Beranda Warta Dari Tasawuf ke Ekologi: Pesan Spiritual Gus Muwafiq untuk Menyelamatkan Bumi

Dari Tasawuf ke Ekologi: Pesan Spiritual Gus Muwafiq untuk Menyelamatkan Bumi

187
0

Pekalongan – UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan sukses menggelar Seminar Nasional bertajuk “Jihad Ekologis” di Gedung Student Center, Selasa (28/4/2026), dengan menghadirkan Gus Muwafiq sebagai narasumber utama.

Dalam pemaparannya, Gus Muwafiq menekankan bahwa persoalan kerusakan lingkungan sejatinya merupakan persoalan moral dan spiritual manusia. Ia mengaitkan fenomena krisis ekologi dengan pesan-pesan Al-Qur’an tentang amanah manusia sebagai khalifah di bumi, yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga, bukan merusak.

Menurut ulama kharismatik NU ini, manusia kerap terjebak dalam sikap berlebihan (israf) dan keserakahan yang mendorong eksploitasi alam tanpa batas. Padahal, dalam ajaran Islam, keseimbangan (mizan) merupakan prinsip utama dalam menjaga harmoni kehidupan.

“Apa yang kita pakai hari ini sejatinya adalah hasil dari pengerukan bumi. Make up, semir, baterai, lipstik, baju, dan lain-lain. Ini menunjukkan bahwa manusia sangat bergantung pada alam, sekaligus memiliki tanggung jawab besar untuk menjaganya,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an telah memberi peringatan tegas tentang kerusakan di muka bumi akibat ulah manusia. Oleh karena itu, menjaga lingkungan bukan sekadar pilihan sosial, tetapi bagian dari ibadah dan bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

Lebih lanjut, Gus Muwafiq mengajak peserta untuk menghidupkan kembali nilai-nilai tasawuf sebagai jalan spiritual dalam merespons krisis ekologi. Melalui tasawuf, manusia diajak untuk membersihkan hati (tazkiyatun nafs), mengendalikan hawa nafsu, serta menumbuhkan sikap zuhud terhadap eksploitasi berlebihan terhadap dunia.

“Dunia akan baik-baik saja tanpa manusia, ikan akan banyak lagi, laut jadi jernih, burung jadi banyak. Tapi dunia jadi sepi jika hanya diserahkan kepada malaikat. Untuk mengembalikan keseimbangan ekologi, kita harus kembali ke tasawuf, menata hati, mengurangi keserakahan, serta menumbuhkan tanggung jawab terhadap seluruh ciptaan,” pungkasnya.

Kegiatan yang mengangkat tema “Spiritualitas Sufi dalam Merespon Krisis Ekologi dan Energi” ini menjadi ruang refleksi bersama mengenai urgensi menjaga kelestarian lingkungan di tengah kerusakan yang semakin nyata.

Rektor UIN Gus Dur, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag., dalam sambutannya menegaskan bahwa kampus memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran ekologis. Perguruan tinggi, menurutnya, tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga agen perubahan dalam menjaga lingkungan hidup.

“Civitas akademika harus terlibat langsung dalam aksi nyata, seperti penanaman pohon, pengelolaan sampah berbasis lingkungan, serta berbagai program berkelanjutan lainnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. Zaenal menekankan pentingnya integrasi nilai-nilai kepedulian terhadap alam dalam kegiatan akademik maupun non-akademik. “Dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengimplementasikan praktik ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat,” tegasnya.

Seminar yang dihadiri sekitar 700-an peserta ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif serta mendorong langkah konkret dalam upaya pelestarian lingkungan di berbagai sektor kehidupan.

Pewarta: Khairul Anwar

Views: 30

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini