Beranda Hikmah Kisah Lelaki Cacat yang Jadi Kekasih Allah dan Berkafan Kain Sutra

Kisah Lelaki Cacat yang Jadi Kekasih Allah dan Berkafan Kain Sutra

175
0


Di sebuah kota yang jauh dari hingar-bingar dunia, hiduplah seorang lelaki dengan kondisi yang tak biasa. Ia buta, tak memiliki tangan maupun kaki, namun wajahnya selalu bersinar dengan ketenangan yang sulit dijelaskan. Orang-orang yang melintas di dekatnya sering kali merasa iba, tetapi lelaki itu sendiri tak pernah terlihat meratapi nasibny

Suatu hari, seorang ulama bernama Khalaf bin al-Barza’i melewati tempat di mana lelaki tersebut tinggal. Rasa penasaran menyelimutinya, hingga ia memutuskan untuk menyapa sang lelaki.

“Wahai saudaraku, bagaimana keadaanmu?” tanya Khalaf dengan penuh perhatian.

Lelaki itu mengangkat kepalanya sedikit, seolah-olah sedang menatap ke arah Khalaf meski matanya kosong. Dengan suara yang tenang, ia menjawab, “Aku selalu diliputi oleh cinta Kekasihku. Saat bersamanya, aku tak pernah merasa kesakitan atau kesedihan. Dia selalu mengingatku, dan aku pun tak pernah melupakannya.”

Khalaf terdiam sejenak, mencoba mencerna kata-kata lelaki tersebut. “Siapakah kekasih yang engkau maksud?” tanyanya lebih lanjut.

Sang lelaki tersenyum lembut. “Dia yang tak pernah meninggalkan hamba-Nya. Dia yang kehadirannya lebih nyata daripada dunia yang kasat mata. Dialah Allah, Rabb yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

Jawaban itu menggugah hati Khalaf. Tak ingin meninggalkan lelaki tersebut dalam kesendiriannya, ia pun menawarkan sebuah ide. “Bagaimana jika aku mencarikan seorang istri untukmu? Seorang perempuan yang bisa menemanimu dan merawatmu?”

Tak disangka, mendengar tawaran itu, lelaki tersebut justru menangis. Matanya yang buta menatap ke langit, bibirnya bergetar sebelum akhirnya ia berseru dengan penuh kerinduan, “Duhai Kekasih hatiku!”

Detik berikutnya, tubuhnya melemas dan ia jatuh pingsan. Khalaf panik dan segera berusaha membangunkannya. Saat akhirnya lelaki itu sadar, Khalaf bertanya, “Apa yang kau katakan barusan? Mengapa kau menangis?”

Namun, lelaki itu justru balik bertanya dengan keheranan. “Mengapa engkau ingin menikahkanku? Aku telah memiliki segalanya! Aku adalah pemilik dunia ini. Aku telah memiliki semua yang aku butuhkan.”

Khalaf terkejut mendengar jawabannya. Ia menatap lelaki itu penuh rasa ingin tahu. “Apa maksudmu? Kau tak memiliki tangan, kaki, bahkan penglihatan. Bagaimana bisa kau mengklaim memiliki segalanya?”

Lelaki itu tersenyum dengan penuh ketenangan. “Karena hatiku telah penuh dengan cinta-Nya. Aku ridha dengan segala ketetapan-Nya. Bukankah ridha adalah kebahagiaan sejati? Aku tak butuh apa pun selain Dia.”

Tak lama setelah percakapan itu, lelaki tersebut meninggal dunia dengan wajah tersenyum. Khalaf yang begitu terkesan dengan keimanan lelaki itu merasa bertanggung jawab untuk mengurus jenazahnya. Ia pun menyediakan kain kafan untuk membungkus tubuh sang lelaki. Namun, karena kainnya terlalu panjang, Khalaf memotong sebagian untuk digunakan kembali.

Malamnya, Khalaf mengalami mimpi yang menggetarkan jiwa. Dalam mimpinya, ia mendengar sebuah suara berkata, “Wahai Khalaf, mengapa engkau begitu pelit terhadap kekasih-Ku? Engkau memotong kain kafan untuknya, padahal dia adalah hamba yang istimewa. Kini, Aku akan mengafani jenazahnya dengan kain sutra.”

Terbangun dari tidurnya dengan tubuh bergetar, Khalaf segera menuju ruangan tempat ia menyimpan kain kafan. Betapa terkejutnya ia saat mendapati potongan kain yang sebelumnya ia gunakan untuk membungkus jenazah lelaki itu telah kembali ke tempatnya. Ia tersadar bahwa Allah benar-benar telah memuliakan lelaki yang sepanjang hidupnya hanya merasakan cinta-Nya.

Pelajaran Moral:

Ridha sebagai Puncak Keimanan

    Kisah ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah dari memiliki segalanya, tetapi dari menerima segala ketentuan Allah dengan hati yang lapang.

    Cinta Sejati kepada Allah

    Lelaki ini telah membuktikan bahwa cinta kepada Allah adalah sumber ketenangan sejati, melebihi cinta kepada dunia dan segala isinya.

    Keikhlasan yang Dibalas dengan Kemuliaan

    Siapa yang mencintai Allah dengan tulus, maka Allah akan mencintainya kembali dan memuliakannya, bahkan setelah kematiannya.

    Dunia Bukan Segalanya

    Harta, fisik yang sempurna, atau pasangan hidup bukanlah ukuran kebahagiaan sejati. Justru, kebahagiaan tertinggi adalah merasa cukup dengan cinta dan kasih sayang Allah.

    Penulis: Syaikhul Alim

    Views: 21

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini