Beranda Hikmah Kisah Si Pendosa yang Diampuni Karena Merawat Anak yatim

Kisah Si Pendosa yang Diampuni Karena Merawat Anak yatim

540
0

Imam Al-Ghazali dalam Mukasyafatul Qulub pernah mengisahkan tentang seorang pria dari Basrah yang dikenal sangat buruk akhlaknya. Semasa hidup, ia dihindari banyak orang karena perilakunya yang jahat dan kerap mabuk-mabukan. Hingga ketika ajal menjemputnya, tak ada satu pun orang yang sudi memikul jenazahnya, apalagi menshalatkannya.

Istrinya yang sedih terpaksa membayar dua orang hanya untuk mengangkat jenazah suaminya ke musholla agar bisa dishalatkan sebelum dimakamkan. Namun ternyata, di musholla pun tidak ada yang mau menshalatinya. Akhirnya, sang istri membawa jenazah itu ke tanah lapang untuk dimakamkan sendiri.

Tak jauh dari tanah lapang itu, tinggal seorang ahli ibadah yang rumahnya berada di atas gunung. Tiba-tiba, sang ahli ibadah turun gunung dan berjalan mendekati jenazah. Melihat hal itu, para penduduk yang awalnya enggan menoleh kini penasaran dan mengikuti langkah sang ahli ibadah. Mereka bertanya-tanya, kenapa orang sebaik dia mau menshalati jenazah pria jahat itu?

Setelah menshalati jenazah tersebut, orang-orang bertanya kepada sang ahli ibadah, “Wahai guru, apa yang membuatmu sudi turun gunung dan menshalati orang ini, padahal semua orang menolaknya?”

Dengan tenang sang ahli ibadah menjawab, “Aku diperintahkan oleh Allah SWT melalui mimpiku semalam. Dalam mimpi itu aku mendengar suara berkata: Turunlah dan shalatkan jenazah si fulan. Tidak ada yang mau menshalatinya, padahal Aku telah mengampuni semua dosanya.”

Jawaban itu membuat para penduduk semakin heran. Bagaimana mungkin seseorang yang dikenal buruk bisa diampuni dosanya oleh Allah SWT?

Sang ahli ibadah kemudian mendekati istri almarhum dan bertanya, “Wahai ibu, adakah kebaikan yang pernah dilakukan suamimu semasa hidupnya?”

Sang istri terdiam sejenak lalu menjawab dengan jujur, “Seperti yang orang-orang ketahui, sehari-harinya suami saya hanya mabuk-mabukan dan jarang sadar.”

Sang ahli ibadah menimpali, “Cobalah ibu ingat lebih dalam, pasti ada kebaikan yang pernah ia lakukan dengan tulus.”

Sang istri menarik napas dan matanya berkaca-kaca, lalu perlahan berkata, “Iya… ada tiga hal yang selalu suami saya lakukan. Pertama, meskipun sering mabuk, setiap subuh ketika ia sadar, ia selalu mandi, berwudhu, dan shalat subuh berjama’ah di masjid. Kedua, rumah kami tak pernah sepi dari anak yatim. Ia sangat menyayangi mereka, bahkan melebihi kasih sayangnya kepada anak kami sendiri. Ketiga, setiap kali sadar di tengah malam, ia sering menangis tersedu, menatap ke langit seraya berkata, Ya Allah, di manakah tempat di neraka yang Engkau siapkan untuk orang sehina diriku ini?”

Mendengar penuturan itu, sang ahli ibadah meneteskan air mata. Ia pun menoleh kepada para penduduk dan berkata, “Inilah rahasia ampunan Allah. Bukan seberapa banyak amalnya yang tampak di mata manusia, melainkan ketulusan hatinya yang hanya dilihat oleh Allah SWT.”


✅ Hikmah Kisah:

Kadang, kebaikan kecil yang kita lakukan dengan tulus, meskipun di sela dosa-dosa kita, menjadi pintu rahmat dan ampunan dari Allah SWT. Ia tidak menilai banyaknya amal, melainkan keikhlasan dan istiqamah kita untuk terus berbuat baik serta menyesali dosa-dosa kita.

Penulis: Syaikhul Alim

Views: 75

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini