
Kajen, nukotasantri.or.id – Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (RMI PWNU) Jawa Tengah menggelar kegiatan Sambang Pesantren putaran ke-10 di Pondok Pesantren Bustanul Mansuriyah, Rowolaku Kajen, Kabupaten Pekalongan, pada Senin (7/7/2025). Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi, konsolidasi, sekaligus edukasi bagi para pengasuh dan pengelola pesantren di Kabupaten Pekalongan.
Ketua RMI PWNU Jawa Tengah, KH. Fadhlullah Turmudzi, menjelaskan bahwa kegiatan Sambang Pesantren dilaksanakan untuk mendengar langsung masukan dan harapan dari para pengasuh pondok pesantren. “Melalui Sambang Pesantren ini, kami ingin sowan, mendengar, mencatat arahan, masukan, serta keinginan dari para kiai pengasuh pesantren,” tuturnya.
Menurutnya, kehadiran RMI PWNU Jateng ke pesantren-pesantren juga untuk mempererat koordinasi dan konsolidasi antar-RMI se-Jawa Tengah agar ada harmonisasi program kerja yang dijalankan. Ia menambahkan bahwa RMI ingin mengedukasi pengurus pesantren tentang tata kelola santri agar istiqamah dalam mengaji dengan kedisiplinan tinggi, serta memahami regulasi pengelolaan pondok pesantren yang berlaku.
“Kami juga hadir memberikan motivasi dan sosialisasi tentang bagaimana Aswaja, apa itu NU, dan bagaimana hubungannya dengan RMI dan pondok pesantren. Pemahaman kejam’iyahan penting disampaikan karena NU adalah pesantren besar dan pesantren adalah NU kecil,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh pengurus RMI untuk aktif menyambangi pesantren dan sowan kepada para kiai guna mempererat kebersamaan. “Mohon doa restu kepada para kiai untuk terus bersama merapatkan barisan. Bicara tentang NU tidak lepas dari pesantren, dan bicara tentang pesantren tidak bisa lepas dari madrasah diniyah. Pesantren adalah kekuatan NU dan madin adalah kekuatan pesantren,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua PCNU Kabupaten Pekalongan, Drs. KH. Muslikh Khudlori, M.S.I, menyampaikan apresiasi dan sambutan hangat atas kehadiran RMI PWNU Jateng di Kabupaten Pekalongan. “Kami menyampaikan ahlan wa sahlan atas kehadiran PWNU dan RMI Jawa Tengah yang nantinya memberikan pengalaman berharga, terutama bagi para pengurus sebagai pengendali pondok pesantren,” katanya.
Ia menekankan pentingnya pondok pesantren membekali diri dengan kemampuan literasi media. Menurutnya, berkembangnya informasi negatif di media tentang pesantren harus diantisipasi dengan cara pesantren memiliki media sendiri dan petugas yang kompeten dalam pengelolaannya. “Apa yang dilihat di media sosial tidak selalu benar. Ini perlu menjadi perhatian khususnya bagi pengasuh pondok pesantren,” tuturnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa di Kabupaten Pekalongan jumlah pondok pesantren terus bertambah sejak adanya Undang-Undang Pesantren. Saat ini tercatat ada 167 pondok pesantren. Namun demikian, beberapa pesantren yang sempat diberitakan negatif ternyata setelah ditelusuri tidak memiliki santri aktif. “Saya sangat setuju adanya sambang pesantren ini sehingga akan menambah khidmah kita untuk lebih hati-hati dalam mengelola pesantren,” tambahnya.
Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah, KH. Nur Machin Chudlori, menjelaskan bahwa Sambang Pesantren merupakan salah satu program unggulan RMI PWNU Jawa Tengah pada periode ini. “Kami tidak datang untuk memberikan solusi. RMI bukan akan memimpin pondok pesantren, RMI adalah khodam-khodam pondok pesantren,” katanya.
Ia menyadari bahwa mengelola pesantren saat ini penuh tantangan, mulai dari sulitnya mencari santri hingga isu negatif tentang pesantren di media massa. “Termasuk masalah lima hari sekolah, ini menjadi tantangan tersendiri bagi pesantren,” ungkapnya.
Kegiatan Sambang Pesantren ini diisi dengan beberapa halaqah. Ketua RMI PCNU Kabupaten Pekalongan, Kiai Lukman Hakim, menjelaskan bahwa halaqah pertama membahas kepengasuhan pesantren, isu strategis, pola asuh, pencegahan kekerasan seksual, dan peluang ekonomi pesantren. Halaqah kedua membahas konsolidasi dan koordinasi RMI PWNU Jawa Tengah dengan RMI PCNU Kabupaten Pekalongan terkait sosialisasi dan pemetaan kerja sama dengan mitra PWNU Jateng. Halaqah ketiga diikuti para pengurus pondok pesantren membahas pendataan santri, penanganan takziran, dan pengembangan media pesantren. Halaqah terakhir berupa seminar motivasi santri yang diikuti oleh para santri Pondok Pesantren Bustanul Mansuriyah.
Melalui kegiatan Sambang Pesantren ini, diharapkan terjalin komunikasi yang baik antara RMI PWNU Jawa Tengah dengan para pengasuh pesantren, serta semakin memperkuat peran pesantren sebagai benteng akidah dan penggerak peradaban umat di Jawa Tengah.
Kontributor: Syaikhul Alim
Views: 127







