Beranda Warta Idaroh Ghusniyyah Jatman Kedungwuni Kaji Kitab Tanwirul Qulub

Idaroh Ghusniyyah Jatman Kedungwuni Kaji Kitab Tanwirul Qulub

88
0

Kedungwuni, NU Kota Santri – Pertemuan Rutin Pengurus Idaroh Ghusniyyah JATMAN Kecamatan Kedungwuni dilakukan setiap 3 bulan sekali dengan tujuan untuk menjalin silaturahmi dan penguatan organisasi para pengurus. Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh (JATMAN) ini merupakan badan otonom dari Nahdlatul Ulama yang berfokus pada kegiatan yang berkaitan dengan tasawuf atau thoriqoh, yang mana didalamnya terdapat berbagai macam thoriqoh yang dianut oleh para pengurusnya.    

Dalam pertemuan rutin tersebut juga dihadiri dari Perwakilan MWC NU Kedungwuni dan ISNU Kedungwuni yang ikut berpartisipasi. Adapun tempatnya dilakukan secara bergantian dirumah para pengurus dengan harapan agar saling mengenal satu dengan yang lainnya. Acara pertemuan rutin ini diawali dengan pembacaan tahlil, kajian kitab, dan diskusi.  

Kajian kitab Tanwirul Qulub dipimpin oleh Kyai Ahmad Ahsin (Rois MWCNU Kedungwuni) yang dalam pertemuan tersebut beliau menjelaskan beberapa hal penting tentang tasawuf, bahwa dalam tasawuf yang menjadi fokus adalah masalah hati. “Kita tidak bisa menilai seseorang hanya dengan tampak luarnya saja, belum tentu mereka yang berpakaian bagus, berpangkat tinggi, punya mobil mewah, rumah bagus, harta banyak  tidak bertasawuf . Bisa saja previlege tersebut digunakan untuk sarana mendekatkan diri pada Allah SWT” terang Kyai Ahsin.

Kemudian beliau menjelaskan, ada beberapa hal atau cara yang bisa dilakukan untuk seseorang yang ingin makrifat atau dekat mengenal kepada Allah bisa dilakukan dengan 6 cara sebagai berikut: Pertama, Beribadah kepada Allah dengan berbagai ragam ibadah. Kedua, Alim yang mengajarkan ilmunya. Ketiga, Muta’allim atau orang yang secara istiqomah ngaji / belajar ilmu agama. Keempat, Pejabat yang adil dan amanah terhadap rakyat yang dipimpinnya, Kelima, Orang yang bekerja mencari rezeki yang halal, Keenam, Orang yang mengesakan Allah dengan sungguh-sungguh.

Sehingga siapapun berkesempakan untuk bisa berthoriqot mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah sesuai dengan posisinya masing-masing, tidak perlu iri terhadap posisi orang lain, karena setiap orang mempunyai peran dan maziyyah (kelebihan) masing-masing, jalani saja perannya dengan sebaik mungkin, yang hal tersebut bisa menjadi wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah.   

Dalam tasawuf terdapat 2 maqom atau posisi seseorang, yaitu Maqom Tajrid yang mana dalam maqom ini seseorang diberikan karunia untuk bisa beribadah kepada Allah tanpa harus bekerja seperti umumnya orang, dan Maqom Asbab yang mana ia harus bekerja atau berikhtiyar untuk mencari rezeki yang bisa digunakan untuk sarana mendekatkan kepada Allah. Kedua Maqom tersebut sama-sama bagus karena bisa digunakan untuk beribadah dan berbuat baik agar menjadi hamba yang dicintai Allah.   

Pengirim: Mufti Zamani
Editor: Anwar

Views: 41

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini