Beranda Opini Refleksi Hari Raya Kurban: Dari Spirit Ibadah Menuju Kemandirian Umat

Refleksi Hari Raya Kurban: Dari Spirit Ibadah Menuju Kemandirian Umat

592
0

Oleh: Syamsul Arifin

(Dosen UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan/Pengurus PAC ISNU Kec. Kajen Pekalongan)

Setiap kali Idul Adha tiba, suasana masjid dan lapangan mendadak jadi lebih hidup. Takbir menggema di mana-mana, warga ramai berkumpul, dan hewan-hewan ternak berbaris menanti giliran untuk disembelih. Akan tetapi, di balik semaraknya, kita seringkali lupa: kurban bukan sekadar soal ibadah ritual, namun juga punya dimensi sosial dan ekonomi yang kuat.

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa tujuan utama kurban bukan pada daging atau darahnya, melainkan pada ketakwaan kita.

“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian…” (QS. Al-Hajj: 37).

Artinya, nilai kurban itu tidak hanya berhenti pada ritual penyembelihannya saja, namun juga pada dampaknya: seberapa besar kita mampu menebar manfaat, meringankan beban sesama, dan menggerakkan ekonomi umat.

Kurban dan Perputaran Ekonomi Umat

Setiap tahun, jutaan hewan disembelih di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Di balik angka itu, ada perputaran ekonomi yang besar: dari peternak lokal, pasar hewan, jagal, transportasi, hingga pengelolaan daging. Ini semua membuka peluang penghasilan bagi banyak pihak. Jika dikelola dengan baik, kurban bisa menjadi “mesin ekonomi umat” yang luar biasa.

Sayangnya, belum semua potensi ini dimanfaatkan secara maksimal. Banyak peternak kecil masih bergantung pada tengkulak, dan belum mampu mendapatkan akses ke pasar kurban yang lebih besar. Hal ini disebabkan antara lain minimnya permodalan, informasi, dan juga dukungan dari lembaga keuangan syariah.

Dalam ekonomi Islam, sirkulasi kekayaan menjadi salah satu perhatian sentral. Allah Swt memperingatkan agar harta tidak hanya berputar di kalangan orang kaya saja:

“…agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian.”
(QS. Al-Hasyr: 7).

Dengan demikian, kurban seharusnya mampu menjadi salah satu cara nyata untuk mendistribusikan kekayaan secara adil, bukan malah memperkuat ketimpangan.

Dari Konsumtif ke Produktif

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Tidak ada amalan yang paling dicintai Allah di hari raya Idul Adha selain menyembelih hewan kurban.” (HR. Tirmidzi).

Hadis ini menggambarkan pentingnya kurban secara spiritual. Namun kemudian, muncul suatu gagasan: bagaimana jika kita bisa mengembangkan kurban ini menjadi program ekonomi produktif?

Bayangkan misalnya, kurban dilakukan lewat kerja sama dengan koperasi peternak berbasis masjid atau pesantren. Modalnya bisa didapatkan dari lembaga zakat atau BMT (Baitul Maal wat Tamwil), dengan sistem bagi hasil syariah seperti mudharabah atau wakaf ternak. Saat Idul Adha tiba, hewan-hewan dari peternak binaan bisa diserap langsung, tanpa melalui tengkulak. Harga menjadi lebih adil, dan peternak semakin sejahtera.

Kurban sebagai Wasilah Kemandirian Umat

Spirit kurban bermula dari kisah luar biasa Nabi Ibrahim yang rela “mengorbankan” hal paling berharga dalam hidupnya demi ketaatan kepada Allah Swt. Di era sekarang, bentuk pengorbanan dapat dimaknai secara lebih luas. Misalnya, bersedia untuk berbagi kekayaan dan memutus rantai distribusi yang timpang, serta mendukung implementasi sistem ekonomi yang lebih adil.

Jika setiap tahun pelaksanaan kurban hanya sebagai bentuk seremonial belaka, manfaatnya akan cepat hilang. Akan tetapi jika kurban dikelola sebagai gerakan ekonomi umat — dengan pembinaan, pendampingan, dan sinergi kelembagaan — dampaknya dapat dirasakan dalam jangka panjang dan berkelanjutan.

Kita dapat memulainya dari langkah kecil: membeli hewan kurban dari peternak lokal, mengajak lembaga zakat untuk menyusun program pemberdayaan, atau membangun platform distribusi yang transparan. Dengan demikian, kurban tidak sekadar menjadi simbol ketaatan, namun juga dapat menjadi wasilah untuk membangun ekonomi yang lebih adil dan mandiri, serta mendorong pemberdayaan umat.

Views: 162

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini