Beranda Warta PCNU Pekalongan Gelar Halal bi Halal, Kiai Chalwani Ingatkan Pentingnya Kesepakatan Ulama

PCNU Pekalongan Gelar Halal bi Halal, Kiai Chalwani Ingatkan Pentingnya Kesepakatan Ulama

124
0

Pekalongan, NU Kota Santri – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pekalongan mengadakan acara Halal bi Halal dan Pengajian Umum bertempat di Aula Lantai I Gedung PCNU Kabupaten Pekalongan, Selasa (5/5/2026). Hadir sebagai pembicara K.H. Achmad Chalwani, Rais Am Jatman.

Dalam tausiyahnya, K.H. Achmad Chalwani menyampaikan, apabila ada ormas keagamaan yang berdiri tanpa kesepakatan para ulama, jangan diikuti karena jarang benarnya. 

“Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asyari membuat NU tidak sendirian, ada peran dari K.H. Wahab Hasbullah, K.H. Bisri Samsuri, Mbah Romli Tamim Peterongan, Mbah Kiai Mas Alwi Abdul Aziz Surabaya, Mbah Kiayi Fiqih Mas Kumambang Gresik, Mbah Kiai Abdul Halim Lemuiding Sumedang Jawa Barat, Mbah Kiai Maksum Lasem, Mbah Baidowi Lasem, dan Mbah Kiai Saleh Lateng Banyuwangi. Jadi, terbentuknya NU ini atas kesepakatan para ulama,” Ujarnya.

K.H. Achmad Chalwani juga berpesan, hari ini banyak yang mendirikan ormas keagamaan tapi yang mendirikan bukan kesepakatan para ulama. Tolong hati-hati jangan ikuti.

“Maka saya minta putri-putri yang sepuh ikut muslimat, yang muda-muda ikut fatayat, putra-putra yang muda ikut banser ansor. Mbah Ali Maksum pernah berkata kalau orang NU harus memahami empat hal ini, yaitu pertama, almarifatu binnahdlotil ulama. Kedua, assiqatu binnahdlatil ulama. Ketiga, al jihadu fi nahdlotil ulama, dan yang keempat asobru fi nahdlatil ulama.” tambahnya.

Maksud dari pernyataan di atas artinya: pertama, orang NU harus mengerti NU itu apa. Kedua, orang NU harus percaya dengan NU. Ketiga, orang NU harus berjuang di NU, dan keempat, orang NU harus sabar berproses dengan NU.

Syekh Nawani al-Bantani lanjutnya, pernah mengatakan bahwa NU itu ibarat kendaraan. NU itu ibarat kereta api. Masinisnya boleh berganti-ganti tapi rute tidak bisa berganti. NU bukan taksi yang seenaknya sendiri saat menyetir. Ini dimaksudkan agar semuanya mendapat barokahnya para masyayikh NU dalam berkhidmat.

“NU memiliki ciri khas seperti kedaraan kereta api yang memiliki rute atau sanad keilmuan yang jelas. Walaupun pemimpin NU berganti-ganti, tapi rute atau sanad keilmuan NU tidak boleh terputus,” terang Kiai Chalwani.

K.H. Achmad Chalwani juga menerangkan sejarah yang jarang dibahas dalam dunia Pendidikan dan majelis ilmu. Menurutnya, sosok Kartini juga mengaji kepada Mbah Soleh Darat tentang tafsir Quran. Kartini berpesan kepada Mbah Kiai Soleh Darat untuk menulis tafsir 30 Juz al-Quran ke dalam Bahasa Jawa agar bisa dipelajari oleh perempuan-perempuan Jawa di sekitar Kartini. “Maka, pesan saya kepada orang-orang NU harus sabar dan mantap kepada NU,” tegasnya.

Ketua PCNU Kabupaten Pekalongan K.H. Muslih Khudlori menegaskan bahwa melalui forum halal bi halal ini, seluruh jajaran pengurus dan warga Nahdliyin diharapkan dapat mempererat persatuan, meneguhkan komitmen dalam menjaga nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah, serta meningkatkan peran aktif dalam pelayanan keumatan.

“Kehadiran Kiai Chalwani menjadi energi spiritual bagi kita semua untuk terus mengabdi kepada umat dan bangsa dengan penuh keikhlasan dan kebersamaan,” ujarnya.

Halal bi Halal kali ini memperkuat gagasan NU untuk kebangsaan dan menelusuri tokoh-tokoh NU yang berkiprah dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Forum ini dihadiri oleh seluruh banom-banom NU, mulai dari PCNU, MWCNU, Muslimat, Fatayat, Banser, Ansor, IPNU, IPPNU, dan lain-lain.

Kontributor: Ihza Maulina
Editor: Khairul Anwar

Views: 51

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini