Beranda Warta PCNU Pekalongan: Santri Harus Implementasikan Teks Agama di Bidang Sosial dan Lingkungan

PCNU Pekalongan: Santri Harus Implementasikan Teks Agama di Bidang Sosial dan Lingkungan

589
0

Kedungwuni, nukotasantri – Ketua PCNU Kabupaten Pekalongan KH. Muslikh Khudori menyampaikan, santri jangan hanya sekadar menghadapi satu teks-teks agama tapi bagaimana teks agama itu bisa diimplementasikan di kehidupan nyata khususnya di bidang sosial. Begitu juga lembaga-lembaga yang lain yang ikut mendukung Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI).

“Harapannya lembaga-lembaga ini ketika menghadapi kegiatan di masyarakat khususnya yang berkaitan dengan bencana dan perubahan iklim semuanya bisa bersatu,”ucapnya, Sabtu (24/5/2025). 

Pernyataan itu disampaikan pada kegiatan Pelatihan Manajemen Posko dan Pusat Data Informasi oleh LPBINU Kabupaten Pekalongan, bertempat di Pondok Pesantren Baitul Muqoddas Kranji Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan.

Kiai Muslikh menyampaikan terimakasih kepada KH. Tajudin yang mengikutkan para santrinya dalam kegiatan ini. Filosinya bahwa agar para santri juga selalu dan bertambah respon terhadap perkembangan lingkungan perubahan iklim dan lain sebagainya. 

“Kita itu tidak bisa lepas dari bencana, mulai dari atas kemarin yang paling tinggi yaitu di daerah Petungkriyono kemudian turun sampai Doro, kemudian mengalir sampai Kranji mengalir sampai Pondok mengalir lagi ke utara sampai Tirto mengalir lagi sampai Wonokerto, itu semua adalah air. Alhamdulillah kita kerja lewat LPBI walaupun tidak seratus persen menyelesaikan karena itu juga tanggung jawabnya Pemerintah Daerah,”terangnya.

Disampaikan, bagi NU hal ini adalah kewajiban, harus bisa merespon perkembangan perubahan iklim di tengah-tengah masyarakat. Ini yang perlu digarisbawahi, seorang Nahdliyin tidak bisa tinggal diam, hanya berpangku do’a di atas sajadah memutar tasbih ‘ya allah mudah-mudahan musibah segera dihilangkan dari muka bumi Kabupaten Pekalongan’ misalnya, tidak bisa begitu. 

“NU lahir adalah merespon perkembangan masyarakat baik itu perkembangan yang terkait dengan akidah maupun perkembangan yang lain yang terjadi perubahan-perubahan iklim. Dan perubahan iklim perubahan suasana itu bisa menggerus, menipisnya aqidah ahlussunnah waljama’ah. Kalau ada sebuah perubahan, katakanlah banjir satu pintu. Kemudian masyarakat tidak bisa makan dan tidak bisa kerja tentu itu mengurangi kondisi perekonomian masyarakat,”imbuhnya.

Ketika masyarakat tidak berdaya datanglah penyelamat dari luar bahkan dari orang lain yang notabenenya bukan aktivis kira-kira akan diterima apa tidak? mesti diterima. 

“Nah ini, harus ada NU, NU harus ada. Ketika kepepet apapun bisa diterima. datang orang lain membawa fisik atau sembako. NU datang cuma membaca do’a, kira-kira pilih mana? yo mesti milih fisiknya. Oleh karena itu saya selalu mengikuti hal semacam ini bahkan mengikuti kegiatan-kegiatan LPBI,”pungkasnya.

Pengasuh Ponpes Baitul Muqoddas KH. Tajudin Sholeh menyampaikan bahwa Pekalongan adalah daerah yang dari selatan ke utara, utara ke selatan terjadi bencana sehingga yang di tengah pun ikut terdampak, seperti banjir yang pernah terjadi di Kranji.

“Tugas LPBI ini berat karena mewakafkan dirinya untuk siap membantu orang atau warga apabila ada bencana, ini kan tidak ringan,” ujarnya.

Ketua pelaksana sekaligus ketua LPBINU Kabupaten Pekalongan Eko Prasetyo menyampaikan, kegiatan ini bertujuan menyiapkan sumber daya manusia relawan NU yang mengerti tata kelola kebencanaan sekaligus mampu mengolah data informasi tentang segala sesuatu aspek kebencanaan (informasinya dijadikan satu). 

“Metode yang dilakukan adalah penyampaian materi, dialog dan simulasi kebencanaan,”tuturnya.

Kegiatan yang dilaksanakan dua hari satu malam ini dihadiri oleh 19 MWC se-Kabupaten Pekalongan beserta Badan Otonom NU, diikuti 100 peserta, serta pemateri dari LPBINU Kabupaten Magelang.

Pengirim: Khayatun Nufus
Editor: K. Anwar

Views: 88

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini