan baik adalah makanan yang secara syar’i adalah halal, bersih dan bermanfaat, yakni makanan yang bergizi, bukan makanan yang najis dan makanan yang membahayakan.

Hadirin jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Dalam syariat Islam, makanan yang haram meliputi dua jenis, yang pertama adalah makanan yang haram secara dzatnya seperti darah, daging babi, anjing, keledai, binatang buas, bangkai dan masih banyak lagi. Adapun yang kedua adalah makanan yang haram karena cara perolehannya, meskipun secara dzatnya adalah halal, seperti makanan hasil curian, hasil ghasab/rampasan, hasil menipu dan lain sebagainya. Baik makanan yang haram secara dzatiahnya maupun haram secara perolehannya, kedua-duanya harus kita hindari. Realita kehidupan masyarakat saat ini, masih banyak orang yang tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu dan tidak peduli terhadap batasan-batasan syariat tentang makanan hanya karena menuruti syahwat perutnya. Prinsip yang sering muncul adalah: “Yang penting kenyang, yang penting enak dan yang penting doyan atau suka.” Oleh karena itu,  di akhir surat Al-Baqarah ayat 168, Allah menegaskan:

   وَلَاتَـتَّـبِـعُـوْا خُـطُـوَاتِ الشَّـيْـطَـانِ

 “Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan”.

Dalam  hal ini, setan ingin menyesatkan manusia agar senantiasa menuruti kemauan selera makannya tanpa mempedulikan hukum dan kualitas makanan yang dikonsumsi.

Hadirin jama’ah Jum’at, ‘alaikum bitaqwallah.

Syariat ditegakkan tidak lain adalah untuk kemaslahatan manusia sekaligus untuk mendukung misinya sebagai khalifah di bumi. Setiap benda atau hal apapun yang diharamkan, pasti terselip sirri dan hikmah yang seringkali tidak kita sadari. Pelanggaran terhadap setiap koridor dan aturan agama akan menimbulkan dampak buruk bagi manusia itu sendiri. Berikut ini adalah efek buruk mengkonsumsi makanan yang haram, baik haram secara dzat maupun haram secara perolehannya:

  1. Menghalangi terkabulnya doa

Rasulullah bersabda:

ثُـمَّ ذَكَـرَ الـرَّجُلَ يُـطِـيْلُ السَّـفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَـرَ يَمُـدُّ يَدَيْـهِ إِلَى السَّمَاءِ يَارَبِّ يَارَبِّ , وَمَطْـعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْـرَبُـهُ حَرَامٌ وَمَلْبَـسُهُ حَـرَامٌ وَغُذِيَّ بِالْحَـرَامِ  فَـأَنَّى يُـسْـتَـجَابُ لَـهُ (رواه مسلم)

“Seorang laki-laki melakukan perjalanan jauh hingga rambutnya kusut, mukanya berdebu seraya menengadahkan kedua tangannya ke langit dan berdoa “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku” padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia dikenyangkan dengan sesuatu yang haram. Maka bagaimana mungkin  doanya akan terkabul?” (HR. Muslim)

  • Amal  ibadah tidak akan diterima

Suatu ketika Sa’ad ibni Abi Waqosh berkata kepada Nabi Muhanmad Saw: “  Ya Rasulullah, doakanlah aku agar menjadi orang yang dikabulkan doa-doanya oleh Allah.” Rasulullah menjawab, “Wahai Sa’ad, perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman kekuasaan-Nya, sungguh jika ada orang yang memasukkan makanan yang haram ke dalam perutnya, maka amal ibadahnya tidak akan diterima selama 40 hari. dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba, maka neraka lebih layak untuk dirinya” (HR. Ath-Thabrani)

  • Merusak hati dan akal

Makanan haram yang dikonsumsi akan membawa energi negatif yang menyatu dengan darah dan menjalar ke seluruh tubuh. Hal ini akan menyebabkan kerasnya hati sehingga sulit untuk menerima nasihat dan cenderung untuk bertindak maksiat. Hati yang telah rusak akan sulit mengontrol anggota tubuh agar senantiasa berperilaku positif. Rasulullah Saw bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِـيْ الْجَـسَدِ مُـضْغَـةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّـهُ  وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَـسَدُ كُلُّـهُ. أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ (مـتّـفـق علـيـه)

“Ingatlah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging,  jika segumpal daging itu baik, maka baik pula seluruh jasad. Namun jika segumpal daging itu rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ingatlah, segumpal daging itu adalah hati.” (Muttafaq ‘alaih)

Hadirin jama’ah Jum’at, ittaqullah.

Oleh karena itu, mari kita syukuri segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita dengan lebih berhati-hati dan selekif dalam mengkonsumsi makanan. Mari kita taati segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya termasuk dalam hal makanan, agar kita diberikan keselamatan di dunia maupun akhirat. Aamiin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَـكُمْ  فِي الْـقُـرْءَانِ الْـعَـظِــيْمِ  وَنَفَـعَـنِيْ وَإِيَّـاكُمْ بِـمَا  فِيْـهِ مِنَ الْأيَاتِ وَذِكْرِ الْحَـكِـيْمِ  وَتَقَـبَّلَ مِنِّـيْ وَمِنْـكُمْ تِـلَاوَتَهُ إِنَّـهُ هُوَ السَّمِـيْعُ الْـعَلِـيْـمُ.

Views: 42

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini