Beranda Warta Naharul Ijtima’ PCNU Pekalongan Dorong Penguatan Komunikasi Kewilayahan dan Kemandirian Dakwah Lokal

Naharul Ijtima’ PCNU Pekalongan Dorong Penguatan Komunikasi Kewilayahan dan Kemandirian Dakwah Lokal

134
0
Kegiatan Naharul Ijtima' PCNU Kabupaten Pekalongan Putaran ke-11 berlangsung di Masjid Baiturrohman Lebakbarang pada Ahad (05/10/2025) (Dok. LTNNU)

Lebakbarang, nukotasantri.or.id – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pekalongan kembali menggelar kegiatan Naharul Ijtima’ sebagai wadah silaturahim, kajian, dan pembahasan persoalan aktual yang dihadapi masyarakat. Kegiatan Naharul Ijtima’ putaran ke-11 tersebut diselenggarakan di Masjid Baiturrohman, Kecamatan Lebakbarang, pada Ahad (05/10/2025).

Acara diawali dengan istighotsah yang dipimpin oleh Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Pekalongan, KH. Baihaqi Anwar, diikuti dengan ngaji bareng Kitab Muqaddimah Qanun Asasi karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari bersama KH. Muhtaram sebagai qari’. Selain itu, kegiatan juga diwarnai dengan sesi tanya jawab dan diskusi terbuka mengenai berbagai persoalan aktual yang berkembang di tengah masyarakat.

Dalam sambutannya, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pekalongan, KH. Muslikh Khudlori, menegaskan bahwa NU harus selalu hadir sebagai solusi dan pemberi hikmah di tengah dinamika sosial masyarakat. “Menyikapi dinamika yang terjadi di tengah masyarakat, NU harus menjadi solusi yang baik. Namanya NU harus bisa memberikan hikmah. Hikmah adalah mengetahui sesuatu dengan ilmu,” ujarnya.

Kiai Muslikh juga menekankan pentingnya penguatan komunikasi antara pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU dengan para pemangku kebijakan di tingkat kecamatan. “Saya instruksikan kepada seluruh pengurus MWC untuk lebih intens berkomunikasi dengan Kapolsek, Camat, dan Danramil. Langkah ini penting agar dapat bersama-sama mengambil sikap dan kebijakan yang tepat dalam mengantisipasi potensi yang menimbulkan kerawanan sosial,” ujarnya.

KH. Muslikh juga mengingatkan agar MWC NU aktif memberikan informasi terkini yang terjadi di wilayah masing-masing, termasuk dinamika yang berkaitan dengan kelompok-kelompok tertentu. Menurutnya, informasi yang akurat dan komunikasi yang baik dengan unsur kewilayahan menjadi kunci untuk menjaga kondusivitas masyarakat.

Lebih lanjut, KH. Muslikh menyoroti fenomena meningkatnya pembangunan masjid dengan nama pribadi donatur yang mendapat aliran dana dari Timur Tengah, terutama dari kelompok yang berpaham Wahabi. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur dengan bantuan dana dari luar yang berpotensi memengaruhi arah ajaran dan kegiatan keagamaan. “Banyak masjid yang kegiatan imam, khatib, dan pengurusnya dikendalikan pihak luar. Kita harus waspada. Jangan mudah tergoda oleh bantuan dana dari kelompok Wahabi,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak warga Nahdliyin untuk mengutamakan keberadaan dai dan kiai lokal atau pribumi yang telah berkhidmat di tengah masyarakat. “Sudah saatnya kita memberi ruang lebih besar bagi para kiai dan dai lokal untuk berperan aktif dalam dakwah dan pembinaan umat,” tambahnya.

Di akhir sambutannya, KH. Muslikh menekankan agar pengurus NU tidak hanya terfokus pada pembangunan fisik seperti gedung MWC atau kendaraan operasional, tetapi juga memperbanyak kegiatan keilmuan dan penguatan spiritual. “Gedung dan fasilitas memang penting, tetapi jangan sampai kegiatan keagamaan dan kajian menjadi minim. Ruh perjuangan NU ada pada kegiatan dakwah, pendidikan, dan penguatan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah,” ujarnya menutup sambutan.

Sementara itu, KH. Muhtaram dalam kajian Muqaddimah Qanun Asasi menegaskan pentingnya menjaga kemurnian sanad keilmuan. Ia berpesan agar para pengurus NU di semua tingkatan mendorong putra-putrinya untuk menimba ilmu di pesantren yang sanad keilmuannya jelas dan bersambung kepada para ulama Ahlussunnah wal Jamaah. “Putra dan putri pengurus NU, baik di ranting, MWC, maupun cabang, wajib mondok di pesantren yang nasab keilmuannya benar-benar Ahlussunnah wal Jamaah,” ungkapnya.

Kegiatan Naharul Ijtima’ yang berlangsung penuh keakraban ini menjadi ajang konsolidasi sekaligus refleksi bagi seluruh pengurus dan jamaah NU Kabupaten Pekalongan. Melalui kegiatan rutin tersebut, PCNU Kabupaten Pekalongan berkomitmen untuk terus memperkuat ukhuwah, mengokohkan nilai-nilai keaswajaan, serta menjaga kemandirian dan kedaulatan dakwah di tingkat akar rumput.

Kontributor: Syaikhul Alim

Views: 38

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini