Beranda Tokoh KH. Busro Al-Khofi: Perjalanan Pengabdian, Keilmuan, dan Keteladanan dalam Kehidupan Bermasyarakat

KH. Busro Al-Khofi: Perjalanan Pengabdian, Keilmuan, dan Keteladanan dalam Kehidupan Bermasyarakat

468
0
KH. Busro Al-Khofi, Karangdowo Pekalongan.

Latar Belakang dan Keluarga

KH. Busro Al-Khofi, atau yang dikenal juga sebagai KH. Busro Alkhofi (Elchofi), lahir di Desa Kranji, Pekalongan, pada 13 Juni sebelum 1945. Beliau adalah putra bungsu dari lima bersaudara, anak pasangan Ahmad Fadholi bin Dzul Yazan dan Karnate binti Salami. Pada masa penjajahan Belanda, keluarganya sempat mengungsi ke wilayah Kajen hingga ke daerah pegunungan akibat agresi Belanda di Kranji.

Sejak kecil, KH. Busro telah menunjukkan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Setelah kehilangan ayah di usia dini, pendidikan beliau dilanjutkan di bawah bimbingan kakaknya, KH. Khafid, yang memiliki latar belakang agama yang kuat. Untuk memastikan lingkungan pendidikan yang kondusif, KH. Busro dipindahkan ke Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin di Rembang, di bawah asuhan KH. Bisri Musthofa (ayahanda Gus Mus). Di pesantren ini, KH. Busro belajar selama 15 tahun, memperdalam ilmu agama yang menjadi fondasi kehidupannya.

Perjalanan Keluarga dan Awal Pengabdian

KH. Busro menikah dengan Hj. Lum’ah, putri dari KH. Syafi’i dan Hj. Nok Murati binti Tasmi’un, tokoh terpelajar di Karangdowo. Awalnya, KH. Busro sempat merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai penjahit selama lima tahun. Namun, atas permintaan mertuanya, beliau kembali ke Karangdowo untuk mengurus Musholla Ma’badil ‘Ubbad, yang didirikan oleh KH. Syafi’i. Musholla ini menjadi tempat beliau berdakwah dan berkhidmat kepada masyarakat selama lebih dari 40 tahun.

Ketika KH. Busro tiba di Karangdowo, kondisi keagamaan di desa ini belum berkembang seperti di Kranji, yang sudah dikenal sebagai kampung santri. Melalui pendekatan yang penuh kasih dan teladan, KH. Busro berhasil membangun semangat keagamaan masyarakat Karangdowo.

Kontribusi di Nahdlatul Ulama

KH. Busro Al-Khofi memiliki perjalanan panjang dalam berkhidmat di Nahdlatul Ulama (NU). Kariernya di NU dimulai dari MWCNU Kedungwuni pada tahun 1980-an. Beliau kemudian dipercaya menjabat Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pekalongan pada tahun 1990-an dengan Rais Syuriyah KHR. Mas Syarifudin. Selain itu, beliau juga pernah menjadi Wakil Katib PWNU Jawa Tengah dan Dewan Penasehat MUI Kabupaten Pekalongan.

KH. Busro juga menjadi ketua panitia pembangunan Masjid Al-Mukhtarom di Kajen dan aktif menggerakkan pemuda untuk terlibat dalam kegiatan keagamaan dan sosial. Beliau sangat telaten mendampingi pemuda Karangdowo dalam kegiatan tahlil, berzanji, dan berbagai amaliyah warga NU.

Kehidupan Bermasyarakat

KH. Busro dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul dan dekat dengan masyarakat. Beliau rajin bersilaturahmi dan sering diminta menjadi imam shalat jenazah, memimpin pembacaan manaqib, serta memberi nama anak-anak warga sekitar. Ketekunan dan keikhlasannya membuat beliau dihormati oleh masyarakat Karangdowo.

Beliau juga seorang pendakwah yang aktif mengisi pengajian di berbagai daerah, seperti Karangdowo, Kranji, Kajen, Proto, Tangkil, dan lainnya. Suara beliau yang merdu menjadikannya sempat mengikuti lomba MTQ hingga tingkat wilayah, bersaing dengan Hj. Rofiqoh Darta Wahab, putri KH. Munawir.

Kehidupan Pribadi dan Inspirasi

KH. Busro adalah pengagum berat KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sosok Gus Dur menjadi inspirasi utama dalam kehidupan ber-NU beliau. Dalam ceramahnya, KH. Busro memegang prinsip memperkuat NU tanpa menyentuh isu politik, terutama pada masa Orde Baru ketika ceramah keagamaan diawasi ketat oleh aparat.

Dari pernikahannya dengan Hj. Lum’ah, KH. Busro dikaruniai lima anak: Siti Ibrizah, Siti Najikha, Siti Zulfa, Muhammad In’am, dan Ahmad Farid, yang melanjutkan tradisi keilmuan keluarga.

Akhir Hayat

KH. Busro Al-Khofi wafat pada Sabtu, bulan Safar/Januari 2012, di usia 69 tahun di RSI Pekajangan. Beliau dimakamkan di makam keluarga, tepatnya di belakang Musholla Ma’badil ‘Ubbad, Karangdowo. Warisan keteladanan, keilmuan, dan pengabdian beliau terus hidup dalam kenangan masyarakat dan para santri yang pernah merasakan bimbingannya.

(Ditulis Kembali dengan penyesuaian dari Buku “Tokoh-Tokoh Nahdlatul Ulama Kabupaten Pekalongan, Penyusun Drs. H. Imronudin, M.S.I)

LTN NU Kabupaten Pekalongan

Views: 164

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini