Beranda Warta Naharul Ijtima’ PCNU Kabupaten Pekalongan Soroti Fenomena Imam yang Tidak Disukai Jamaah

Naharul Ijtima’ PCNU Kabupaten Pekalongan Soroti Fenomena Imam yang Tidak Disukai Jamaah

373
0
Kegiatan Naharul Ijtima’, Silaturrahmi dan Istighotsah Ngaji Kitab Attibyan karya Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari pada Ahad (6/7/2025) bertempat di Majlis Taklim dan Dzikir Al Mubarok Gondang Wonopringgo (Dok. LTNNU)

Wonopringgo, nukotasantri.or.id – PCNU Kabupaten Pekalongan kembali menggelar kegiatan Naharul Ijtima’, Silaturrahmi dan Istighotsah Ngaji Kitab Attibyan karya Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari pada Ahad (6/7/2025) bertempat di Majlis Taklim dan Dzikir Al Mubarok Gondang Wonopringgo. Kegiatan ini dihadiri Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Pekalongan KH. Baihaqi Anwar, jajaran pengurus harian Syuriyah dan Tanfidziyah, pengurus Lembaga PCNU, pengurus MWCNU se-Kabupaten Pekalongan, serta pengurus ranting se-MWCNU Wonopringgo.

Acara dimulai dengan pembacaan istighotsah yang dipimpin langsung oleh KH. Baihaqi Anwar, dilanjutkan tahlil oleh Wakil Rais Syuriyah KH. Muchosin Zabidi, kemudian sambutan-sambutan. Dalam sambutannya, KH. M. Nur Alif Wasnadi yang mewakili Ketua PCNU Kabupaten Pekalongan menekankan pentingnya kekompakan dan kebersamaan seluruh pengurus dalam mendukung program PCNU.

“Termasuk pembangunan fisik Pondok Pesantren An Nahdliyah di Kesesi yang saat ini sedang kita genjot. Pembangunan TPQ An Nahdliyah di Wonokerto sudah rampung, renovasi aula PCNU juga hampir selesai tinggal tahap finishing. Kami juga berharap pengurus NU mendukung program kelembagaan seperti KBIHU An Nahdliyah untuk bimbingan umroh dan haji,” ungkapnya.

Acara inti berupa pembacaan Kitab Attibyan dibacakan oleh KH. Muhtarom. Sesi tanya jawab berlangsung cukup hangat dan memantik perhatian para hadirin. Salah satu pertanyaan diajukan oleh KH. Badrudin Syukri, Rais Syuriyah MWCNU Sragi, yang menyinggung fenomena di masyarakat terkait imam sholat yang tidak disukai jamaahnya namun tetap ngotot menjadi imam, bahkan sampai mendirikan musholla sendiri.

“Ini perlu menjadi perhatian Nahdlatul Ulama, bagaimana solusi terbaiknya,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, KH. Muhtarom menjelaskan berdasarkan hadis yang dikutip Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam Kitab Attibyan, bahwa tidak diterima sholat seorang lelaki yang mengimami suatu kaum sementara mereka membencinya. Namun, lanjutnya, penyebab ketidaksukaan itu harus karena alasan syar’i, bukan karena urusan duniawi seperti perbedaan partai politik.

Sementara itu KH. Baihaqi Anwar menambahkan, biasanya munculnya ketidaksukaan jamaah kepada imam disebabkan kekurangan atau kelemahan yang bersangkutan baik dalam hubungan dengan Allah (hablum minallah) maupun dengan sesama manusia (hablum minannas). Namun, ia juga menekankan perlunya para kiai yang sudah sepuh untuk mawas diri, khususnya jika sudah tidak fasih membaca Al-Qur’an.

“Kalau misalnya beliau sudah tidak fasih lagi bacaan Al-Qur’annya, ada baiknya memberi kesempatan kepada yang muda-muda untuk menggantikan. Bisa dipastikan kalau seseorang sholat sementara imamnya tidak disukai, maka sholatnya tidak akan khusyuk,” terangnya.

Kegiatan Naharul Ijtima’ yang rutin digelar PCNU Kabupaten Pekalongan ini diakhiri dengan doa bersama dan ramah tamah. Para jamaah tampak antusias mengikuti rangkaian acara dari awal hingga selesai. Selain sebagai wadah silaturahmi dan penguatan organisasi, kegiatan ini juga menjadi sarana menimba ilmu dan hikmah dari para kiai.

Kontributor: Syaikhul Alim

Views: 62

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini