
Kedungwuni, nukotasantri.or.id — Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU) Pekalongan merayakan hari jadinya yang keenam pada Kamis, 26 Desember 2024. Meski terbilang muda, ITSNU Pekalongan telah menciptakan berbagai inovasi teknologi terapan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Di antara inovasi tersebut adalah alat detektor tanah longsor, Smart Farming, alat deteksi dini stunting, dan aplikasi literasi batik nasional. Karya-karya ini dihasilkan melalui kolaborasi antara dosen, staf IT, dan mahasiswa.
Rektor ITSNU Pekalongan, Dr. H. M. Ali Imron, SE., M.Si., menyampaikan bahwa kampusnya fokus pada optimalisasi laboratorium untuk mendukung pengembangan teknologi.
“Kami memanfaatkan berbagai laboratorium kampus secara maksimal, mengintegrasikan kompetensi, keahlian, dan keterampilan mahasiswa, staf IT, serta dosen untuk menciptakan alat yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Ali kepada media.
Ia menambahkan, sejumlah inovasi yang telah dihasilkan telah diujicobakan melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bapperida) Kabupaten Pekalongan dan kelompok masyarakat. Saat ini, alat detektor tanah longsor tengah dalam proses pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) di Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Selama enam tahun eksistensinya, ITSNU Pekalongan juga aktif menjalankan misi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Beberapa program unggulan meliputi pemberdayaan masyarakat tingkat nasional di Desa Wisata Kayupuring dan Desa Paninggaran.
Selain itu, ITSNU Pekalongan menginisiasi pendirian Mini Museum Batik dan edu-corner literasi batik di Petukangan Wiradesa, mendirikan ITSNU Mart sebagai wadah pengembangan produk UMKM melalui pemasaran daring, serta menyediakan fasilitas untuk seleksi perangkat desa dan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) KPU Kabupaten Pekalongan.
Dalam momen peringatan hari jadi ini, ITSNU Pekalongan mengusung tema “Menuju Tata Kelola Perguruan Tinggi yang Berkelanjutan dan Berdaya Saing Internasional.” Rektor Ali Imron berharap kinerja kampus dapat terus berkembang hingga mencapai level internasional.
Sejak berdiri pada 26 Desember 2018, ITSNU Pekalongan telah memiliki tujuh program studi (prodi), terdiri dari empat program sarjana (Teknologi Komputer, Teknologi Industri, Teknologi Informasi, dan Fisika) serta tiga program diploma (Administrasi Perkantoran, Akuntansi, dan Kriya Batik). Semua prodi telah terakreditasi “Baik,” dengan Akuntansi mencapai akreditasi “Baik Sekali.”
Saat ini, ITSNU Pekalongan mendidik 1.450 mahasiswa, termasuk mahasiswa dari luar Pulau Jawa seperti Papua, NTB, Jambi, dan Sumatra. “Kehadiran mahasiswa dari berbagai daerah membuktikan bahwa ITSNU Pekalongan telah dikenal luas di Indonesia,” tutur Ali.
ITSNU Pekalongan juga menanamkan nilai-nilai karakter dan Aswaja melalui program Madrasah Al-Muta’adib dan Santri HighTech.
“Melalui program ini, kami berupaya mencetak mahasiswa yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia, sehingga ilmu dan adab berjalan seimbang,” jelas Ali.
Kebijakan ini telah berdampak positif, dengan banyak alumni ITSNU Pekalongan berhasil meraih pekerjaan di sektor pemerintahan, swasta, atau berwirausaha. Hingga kini, kampus telah meluluskan 747 mahasiswa.
Untuk mewujudkan visi sebagai perguruan tinggi berdaya saing internasional, ITSNU Pekalongan menjalin kerja sama dengan universitas di luar negeri, seperti di Malaysia, Hong Kong, dan Taiwan.
Selain itu, kampus terus meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui program studi lanjut dan pelatihan.
Dalam bidang prestasi, mahasiswa ITSNU Pekalongan juga telah mengukir berbagai pencapaian di bidang akademik, seni, dan olahraga, termasuk memenangkan kompetisi teknologi informasi, olahraga bela diri, hadroh, dan paduan suara.
Kontributor: Syaikhul Alim
Views: 73







