Biografi
Di sebuah desa yang terletak di Kecamatan Kandangserang, telah lahir seorang anak laki-laki yang kelak menjadi sosok pemimpin organisasi NU di Kecamatan Kandangserang. Beliau adalah H. Murtadho, S.Ag., yang lahir pada tanggal 26 Juli 1968 di Desa Lambur, merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Ia dilahirkan dari pasangan H. M. Wahmad dan Sundiyah Suwarni. Ayahnya adalah seorang pensiunan pegawai KUA dan sang Ibu merupakan seorang petani. Meski dikenal sebagai keluarga yang sederhana, namun mereka menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan Pendidikan. Sebagai anak terakhir, Murtadho tumbuh dalam suasana kekeluargaan yang hangat dan penuh perhatian dari saudara-saudaranya.
Perjuangan Menuntut Ilmu hingga Menyempurnakan Separuh Agama
Sejak kecil, Murtadho telah merasakan betapa beratnya perjuangan untuk menuntut ilmu. Di tengah keterbatasan, saat listrik belum menjangkau kampung halamannya, ia belajar hanya ditemani cahaya redup dari lampu templok. Namun, cahaya kecil itu tak pernah meredupkan semangat besarnya. Bahkan sejak duduk di bangku SMP, Murtadho sudah terbiasa hidup jauh dari keluarga, merantau demi menggapai pendidikan yang lebih layak. Kesendirian yang ia alami di usia belia justru menempanya menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri.
Ketika akhirnya berhasil melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, hidup hemat bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan yang sudah menjadi kebiasaannya. Ia membawa beras dan lauk pauk dari rumah untuk dimasak sendiri—bukan sekadar menghemat biaya, tapi sebagai wujud kesadaran akan perjuangan orang tuanya. Ayahnya hanyalah seorang pensiunan pegawai KUA, dan ibunya seorang petani yang bekerja di bawah terik matahari demi menyekolahkan anak-anaknya.
Kesederhanaan itu bukan sesuatu yang ia keluhkan, melainkan pelajaran hidup yang ia peluk erat. Dari sana tumbuh kedisiplinan, ketekunan, dan rasa syukur yang mendalam. Nilai-nilai itulah yang kelak membawanya menapaki satu per satu tangga kesuksesan. Murtadho bukan hanya berhasil melewati masa-masa sulit, tetapi juga menjadikannya sebagai fondasi kuat untuk meraih impian yang dulu tampak begitu jauh.
Perjalanan pendidikan Murtadho dimulai di SD Negeri 02 Lambur, Kecamatan Kandangserang. Setelah menamatkan sekolah dasar, ia melanjutkan ke MTs Gondang, Wonopringgo, Pekalongan, dan lulus pada tahun 1985. Tahun yang sama, ia diterima di PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) Pekalongan—yang kini dikenal sebagai MAN 2 Pekalongan.
Di masa itu, Murtadho tidak hanya menempuh pendidikan formal. Ia juga mulai nyantri di Pondok Pesantren Rohmatul Mubtadi’in Banyurip, Kota Pekalongan, di bawah asuhan Romo K.H. Mudzakir (1985–1988). Setelah menyelesaikan studi di PGAN, ia melanjutkan mondok di Pesantren Grogolan, Landungsari, Pekalongan, menimba ilmu dari Romo K.H. Nakhrowi (1988–1989).
Dedikasinya terhadap ilmu tak berhenti di situ. Tahun 1990, ia melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Tarbiyah, Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Wonosobo—yang kini dikenal sebagai UNSIQ. Selama kuliah (1990–1996), ia juga memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Al-Asy’ariyyah Kalibeber, Wonosobo, di bawah bimbingan Romo K.H. Muntaha Al-Hafidz.
Seiring perjalanan hidupnya, ia membangun keluarga yang bahagia bersama sang istri, Hj. Carmah, seorang perempuan yang sama-sama berasal dari Desa Lambur Kandangserang. Kemudian mereka dikaruniai tiga orang putri yang akan menjadi penerus harapan dan kebanggaannya. Mereka adalah Noviza Iffazul Husna, Ahda Febiya Salwa, dan Marizza Sofrou Ahda. Seperti dirinya, ketiga putrinya juga di didik keagamaan dan kedisiplinan yang kuat olehnya dan sang istri. Sehingga, tumbuh lah putrinya menjadi anak-anak yang cerdas, sopan, serta memiliki prestasi yang gemilang.
Dengan latar belakang Pendidikan agama dan pengalaman hidup yang kaya, H. Murtadho dikenal sebagai pribadi yang bijak, pemimpin yang baik, serta berdedikasi tinggi dalam membina masyarakat di lingkungannya.
Khidmah Tanpa Batas di Tanah Ketinggian
Murtadho memulai langkah khidmahnya di Nahdlatul Ulama pada tahun 1996 melalui salah satu banom di NU, yaitu Gerakan Pemuda Ansor. Dari titik awal itulah tumbuh kecintaan dan komitmen terhadap NU yang tak pernah luntur oleh waktu. Tahun 2005, ia mulai aktif dalam kepengurusan MWC NU Kecamatan Kandangserang. Amanah demi amanah datang silih berganti, hingga pada tahun 2011, ia dipercaya menjadi Ketua Tanfidziyah MWC NU Kandangserang.
Kepemimpinannya yang berlangsung hampir tiga periode bukanlah perjalanan yang mudah. Kecamatan Kandangserang, dengan kondisi geografisnya yang berupa pegunungan dan jarak antar desa yang berjauhan, menghadirkan tantangan tersendiri. Komunikasi antara MWC NU dan jajaran di tingkat ranting tidak selalu berjalan lancar. Namun, hal ini tidak pernah menyurutkan semangat Murtadho. Justru di sanalah letak keteguhan hatinya—menjadikan keterbatasan sebagai pemicu untuk bekerja lebih keras dan lebih ikhlas.
Bagi beliau, membangun dan mengembangkan NU di Kandangserang tidak bisa disamakan dengan daerah lain. Di sana, NU tumbuh dalam balutan kekeluargaan dan semangat gotong royong yang kental. Di masa awal kepemimpinannya, perjuangan masih dijalankan dengan pembiayaan mandiri—tanpa sokongan besar, tetapi penuh dengan tekad dan rasa tanggung jawab. Ia meyakini bahwa NU harus hadir secara nyata di tengah-tengah masyarakat, bukan hanya muncul saat terjadi masalah. Para pengurus, menurutnya, harus membersamai umat secara konsisten, menjadi bagian dari denyut kehidupan warga, bukan sekadar menunggu ketika ada problematika.
Selama masa khidmahnya, ia menggerakkan berbagai program keagamaan dan sosial yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, melibatkan seluruh elemen banom NU. Salah satu upaya penting yang ia lakukan adalah membenahi dan mengesahkan struktur Pengurus Ranting NU se-Kecamatan Kandangserang. Banyak ranting yang sebelumnya belum tertata secara administratif, kini mulai tersusun rapi—hasil dari ketekunan dan komitmen beliau dalam memperkuat akar organisasi hingga ke desa-desa.
Kepercayaan itu kembali datang pada Konferensi MWC NU tahun 2023. Kali ini, beliau diamanahi sebagai Rais Syuriyah untuk masa khidmah 2024–2029. Selain masih berkiprah sebagai seorang Rais Syuriyah, beliau saat ini juga mendapat amanah sebagai A’wan di PCNU Kabupaten Pekalongan dalam masa Khidmah yang sama. Bagi Murtadho, khidmah di NU bukan sekadar menjalankan struktur, melainkan bagian dari napas kehidupan yang menyatu dalam langkah-langkah pengabdiannya. Ia membuktikan bahwa di tengah medan berat dan keterbatasan, pengabdian yang tulus akan selalu menemukan jalannya.

Pengabdian di Dunia Pendidikan
Selain aktif berkhidmah di organisasi Nahdlatul Ulama, H. Murtadho juga mendedikasikan hidupnya bagi dunia pendidikan. Pengabdiannya sebagai seorang pendidik dimulai pada tahun 1996, saat ia mengajar sebagai guru agama di SMP Negeri 1 Kesesi. Dua tahun kemudian, pada 1998, beliau berpindah tugas ke SMP Negeri 1 Kandangserang—tempat di mana ia mengajar hingga saat ini.
Perjalanan kariernya sebagai guru tidaklah mudah. Ia memulainya sebagai tenaga honorer, dengan segala keterbatasan yang menyertainya. Namun, berkat ketekunan dan dedikasi yang tak pernah surut, beliau akhirnya diangkat sebagai guru Pegawai Negeri Sipil.
Sebagai guru Pendidikan Agama Islam, Murtadho dikenal tegas dan disiplin. Karakternya yang kuat dalam mendidik membuatnya dihormati oleh para siswa. Nilai-nilai keagamaan tidak hanya ia tanamkan di ruang kelas, tetapi juga ia teladankan dalam keseharian. Bagi beliau, menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan bentuk nyata dari pengabdian untuk mencerdaskan dan membimbing generasi muda dalam bingkai akhlak dan iman.
Beliau adalah cerminan nyata bahwa kesederhanaan bukanlah hambatan untuk meraih mimpi. Terlahir dari keluarga yang hidup apa adanya, beliau tumbuh dalam keterbatasan namun tidak pernah kekurangan semangat. Setiap tantangan dijadikan pijakan, bukan halangan. Dengan hidup hemat dan penuh kedisiplinan, beliau menapaki jalan pendidikan dengan tekun, membuktikan bahwa tekad dan kerja keras mampu mengubah keadaan. Ketekunan, kesabaran, dan sifat pantang menyerah yang tertanam sejak dini menjadi fondasi kuat yang mengantarkannya meraih keberhasilan. Kini, di balik senyumnya yang tenang, tersimpan kisah perjuangan yang menjadi inspirasi bagi siapa pun yang percaya bahwa mimpi besar bisa lahir dari tempat yang sederhana.
Kontributor : Tri Achyati Lestari
Editor : Mohammad Syaifuddin
Views: 60








