Beranda Bahtsul Masail Bagaimana Hukum Bermakmum kepada Orang Yang Berfaham Wahabi?

Bagaimana Hukum Bermakmum kepada Orang Yang Berfaham Wahabi?

1691
0
Ilustrasi Sholat Bermakmum kepada Wahabi

Deskripsi :

Kaum ahlussunnah wal jamaah, dalam hal ini jamaah Nahdliyin meyakini dengan berbagai sumber referensi baik tertulis maupun penuturan langsung dari para kyai di mimbar-mimbar, bahwa kaum wahabi itu adalah firqah yang sesat dan hampir terjatuh pada hukum yang lebih fatal disebabkan meyakini Allah itu bersifat jisim seperti makhluk yang punya tangan, wajah, dst (mujassimah).

Pertanyaan :

1 . Bagaimanakah hukum shalat kita bila ber-iqtda / menjadi makmumnya imam yang berfaham wahabi ?

  1. Bila tidak boleh, lalu bagaimana shalatnya kaum ahlussunnah yang menunaikan ibadah haji yang setiap harinya bermakmum di masjid haram yang notabene imamnya adalah penganut wahhabiyyah?

Jawaban:

Selama wahabi salafi itu dalam aqidah mereka tafwidl ma’at tanzih, maka boleh diikuti.

Tetapi jika tafwidl ma’at tajssim, maka tidak boleh karena ini jelas kekafirannya, karena menjisimkan Allah walaupun dgn dalih tafwidl, misalnya dia mengaku tafwidl tetapi di barengi dgn mengatakan Allah punya tangan, punya muka, punya tempat, ini jelas tafwidl ma’at tajsim,

Dan menurut imam Asy’ari rahimahullah, ada dua pendapat tentang hal ini. Lalu imam Haramain, Ibnu Qusyairi dan yang lainnya menyatakan bahwa pendapat yang adzhar dari dua pendapatnya imam Asy’ari adalah beliau tidak mengkafirkan mereka, dan pendapat ini juga dipilih oleh imam Al-Qadhi didalam kitab Ikfar Al-Mutaawwilin”

I’anatuth thalibin :

قوله: الا لنحو بدعة امامه، اشتثنا من محذوف، اي: ان الصلاة مع الجمع الكثير افضل فى كل حال الاحالة كون امام الجمع الكثير ذا بدعة، والمراد بها التى لم يكفر مرتكبها كالجسمة، اي : القائلين بأنه تعالى جسم، على المعتمد، فإن كفر بها، كمنكر البعث والحشر للاجسام وعلم الله تعالى بالجزئيات فلا تصح القدوة خلفه، قوله، اي: الكثير تفسير للضمير، قوله : كرافضى تفثيل لذي البدعة، ومثله الشعى، والزيدى، قال الكردى : الرفضة والشيعة والزيدية متقاربون، قال : فى المواقف : الشيعة، اثنان وعتزون فرقة يكفر بعضهم بعضا، اصولهم ثلاث فرق، غلاة وزيدية وامامية، اما الغلاة فثمانية عشر، ثم قال : واما الزيدية فثلاث فرق، الجارودية. الخ. والزيدية منسوبون الى زيد بن على زين العابدين بن الحسين. اه

  • Majmu’ lin nawawi :

فرع، قد ذكرنا ان من يكفر ببدعته لاتصح الصلاة وزاء ومن لا يكفر تصح فممن يكفر من يجسم تجسيما صريحا ومن ينكر العلم بالجرئيات

  • Tuhfatul Muhtaj :

من ثم قيل اخدا من حديث الجارية يغتفر نحو التجسم والجهة في حق العوام لانهم مع ذلك على غاية من اعتقاد التنزية والكمال المطلق

  • Mughni muhtaj :

فى الروضة، لو قال فلان فى عينى كاليهودى والنصرانى فى عين الله او بين يدي الله فمنهم من قال: كفرو منهم، من قال : ان اراد الجارحة كفرو الا فلا، قال الاذرعى: والظاهرانه لايكفر مطلقا لانه ظهر منه مايدل على التجسم والمشهور انا لا تكفر المجسمة‘
. والله أعلم بالصواب

Sedang Hukum bermakmum kepada ahli bid’ah adalah makruh, namun sholatnya tetap dianggap sah selama bid’ahnya tersebut tidak sampai pada taraf yang menyebabkan kufur.

Keterangan :

(المجموع شرح المهذب : ج ٤ ص ١٥١)
وأما صلاة ابن عمر خلف الحجاج بن يوسف فثابتة في صحيح البخاري وغيره في الصحيح أحاديث كثيرة تدل على صحة الصلاة وراء الفساق والأئمة الجائرين، قال أصحابنا: الصلاة وراء الفاسق صحيحة ليست محرمة لكنها مكروهة، وكذا تكره وراء المبتدع الذي لا يكفر ببدعته وتصح، فإن كفر ببدعته فقد قدمنا أنه لا تصح الصلاة وراءه كسائر الكفار، ونص الشافعي في المختصر على كراهة الصلاة خلف الفاسق والمبتدع فإن فعلها صحت

“Adapun sholat Ibnu Umar dimana imamnya adalah Al-Hajjaj bin Yusuf (yang fasiq), maka telah tsabit riwayat tersebut didalam kitab shohih Bukhari dan kitab lainnya serta ada banyak hadits shohih lainnya yang menunjukkan sahnya shalat dibelakang orang-orang fasiq dan imam-imam yang fajir. Para ulama madzhab Syafi’i menyatakan: Sholat dibelakang orang fasiq itu sah dan tidak haram, akan tetapi hukumnya makruh. Demikian halnya sholat dibelakang ahli bid’ah yang tidak sampai pada tingkatan kufur karena kebid’ahannya juga dihukumi makruh dan sholatnya dianggap sah. Namun jika ahli bid’ah menjadi kufur karena kebid’ahannya, maka telah kami jelaskan sebelumnya bahwa sholat dibelakangnya adalah tidak sah seperti halnya sholat dibelakang orang kafir lainnya. Nash imam Syafi’i juga didalam kitab Al-Mukhtashar menyatakan bahwa sholat dibelakang orang fasiq dan ahli bid’ah hukumnya adalah makruh. Namun jika hal itu dilakukan, maka sholatnya tetap sah”

Diantara ulama’ yang mengkafirkan Mujassimah adalah Imam Syafi’i. Dalam kitab Al Asybah wa Annadzoir disebutkan:

قَالَ الشَّافِعِيُّ لَا يُكَفَّرُ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ وَاسْتَثْنِيْ مِنْ ذَلِكَ اَلْمُجَسِّمَ وَ مُنْكِرَ عِلْمِ الْجُزْئِيَّاتِ

Artinya: “Imam Syafi’i berkata: Tidak seorang pun yang dihukumi kafir dari orang-orang yang shalatnya menghadap kiblat, aku mengecualikan dari hal tersebut kepada Mujassim dan orang-orang yang mengingkari bahwa Allah swt mengetahui hal-hal yang terperinci” (Al Asybah wa An Nadhoir)

Begitu juga, imam Syafi’i menghukumi kafir terhadap orang-orang yang berkeyakinan bahwa Allah swt berada di Arsy. Dalam kitab Najmul Muhtadi disebutkan:

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَنْ قَالَ أَوْ إِعْتَقَدَ أَنَّ اللهَ جَالِسٌ عَلَى الْعَرْشِ فَهُوَ كَافِرٌ

Artinya: “Imam Syafi’i berkata: Barangsiapa yang berkata atau berkeyakinan bahwa Allah swt duduk di Arsy, maka ia telah kafir”

Imam Ibn Hajar al Haitami mengutip pernyataan imam al Qarafi bahwa imam Syafi’i, imam Malik, imam Ahmad bin Hanbal dan imam Hanafi sepakat akan kafirnya orang-orang yang berkeyakinan Allah swt memiliki arah dan berjisim.

وَاعْلَمْ أَنَّ الْقَرَافِيَ وَغَيْرَهُ حَكَوْا عَنِ الشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ وَأَحْمَدَ وَأَبِيْ حَنِيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ اَلْقَوْلَ بِكُفْرِ الْقَائِلِيْنَ بِالْجِهَّةِ وَالتَّجْسِيْمِ

Artinya: “Ketahuilah olehmu bahwa imam Qarafi dan lainnya bercerita tentang imam Syafi’i, imam Malik, imam Ahmad dan imam Abu Hanifah radiyallahu anhum berkata tentang kekafiran orang-orang yang mengatakan bahwa Allah swt memiliki arah dan berjisim” (Ibn Hajar al Haitami, Al Minhajul Qawim)

Bahkan menurut Sayyid Ibrahim al Maraghini al Maliki mengatakan kekafiran mujassimah sudah disepakati oleh seluruh umat Islam. Dalam kitabnya Thali’ul Busyra ala al Aqidah al Shughra berkata:

وَيُسَمَّى اَلْاِعْتِقَادَ الْفَاسِدَ كَاعْتِقَادِ قِدَمِ الْعَالَمِ أَوْ تَعَدُّدِ الْإِلَهِ أَوْ أَنَّ اللهَ تَعَالَى جِسْمٌ وَصَاحِبُ هَذَا الْاِعْتِقَادِ مُجْمَعٌ عَلَى كُفْرِهِ

Artinya: “Keyakinan tersebut disebut dengan keyakinan yang fasid, seperti meyakini bahwa alam adalah qadim (dahulu), Tuhan itu banyak, dan Allah swt berjisim. Orang yang berkeyakinan seperti ini disepakati kekafirannya” (Thali’ul Busyra ala al Aqidah al Shughra).

(البحر المحيط : ج ٨ ص ٢٨٠)
وأما المخطئ في الأصول والمجسمة فلا شك في تأثيمه وتفسيقه وتضليله، واختلف في تكفيره وللأشعري قولان. قال إمام الحرمين وابن القشيري وغيرهما: وأظهر مذهبيه ترك التكفير، وهو اختيار القاضي في كتاب إكفار المتأولين

“Orang yang salah dalam perkara ushul (akidah) dan berfaham tajsim, maka tidak diragukan bahwa dia adalah orang yang berdosa, fasiq dan sesat. Dan para ulama berbeda pendapat mengenai status kafir (atau tidaknya). Bagi imam Asy’ari rahimahullah, ada dua pendapat tentang hal ini. Lalu imam Haramain, Ibnu Qusyairi dan yang lainnya menyatakan bahwa pendapat yang adzhar dari dua pendapatnya imam Asy’ari adalah beliau tidak mengkafirkan mereka, dan pendapat ini juga dipilih oleh imam Al-Qadhi didalam kitab Ikfar Al-Mutaawwilin”

CATATAN :

PENDAPAT 4 IMAM MADZHAB TENTANG KESESATAN PAHAM WAHABI

  1. ULAMA KALANGAN MADZHAB HANAFI
    ➖➖➖➖➖
    Dari kalangan ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang populer dengan sebutan Ibn Abidin, juga berkata dalam kitabnya, Hasyiyah Radd al-Muhtar tantang Wahhabi sebagai berikut,

“ ﻣَﻄْﻠَﺐٌ ﻓِﻲ ﺃَﺗْﺒَﺎﻉِ ﻣُﺤَﻤَّﺪِ ﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺏِ اﻟْﺨَﻮَﺍﺭِﺝِ ﻓِﻲْ ﺯَﻣَﺎﻧِﻨَﺎ : ﻛَﻤَﺎ ﻭَﻗَﻊَ ﻓِﻲْ ﺯَﻣَﺎﻧِﻨَﺎﻓِﻲْ اﺗْﺒَﺎﻉِ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺏِ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَﺧَﺮَﺟُﻮْﺍ ﻣِﻦْ ﻧَﺠْﺪٍ ﻭَﺗَﻐَﻠَّﺒُﻮْﺍ علىﺍﻟْﺤَﺮَﻣَﻴْﻦِ ﻭَﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ينتنلحوا ﻣَﺬْﻫَﺐَ اﻟْﺤَﻨَﺎﺑِﻠَﺔِ ﻟَﻜِﻨَّﻬُﻢْ ﺍِﻋْﺘَﻘَﺪُﻭْﺍ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ ﻭَﺃَﻥَّ ﻣَﻦْ خاﻟَﻔَﺎﻋْﺘِﻘَﺎﺩَﻫُﻢْ ﻣُﺸْﺮِﻛُﻮْﻥَ ﻭَﺍﺳْﺘَﺒَﺎﺣُﻮْﺍ بذاﻟِﻚَ ﻗَﺘْﻞَ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ ﻭَﻗَﺘْﻞَ ﻋُﻠَﻤَﺎﺋِﻬِﻢْ ﺣَﺘَﻰ ﻛَﺴَﺮَ ﺍﻟﻠﻬُﺸَﻮْﻛَﺘَﻬُﻢْ ﻭَﺧَﺮَﺏَ ﺑِﻼَﺩَﻫُﻢْ ﻭَﻇَﻔِﺮَ ﺑِﻬِﻢْ عساﻛِﺮُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻋَﺎﻡَ ﺛَﻼَﺙٍ ﻭَﺛَﻼَﺛِﻴْﻦَ ﻭَﻣِﺎﺋَﺘَﻴْﻨِﻮَﺃَﻟْﻒٍ.” ﺍﻫـ ‏( ﺍﺑﻦ ﻋﺎﺑﺪﻳﻦ، ﺣﺎﺷﻴﺔ ﺭﺩ اﻟﻤﺤﺘﺎﺭ ، ٤ / ٢٦٢ ).

“Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H.” (Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al- Mukhtar, juz 4, hal. 262).
➖➖➖➖➖

  1. ULAMA KALANGAN MADZHAB MALIKI
    ➖➖➖➖➖
    Dari kalangan ulama madzhab al-Maliki, al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki, ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa dengan pendiri Wahhabi, berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut,

ﻫَﺬِﻩِ ﺍْﻵَﻳَﺔُ ﻧَﺰَﻟَﺖْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺨَﻮَﺍﺭِﺝِ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻳُﺤَﺮِّﻓُﻮْﻥَ ﺗَﺄْﻭِﻳْﻞَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ ﻭَﻳَﺴْﺘَﺤِﻠُّﻮْﻥَ ﺑِﺬَﻟِﻚَ ﺩِﻣَﺎﺀَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﺃَﻣْﻮَﺍﻟَﻬُﻢْ ﻛَﻤَﺎ ﻫُﻮَ ﻣُﺸَﺎﻫَﺪٌ ﺍْﻵَﻥَ ﻓِﻲْ ﻧَﻈَﺎﺋِﺮِﻫِﻢْ ﻭَﻫُﻢْ ﻓِﺮْﻗَﺔٌ ﺑِﺄَﺭْﺽِ ﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺯِ ﻳُﻘَﺎﻝُ لهم ﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺑِﻴَّﺔُ ﻳَﺤْﺴَﺒُﻮْﻥَ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﻋَﻠﻰَ ﺷَﻲْﺀٍ ﺃَﻻَ ﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻜَﺎﺫِﺑُﻮْﻥَ. ‏(ﺣﺎﺷﻴﺔ ﺍﻟﺼﺎﻭﻱ ﻋﻠﻰ تفسير ﺍﻟﺠﻼﻟﻴﻦ ، ٣ / ٣٠٧ ).

“Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.” (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, juz 3, hal. 307).
➖➖➖➖➖

  1. ULAMA KALANGAN MADZHAB SYAFI’I
    ➖➖➖➖➖
    Dari kalangan ulama madzhab Syafi’i, al-Imam al-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan al-Makki, guru pengarang I’anah al-Thalibin, kitab yang sangat otoritatif (mu’tabar) di kalangan ulama di Indonesia, berkata tentang Wahhabi,

ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﺴَّﻴِّﺪُ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤﻦِ ﺍﻟْﺄَﻫْﺪَﻝُ ﻣُﻔْﺘِﻲْ ﺯَﺑِﻴْﺪَ ﻳَﻘُﻮْﻝُ : ﻻَ ﻳُﺤْﺘَﺎﺝُ ﺍﻟﺘَّﺄْﻟِﻴْﻒُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮَّﺩِّ ﻋَﻠَﻰ ﺍﺑْﻦِ عبد ﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺏِ، ﺑَﻞْ ﻳَﻜْﻔِﻲ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮَّﺩِّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻗَﻮْﻟُﻪُ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳِﻴْﻤَﺎﻫُﻢُ ﺍﻟﺘَّﺤْﻠِﻴْﻖُ، فأنه ﻟَﻢْ ﻳَﻔْﻌَﻠْﻪُ ﺃَﺣَﺪٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺒْﺘَﺪِﻋَﺔِ ﺍﻫـ ‏( ﺍﻟﺴﻴﺪ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺯﻳﻨﻲ ﺩﺣﻼﻥ، ﻓﺘﻨﺔ ﺍﻟﻮﻫﺎﺑﻴﺔ ص / ٥٤ ).

“Sayyid Abdurrahman al-Ahdal, mufti Zabid berkata, “Tidak perlu menulis bantahan terhadap Ibn Abdil Wahhab. Karena sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam cukup sebagai bantahan terhadapnya, yaitu “Tanda- tanda mereka (Khawarij) adalah mencukur rambut (maksudnya orang yang masuk dalam ajaran Wahhabi, harus mencukur rambutnya)”. Karena hal itu belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari kalangan ahli bid’ah.” (Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Fitnah al Wahhabiyah, hal. 54).
➖➖➖➖➖

  1. ULAMA KALANGAN MADZHAB HAMBALI
    ➖➖➖➖➖
    Dari kalangan ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi berkata dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahabi, sebagai berikut,

ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺏِ ﺑْﻦُ ﺳُﻠَﻴْﻤَﺎﻥَ ﺍﻟﺘَّﻤِﻴْﻤِﻲُّ ﺍﻟﻨَّﺠْﺪِﻱُّ ﻭَﻫُﻮَ ﻭَﺍﻟِﺪُ ﺻَﺎﺣِﺐِ ﺍﻟﺪَّﻋْﻮَﺓِ ﺍﻟَّﺘِﻲْ ﺍﻧْﺘَﺸَﺮَﺷَﺮَﺭُﻫَﺎ فىﺍْﻷَﻓَﺎﻕِ ﻟَﻜِﻦْ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻤَﺎ ﺗَﺒَﺎﻳُﻦٌ ﻣَﻊَ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻟَﻢْ ﻳَﺘَﻈَﺎﻫَﺮْ ﺑِﺎﻟﺪَّﻋْﻮَﺓِ ﺇِﻻَّ ﺑَﻌْﺪَﻣَﻮْﺕِ ﻭَﺍﻟِﺪِﻩِ وﺃَﺧْﺒَﺮَﻧِﻲْ ﺑَﻌْﺾُ ﻣَﻦْ ﻟَﻘِﻴْﺘُﻪُ ﻋَﻦْ ﺑَﻌْﺾِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻋَﻤَّﻦْ ﻋَﺎﺻَﺮَ ﺍﻟﺸَّﻴْﺦَ ﻋَﺒْﺪَﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺏِ ﻫَﺬَﺍ ﺃَﻧَّﻪُ كاﻥَ ﻏَﺎﺿِﺒًﺎ ﻋَﻠﻰَ ﻭَﻟَﺪِﻩِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻟِﻜَﻮْﻧِﻪِ ﻟَﻢْ ﻳَﺮْﺽَ ﺃَﻥْ ﻳَﺸْﺘَﻐِﻞَ ﺑِﺎلفقه ﻜَﺄَﺳْﻼَﻓِﻪِ ﻭَﺃَﻫْﻞِ ﺟِﻬَﺘِﻪِ وﻳَﺘَﻔَﺮَّﺱُ ﻓِﻴْﻪ ﺃَﻧَّﻪُ ﻳَﺤْﺪُﺙُ ﻣِﻨْﻪُ ﺃَﻣْﺮٌ . ﻓَﻜَﺎﻥَ ﻳَﻘُﻮْﻝُ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ : ﻳَﺎ ﻣَﺎ ﺗَﺮَﻭْﻥَ ﻣِﻦْ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﺮِّ فقدﺭَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻥْ ﺻَﺎﺭَ ﻣَﺎﺻَﺎﺭَ ﻭَﻛَﺬَﻟِﻚَ ﺍﺑْﻨُﻪُ ﺳُﻠَﻴْﻤَﺎﻥُ ﺃَﺧُﻮْ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﻨَﺎﻓِﻴًﺎ ﻟَﻪُ ﻓِﻲْ ﺩَﻋْﻮَﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺩَّ عليه ﺭَﺩًّﺍ ﺟَﻴِّﺪﺍًﺑِﺎْﻵَﻳﺎَﺕِ ﻭَﺍْﻵَﺛﺎَﺭِ ﻭَﺳَﻤَّﻰ ﺍﻟﺸَّﻴْﺦُ ﺳُﻠَﻴْﻤَﺎﻥُ ﺭَﺩَّﻩُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ‏( ﻓَﺼْﻞُ ﺍﻟْﺨِﻄَﺎﺏِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮَّﺩِّ علىﻤُﺤَﻤَّﺪِ ﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺏِ ‏) ﻭَﺳَﻠَّﻤَﻪُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّﻩِ ﻭَﻣَﻜْﺮِﻩِ ﻣَﻊَ ﺗِﻠْﻚَ ﺍﻟﺼَّﻮْﻟَﺔِ ﺍﻟْﻬَﺎﺋِﻠَﺔِ التيأﺭْﻋَﺒِﺖَ ﺍْﻷَﺑَﺎﻋِﺪَ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﺇِﺫَﺍ ﺑَﺎﻳَﻨَﻪُ ﺃَﺣَﺪٌ ﻭَﺭَﺩَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻘْﺪِﺭْ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﺘْﻠِﻪِ ﻣُﺠَﺎﻫَﺮَﺓًﻳُﺮْﺳِﻞُ اﻟَﻴْﻪِ ﻣَﻦْ ﻳَﻐْﺘَﺎﻟُﻪُ ﻓِﻲْ ﻓِﺮَﺍﺷِﻪِ ﺃَﻭْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴُّﻮْﻕِ ﻟَﻴْﻼً ﻟِﻘَﻮْﻟِﻪِ ﺑِﺘَﻜْﻔِﻴْﺮِ ﻣَﻦْ ﺧَﺎﻟَﻔَﻬُﻮَﺍﺳْﺘِﻝَﻼْﺤِ ﻗَﺘْﻠِﻪِ. اﻫـ ‏( ﺍﺑﻦ ﺣﻤﻴﺪ ﺍﻟﻨﺠﺪﻱ، ﺍﻟﺴﺤﺐ ﺍﻟﻮﺍﺑﻠﺔ ﻋﻠﻰ ﺿﺮﺍﺋﺢ ﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ، ٢٧٥ ).

“Abdul Wahhab bin Sulaiman al-Tamimi al-Najdi, adalah ayah pembawa dakwah Wahhabiyah, yang percikan apinya telah tersebar di berbagai penjuru. Akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Padahal Muhammad (pendiri Wahhabi) tidak terang-terangan berdakwah kecuali setelah meninggalnya sang ayah. Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada masyarakat, “Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.” Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi. Demikian pula putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya.

Karena setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya.” (Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al- Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275).

Demikian pernyataan ulama terkemuka dari empat madzhab, Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali, yang menegaskan bahwa golongan Wahhabi termasuk Khawarij bukan Ahlussunnah Wal-Jama’ah.

Tentu saja masih terdapat ratusan ulama lain dari madzhab Ahlussunnah Wal-Jama’ah yang menyatakan bahwa Wahhabi itu Khawarij dan tidak mungkin kami kutip semuanya.
➖➖➖➖➖
WAHABI ADALAH KHAWARIJ AKHIR ZAMAN
➖➖➖➖➖

ﻋَﻦْ ﺃَﻧَﺲٍ ﻗَﺎﻝَ ﺫُﻛِﺮَ ﻟِﻰ ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻗَﺎﻝَ ﻭَﻟَﻢْ ﺃَﺳْﻤَﻌْﻪُ ﻣِﻨْﻪُ ‏« ﺇِﻥَّ ﻓِﻴﻜُﻢْ ﻗَﻮْﻣﺎً ﻳَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ ﻭَﻳَﺪْﺃَﺑُﻮﻥَ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻌْﺠَﺐَ ﺑِﻬِﻢُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻭَﺗُﻌْﺠِﺒَﻬُﻢْ ﻧُﻔُﻮﺳُﻬُﻢْ يمرﻗُﻮﻥَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻣُﺮُﻭﻕَ ﺍﻟﺴَّﻬْﻢِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﻣِﻴَّﺔِ .

“Dari Anas, ia berkata, disebutkan kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda – dan aku (Anas) mendengarnya langsung dari beliau, “Sesungguhnya di antara kalian ada suatu kaum yang sangat rajin beribadah sehingga orang-orang kagum kepada mereka, bahkan diri mereka sendiri pun kagum.Mereka keluar dari agama laksana panah keluar dari busurnya.”

Dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Di akhir zaman akan ada sekelompok orang yang akan berbicara kepada kalian dengan hal yang belum pernah terdengar oleh kalian dan orang-orang sebelum kalian, maka hindarilah mereka!”

Di dalam riwayat yang lain disebutkan, “Akan ada di akhir zaman para dajjal pendusta. Mereka akan berbicara kepada kalian dengan hal yang belum pernah terdengar oleh kalian dan orang-orang sebelum kalian. Berhati-hatilah terhadap mereka, jangan sampai mereka menyesatkan kalian dan menebarkan fitnah di tengah kalian.”

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ﺳَﻴَﺨْﺮُﺝُ ﻓِﻲ ﺁﺧِﺮِ ﺍﻟﺰَّﻣَﺎﻥِ ﻗَﻮْﻡٌ ﺃَﺣْﺪَﺍﺙُ ﺍﻷَﺳْﻨَﺎﻥِ ﺳُﻔَﻬَﺎﺀُ ﺍﻷَﺣْﻠَﺎﻡِ

“Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang umurnya masih muda dan cara berpikirnya lemah.”

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Ahdatsul asnan maksudnya adalah mereka adalah golongan para pemuda. Sedangkan “Sufaha al-Ahlam” maksudnya adalah pikiran mereka dangkal.”

ﺳَﻴَﺨْﺮُﺝُ ﻗَﻮْﻡٌ ﻓِﻲ ﺁﺧِﺮِ ﺍﻟﺰَّﻣَﺎﻥِ ﺃَﺣْﺪَﺍﺙُ ﺍﻟْﺄَﺳْﻨَﺎﻥِ ﺳُﻔَﻬَﺎﺀُ ﺍﻟْﺄَﺣْﻠَﺎﻡِ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﺧَﻴْﺮِ ﻗَﻮْﻝِ ﺍﻟْﺒَﺮِﻳَّﺔِ لا ﻳُﺠَﺎﻭِﺯُ ﺇِﻳﻤَﺎﻧُﻬُﻢْ ﺣَﻨَﺎﺟِﺮَﻫُﻢْ ﻳَﻤْﺮُﻗُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻛَﻤَﺎ ﻳَﻤْﺮُﻕُ ﺍﻟﺴَّﻬْﻢُ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺮَّﻣِﻴَّﺔِ ﻓَﺄَﻳْﻨَﻤَﺎ لقيتموهم فاﻗْﺘُﻠُﻮﻫُﻢْ ﻓَﺈِﻥَّ ﻓِﻲ ﻗَﺘْﻠِﻬِﻢْ ﺃَﺟْﺮًﺍ ﻟِﻤَﻦْ ﻗَﺘَﻠَﻬُﻢْ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ.” ‏(ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ وﻣﺴﻠﻢ ﻭﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﻟﺘﺮﻣﻲ ﻭﺃﺣﻤﺪ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ)

“Di akhir zaman nanti akan keluar segolongan kaum yang muda usianya, bodoh cara berpikirnya, mereka berbicara dengan sabda Rasulullah, namun iman mereka tidak sampai melewati kerongkongan. Mereka keluar dari agama Islam seperti anak panah tembus keluar dari (badan) binatang buruannya. Maka apabila kamu bertemu dengan mereka bunuhlah, karena membunuh mereka mendapat pahala disisi Allah pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad, Nasa’i, dan lainnya)

Maknanya,mereka adalah orang-orang yang masih muda lagi dangkal pikirannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Nanti akan muncul diantara umatku kaum yang membaca Al-Quran, bacaan kamu tidak ada nilainya dibandingkan bacaan mereka, dan shalat kamu tidak ada nilainya dibandingkan shalat mereka, dan puasa kamu tidak ada artinya dibandingkan puasa mereka, mereka membaca Al-Qur’an sehingga kamu akan menyangka bahwasanya Quran itu milik mereka saja, padahal sebenarnya Qur’an itu akan melaknat mereka, Tidaklah shalat mereka melalui kerongkongan mereka, mereka itu akan memecah agama Islam sebagaimana keluarnya anak panah daripada busurnya ” (HR. Muslim no.2467, Sunan Abu Daud no.4748 ).

Said al Khudri menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Nanti akan muncul diantara kamu kaum yang menghina shalat kamu dibandingkan dengan shalat mereka, dan puasa kamu dibandingkan dengan puasa mereka, amal perbuatan kamu dibandingkan dengan perbuatan mereka, mereka itu membaca Al-Qur’an tetapi bacaan mereka tidakakan melewati kerongkongan mereka, dan mereka akan memecah agama sebagaimana anak panah keluar dari busurnya.” (HR. Bukhari/5058 ).

Lihatlah tingkah laku wahabi saat ini sangat sesuai prediksi Rasulullah bahwa diakhir zaman ini hanya wahabi yg merasa dirinya paling alim sejagat raya sampai sampai semua umat islam diluar golongan mereka anggap tidak ada yg baik. Ini fakta yg bisa kita lihat dari tingkah pola wahabi. Wallahu a’lam

Semoga bermanfaat. Aamiin

والله الموفق الى أقوم الطريق

Views: 621

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini