Beranda Warta Bahas Balad dan Ijtihad, Bahtsul Masail PWNU Jateng Teguhkan Peran Keilmuan NU

Bahas Balad dan Ijtihad, Bahtsul Masail PWNU Jateng Teguhkan Peran Keilmuan NU

236
0
Kegiatan Bahtsul Masail PWNU Jawa Tengah digelar di Aula PCNU Kabupaten Pekalongan, Ahad (25/01/2026) (Dok. LTNNU)

KEDUNGWUNI, nukotasantri.or.id – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah menggelar kegiatan Bahtsul Masail pada Ahad (25/01/2026) di Aula PCNU Kabupaten Pekalongan, Jalan Raya Karangdowo Nomor 9, Kedungwuni, Pekalongan. Forum keilmuan ini diikuti para kiai, pengurus syuriyah dan tanfidziyah, serta utusan dari berbagai cabang NU se-Jawa Tengah dan Ma’had Aly se-Jawa tengah untuk membahas persoalan-persoalan aktual umat dalam perspektif fiqh dan keilmuan Islam.

Kegiatan yang berlangsung sejak pagi tersebut dibuka secara resmi oleh Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Pekalongan, KH. Baihaqi Anwar. Sementara itu KH. Muslikh Khudlri, ketua PCNU Kabupaten Pekalongan menegaskan bahwa Bahtsul Masail tidak boleh berhenti pada aspek seremonial, tetapi harus benar-benar menjadi wahana pencarian solusi fiqhiyah dan ilmiah atas berbagai problem umat yang berkembang di masyarakat.

“NU berawal dari pesantren dan kegiatan bahtsul masail merupakan tradisi yang hidup di pesantren. Kegiatan Bahtsul Masail di NU adalah kelanjutan dari tradisi pesantren,” ungkap Kiai Muslikh di hadapan peserta.

Menurutnya, Bahtsul Masail merupakan ruh jam’iyah NU yang sejak awal menjadi denyut utama kehidupan organisasi. Karena itu, kesinambungan tradisi ini harus terus dijaga agar mampu menumbuhkan kesadaran ruhiyah sekaligus keilmuan di kalangan warga Nahdliyin. Ia meyakini, semakin intensif kegiatan Bahtsul Masail diikuti, semakin kuat pula ruh keilmuan dan spiritualitas jam’iyah.

Dalam konteks sosial kemasyarakatan, Kiai Muslikh menekankan bahwa hasil Bahtsul Masail harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat, tidak hanya dalam bidang diniyah, tetapi juga sosial, budaya, bahkan politik kebangsaan. Ia menyinggung kondisi Kabupaten Pekalongan bagian tengah yang saat ini tengah dilanda bencana banjir sebagai contoh konkret kebutuhan kehadiran NU di tengah masyarakat.

“Saat ini Kabupaten Pekalongan bagian tengah sedang dilanda banjir. NU harus hadir di tengah masyarakat dan menjawab kebutuhan masyarakat. PCNU hadir agar warga Nahdliyin mendapatkan solusi,” tegasnya.

Sementara itu, Katib Syuriyah PWNU Jawa Tengah, KH. Drs. Mohammad Muzammil, dalam khutbah iftitahnya menekankan pentingnya kekompakan antara jajaran syuriyah dan tanfidziyah dalam menjalankan roda organisasi. Menurutnya, tanfidziyah memiliki peran strategis dalam menyuplai data dan informasi yang valid sebagai dasar pengambilan keputusan organisasi.

“Dalam kegiatan LBM PWNU Jawa Tengah ini dihadirkan syuriyah dan tanfidziyah. Keduanya harus kompak, solid, dan bersama,” ujar Kiai Muzammil.

Ia menjelaskan bahwa dalam struktur kepengurusan NU terdapat unsur mustasyar, syuriyah, a’wan, dan tanfidziyah, serta perangkat organisasi berupa lembaga dan badan otonom. Keberhasilan organisasi, kata dia, sangat ditentukan oleh aktif tidaknya seluruh perangkat tersebut. Jika seluruh perangkat bergerak, organisasi dapat dikatakan berhasil, namun jika tidak aktif, maka dari sisi manajemen belum berjalan optimal.

Kiai Muzammil juga menandaskan bahwa kondisi PWNU Jawa Tengah saat ini berada dalam keadaan baik. Hal itu, menurutnya, pernah disampaikan langsung oleh Ketua Umum PBNU saat berkunjung ke Jawa Tengah. Ia mengingatkan bahwa perbedaan pendapat merupakan hal wajar, tetapi persatuan harus tetap diutamakan.

“Kita semua boleh beda pendapat, tapi persatuan harus diutamakan. Jangan sampai mufaroqoh,” katanya.

Ia mengibaratkan organisasi seperti sebuah orkestrasi, di mana beragam komponen dan bagian tampil serasi dan padu sehingga melahirkan harmoni dan keindahan. Dalam pandangannya, struktur kepengurusan tidak bisa dijadikan ukuran kealiman seseorang. “Bisa jadi yang di MWC atau PCNU lebih alim daripada yang ada di PWNU. Mari kita niatkan ngaji bersama,” ujarnya.

Dalam perspektif Aswaja, lanjut Kiai Muzammil, manusia dipandang secara utuh sebagai makhluk paling mulia yang dianugerahi akal, hati, dan wahyu melalui para utusan. Kedudukan wahyu, hati, akal, ulumul syariah, dan amal shalih harus diramu secara seimbang. Ia menggambarkan Bahtsul Masail sebagai ruang pertemuan wahyu, akal, dan hati, sehingga solusi yang dihasilkan bukan sekadar hukum formal, tetapi sebuah kebijaksanaan yang membawa kemaslahatan.

Terkait agenda pembahasan, Bahtsul Masail PWNU Jawa Tengah kali ini mengangkat dua persoalan pokok. Pertama, mengenai rekontekstualisasi konsep balad dalam kehidupan kebangsaan dan kemasyarakatan. Kedua, membahas persoalan qadla, ijtihad, serta fatwa yang dibatalkan, dengan merujuk secara mendalam kepada kitab-kitab kuning sebagai rujukan utama tradisi keilmuan pesantren.

“Mohon pemikiran para kiai dengan merujuk kepada kitab-kitab kuning. Tidak menutup kemungkinan muncul as’ilah lain, namun sebaiknya setiap persoalan yang diajukan sudah dibahas terlebih dahulu di tingkat MWC atau PC,” kata Kiai Muzammil.

Ia juga menekankan bahwa permasalahan yang diangkat dalam forum Bahtsul Masail harus benar-benar terjadi di tengah masyarakat, agar keputusan yang dihasilkan memiliki relevansi dan manfaat nyata.

Kegiatan Bahtsul Masail PWNU Jawa Tengah ini diharapkan mampu memperkuat peran NU sebagai organisasi keagamaan yang responsif terhadap dinamika zaman, sekaligus menjaga kesinambungan tradisi keilmuan pesantren. Dengan menghadirkan sinergi antara syuriyah dan tanfidziyah, forum ini menjadi ruang strategis untuk merumuskan pandangan keagamaan yang arif, moderat, dan solutif bagi kehidupan umat dan bangsa.

Kontributor: Syaikhul Alim

Views: 29

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini