Pada hari Jum’at, 26 Muharam 1374 Hijriah yang bertepatan dengan tanggal 25 September 1954, lahirlah seorang bayi laki-laki di sebuah dusun kecil bernama Talok, yang terletak di Desa Sidorejo, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang. Bayi tersebut adalah putra pertama dari pasangan Wasadi dan Kastiah, dan diberi nama Wasi’in. Kehadiran bayi ini menjadi pelengkap kebahagiaan rumah tangga mereka. Dengan penuh rasa syukur, kedua orang tuanya menyambut kelahiran anak sulung ini sebagai anugerah dari Allah SWT. Sejak kecil, Wasi’in tumbuh dalam suasana penuh kasih sayang, dengan perhatian besar terhadap pendidikan agama yang ditanamkan langsung oleh sang ayah.
K.H. Wasi’in bin Wasadi bin Tarjani merupakan anak pertama dari enam bersaudara. Dalam masa kecilnya, beliau menunjukkan kecintaan terhadap ilmu, terutama ilmu agama. Pendidikan formal pertamanya ditempuh di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sidorejo Warungasem. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, semangat menuntut ilmunya membawanya melangkah lebih jauh ke Madrasah Tsanawiyah (MTS) Futhuhiyah yang berada di Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak. Di tempat inilah beliau tidak hanya menimba ilmu di bangku sekolah, tetapi juga nyantri di Pondok Pesantren Futhuhiyah yang diasuh oleh seorang ulama kharismatik, K.H. Muslih bin Abdurrahman. Dalam asuhan gurunya tersebut, K.H. Wasi’in mendalami berbagai cabang ilmu agama dengan ketekunan yang luar biasa, sambil aktif pula dalam kegiatan organisasi sekolah yang semakin membentuk kepribadiannya.
Tahun 1975 menjadi babak baru dalam kehidupan K.H. Wasi’in. Di usia 21 tahun, beliau mengikat janji suci pernikahan dengan seorang gadis muda bernama Kholipah, yang berasal dari Dukuh Rowobulus Tengah, Desa Kebonrowopucang, Kecamatan Kedungwuni (saat itu termasuk wilayah Kecamatan Karangdadap). Kholipah, yang enam tahun lebih muda darinya, menjadi pendamping hidup yang setia dalam perjuangan dakwah dan kehidupan rumah tangganya. Keputusan besar pun diambil: K.H. Wasi’in memutuskan untuk menetap di Karangdadap, sebuah wilayah yang kelak menjadi medan perjuangannya dalam menyebarkan nilai-nilai Islam dan membangun masyarakat.
Dari pernikahannya, K.H. Wasi’in dan Nyai Kholipah dikaruniai sebelas orang anak, yakni tiga laki-laki dan delapan perempuan. Anak-anak mereka adalah Furqon Hakim, Nok Zubaidah, Amat Muthohar, Nur Lazimah, Muhammad Hanif, Khotimatus Sholehah, Farikhatis Salamah, dan Risqia Fitriyani. Anak-anak ini tumbuh dalam suasana religius yang kental, mengikuti jejak orang tuanya dalam menanamkan nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan tanggung jawab sosial. Kehidupan K.H. Wasi’in yang sederhana, bersahaja, dan penuh dedikasi terhadap dakwah serta pendidikan agama menjadi teladan yang hidup dalam keluarga maupun masyarakat sekitarnya.
Sang Pendatang yang Menjadi Panutan
Memasuki tahun 1980-an, wajah sosial-keagamaan masyarakat Desa Kebonrowopucang masih belum tertata rapi. Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) saat itu masih bersifat kultural—hadir dalam tradisi dan amaliyah warga—namun belum terstruktur secara formal dalam bentuk organisasi. Di tengah kondisi tersebut, kehadiran K.H. Wasi’in sebagai sosok kiai muda dengan semangat dan pemikiran segar menjadi titik terang perubahan sosial dan religius di wilayah tersebut. Beliau tidak hanya disambut sebagai pendatang, tetapi juga dijadikan panutan karena kemampuannya dalam mengorganisir dan membina umat. Atas usulan masyarakat, K.H. Wasi’in kemudian diangkat sebagai syuriyah NU tingkat ranting di Kebonrowopucang.
Sebelum kedatangan beliau, kegiatan keagamaan dilakukan secara terpisah-pisah di tiap dukuh tanpa koordinasi atau sistem yang terpusat. Masyarakat hanya mengenal tokoh-tokoh lokal seperti Kyai Abdurrozaq—ayah dari K.H. Achmad Showy—yang menjadi rujukan utama. Ada pula kiai-kiai lain seperti Kyai Mukri, Kyai Abdul Halim, Kyai Harun, dan Kyai Abu Bakar yang turut berperan dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Namun seiring berjalannya waktu, satu per satu dari mereka wafat, menyisakan kebutuhan akan figur baru yang mampu melanjutkan estafet perjuangan dakwah. K.H. Wasi’in mengisi kekosongan tersebut dengan bijaksana dan bersahaja.

Selama masa kepemimpinannya di NU ranting, K.H. Wasi’in menghidupkan kembali berbagai kegiatan keagamaan. Beliau memprakarsai pengajian keliling dari satu dukuh ke dukuh lainnya, membina ibu-ibu melalui majelis ta’lim rutin setiap Senin dan Kamis sore dengan metode ceramah tradisional—kyai membaca kitab dan jamaah menyimak dengan saksama (dikenal sebagai “ngaji kuping”). Selain itu, setiap malam Kamis diadakan kegiatan pembacaan sholawat Nariyah (nariyahan), yang mempererat tali ukhuwah antarwarga. Dalam setiap pertemuan NU, beliau juga memfasilitasi kegiatan Bahtsul Masail—forum diskusi keagamaan untuk mencari solusi atas persoalan umat.
Dalam perjalanannya, KH. Wasi’in tak sendiri. Ia didampingi oleh murid setia sekaligus sahabat dekatnya, Rusdin Bakrie. Rusdin bukan hanya menemani beliau dalam aktivitas harian, tetapi juga membantu keuangan organisasi melalui jejaring rekan-rekannya di Jakarta, khususnya lewat PWK (Paguyuban Warga Kebonrowopucang), sebuah komunitas warga perantau yang tetap memiliki ikatan kuat dengan desa asalnya. Dukungan ini memperkuat gerakan dakwah K.H. Wasi’in, yang juga menjangkau tingkat kecamatan melalui perannya sebagai pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Karangdadap. Beliau adalah salah satu kiai termuda di antara tokoh-tokoh senior seperti K.H. Fasani, K.H. Sholyak, K.H. Makmur Anwar, dan K.H. Sahal.
Kiprah organisasinya yang luas menjadikan K.H. Wasi’in sosok yang selalu dipercaya dalam setiap konferensi MWC NU. Dalam banyak kesempatan, beliau mengutarakan keinginan kuatnya untuk mendirikan sekretariat sendiri bagi NU Karangdadap. Saat itu, wilayah Karangdadap masih menjadi bagian dari Kecamatan Kedungwuni. Namun dengan semangat kebersamaan, pemekaran wilayah akhirnya terealisasi, dan pada 25 Agustus 2000 Karangdadap resmi berdiri sebagai kecamatan mandiri. Momentum ini dimanfaatkan oleh K.H. Wasi’in untuk memperkuat NU, dengan mendirikan Majelis Wakil Cabang NU Karangdadap serta membentuk Pimpinan Anak Cabang IPNU dan IPPNU. Salah satu tokoh muda yang aktif saat itu adalah Khoirun Mukri.
Sebagai pribadi, K.H. Wasi’in dikenal sangat rendah hati, sabar, dan tulus dalam mengabdi kepada masyarakat. Meskipun pernah dihadapkan pada rasa iri dan penolakan dari sebagian kecil warga karena statusnya sebagai pendatang, beliau tetap istiqamah dalam dakwah. Kepiawaiannya dalam menyelesaikan konflik membuatnya sering diminta menjadi penengah dalam persoalan umat. Ketegasannya dalam menyampaikan kebenaran, ditambah dengan kemampuannya memberi jalan keluar, menjadikan K.H. Wasi’in sebagai sosok rujukan utama dalam berbagai persoalan umat, khususnya di wilayah tempat tinggalnya. Bahkan saat beliau tengah sakit, sahabat karibnya, Rusdin, harus membujuk agar tetap hadir dalam kegiatan NU, dengan syarat ia sendiri akan memijat beliau selama acara berlangsung—dan permintaan itu pun disanggupi.
Pendidikan: Jalan Perjuangan Sejati
Pendidikan adalah pemikiran terbesar dan paling utama dalam perjuangan K.H. Wasi’in. Baginya, mencerdaskan umat melalui ilmu agama bukan sekadar kewajiban, tetapi bagian dari misi dakwah yang hakiki. Pada tanggal 6 Februari 1998, beliau mendirikan Majelis Taklim Sabilul Huda, sebuah lembaga pendidikan nonformal yang menjadi rumah belajar bagi anak-anak di wilayah Kebonrowopucang dan sekitarnya. Majelis ini menaungi dua unit pendidikan, yakni Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dan Madrasah Diniyah (Madin).
Kegiatan TPQ dilaksanakan setiap malam selepas salat Maghrib, sedangkan Madrasah Diniyah diselenggarakan setiap sore hari. Pembelajaran difokuskan pada kitab-kitab dasar dan pembiasaan nilai-nilai Islam sejak dini. Kehadiran majelis ini disambut antusias oleh masyarakat, bahkan santri-santrinya tak hanya berasal dari sekitar rumah beliau, tetapi juga datang dari Dukuh Rowobulus Wetan, Bontotan Kaum, Rowobulus Lor, dan dukuh-dukuh lainnya. K.H. Wasi’in pun turun langsung dalam pengajaran dan pengelolaan, menunjukkan kesungguhan beliau dalam membina generasi muda.
Tak berhenti pada pendidikan nonformal, K.H. Wasi’in juga berperan besar dalam pendirian Sekolah Menengah Pertama Nahdlatul Ulama (SMP NU) di Karangdadap. Pada tahun 2002, bersama para pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Karangdadap dan aktivis NU, beliau menggagas pendirian sekolah tersebut melalui program bantuan Unit Sekolah Baru (USB) dari Bank Dunia. Program ini disalurkan melalui Dinas Pendidikan Jawa Tengah dalam bentuk Block Grant. Namun, prosesnya tidak mudah. Salah satu syarat penting adalah ketersediaan tanah seluas 5.000 meter persegi yang tidak terpisah, serta harus dinaungi oleh yayasan yang telah beroperasi.
Dengan semangat kebersamaan, K.H. Wasi’in berkoordinasi dengan Kepala Desa Karangdadap saat itu, Saifullah, yang bersedia melakukan tukar guling tanah kas desa (tanah bengkok) seluas 7.660 meter persegi. K.H. Wasi’in kemudian mengusulkan agar sekolah ini dinaungi oleh LP Ma’arif NU, sebuah lembaga pendidikan milik NU yang telah mapan. Beliau yang saat itu menjabat sebagai Rais Syuriah MWC NU Karangdadap, bersama tokoh-tokoh lainnya, mengadakan silaturahmi ke PCNU Kabupaten Pekalongan yang dipimpin K.H. Saiful Bahri, dan LP Ma’arif NU yang dipimpin Khotim Muhammad. Dukungan juga diperoleh dari tokoh masyarakat Kabupaten Pekalongan, Bisri Romli, yang kemudian memfasilitasi pertemuan dengan Bupati Ahmad Antono. Melalui koordinasi intensif, akhirnya ditandatangani MOU antara LP Ma’arif NU dan Pemkab Pekalongan, yang menyalurkan bantuan block grant untuk mendirikan SMP NU Karangdadap. Sekolah tersebut resmi dibuka pada 31 Desember 2003 oleh Gubernur Jawa Tengah, Mardiyanto.
Warisan Perjuangan dan Kehidupan Setelah Wafat
Pada tanggal 10 April 2010, KH. Wasi’in berpulang ke rahmatullah dalam usia 55 tahun. Beliau dimakamkan di pemakaman umum Dukuh Rowobulus Lor, Desa Kebonrowopucang. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Karangdadap. Wafatnya bukan hanya kehilangan seorang kiai, tetapi juga kehilangan sosok pengayom, pendidik, dan pemersatu umat. Meski demikian, perjuangan beliau tidak berhenti. Warisan yang ditinggalkan tetap hidup dan berkembang.
Majelis Taklim Sabilul Huda yang beliau dirikan masih aktif hingga kini, menjadi tempat belajar agama bagi anak-anak di lingkungan Kebonrowopucang. Pengajian rutin Senin–Kamis kini diteruskan oleh putra beliau, K.H. Furqon Hakim, yang kini juga menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah MWC NU Karangdadap sekaligus Syuriah Ranting NU di desanya. Sementara pengajian Ahad dan Rabu, yang dahulu diasuh K.H. Achmad Showy dan kemudian oleh adiknya, K.H. Amin Abdurrozaq, tetap berjalan. Tradisi nariyahan setiap malam Kamis kini diteruskan oleh Ustadz Turmudhi.
Selain itu, kegiatan ngaji malam Sabtu di masjid, serta Maulid Kanzus Sholawat yang pernah digagas oleh K.H. Wasi’in juga masih dilaksanakan secara rutin. Bahkan pengajian keliling yang terinspirasi dari gerakan dakwah beliau kini menjadi bagian penting dari tradisi keagamaan di Dukuh Rowobulus Wetan.
Melanjutkan Perjuangan: Warisan KH. Wasi’in untuk Generasi Mendatang
Biografi K.H. Wasi’in ini bukan hanya rangkaian cerita tentang seorang tokoh agama, melainkan sebuah narasi perjuangan yang mengakar dalam realitas sosial dan spiritual masyarakat pedesaan. Dari Talok, Sidorejo—dusun kecil yang melahirkan beliau—hingga ke Karangdadap, tempat pengabdian dan peristirahatan terakhirnya, K.H. Wasi’in telah menorehkan jejak pengabdian yang tidak lekang oleh waktu.
Di tengah keterbatasan dan situasi sosial yang belum tertata, K.H. Wasi’in hadir sebagai mata air keteladanan. Ia menyatukan masyarakat melalui dakwah, menghidupkan kembali tradisi keilmuan Islam yang hampir pudar, dan membangun pendidikan sebagai pilar utama peradaban. Pendiriannya terhadap Majelis Taklim Sabilul Huda, perannya dalam menghidupkan NU secara struktural, hingga keterlibatannya dalam mendirikan SMP NU Karangdadap, adalah bentuk nyata dari komitmen beliau dalam membangun masa depan umat—secara ruhani maupun intelektual.
Namun lebih dari itu, warisan terbesar K.H. Wasi’in bukanlah pada bangunan fisik atau jabatan organisasi, melainkan pada karakter: ketulusan hati, kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan dalam berbuat kebaikan. Nilai-nilai inilah yang terus hidup dan diteruskan oleh keluarga, murid, dan masyarakat yang pernah bersinggungan dengan beliau.
K.H. Wasi’in telah pergi, namun amal dan ilmunya terus mengalir. Kegiatan keagamaan yang beliau rintis masih berlangsung, pendidikan yang beliau tanamkan terus tumbuh, dan keteladanan hidupnya terus menjadi panutan. Dalam setiap lantunan doa anak-anak TPQ, dalam setiap pengajian yang digelar di musala-musala kecil, dalam setiap langkah pengurus NU yang ia bina—nama dan jasa beliau senantiasa hidup.
Biografi ini kiranya menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa satu kehidupan yang dijalani dengan keikhlasan dan dedikasi, mampu memberikan cahaya bagi banyak generasi. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal kebaikan beliau, menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya, dan menjadikan jejak perjuangannya sebagai inspirasi bagi kita untuk terus berbuat, meski dalam diam, demi maslahat umat. Al-Fatihah.
Kontributor : Khayatun Nufus
Editor : Mohammad Syaifuddin
Views: 143








