Jejak Kecil Sang Kiai: Antara Tradisi, Keterampilan, dan Cinta
Pada tahun 1930 silam lahirlah seorang anak laki-laki dari pasangan santri K.H. Damanhuri bin K.H. Muhammad Nur dengan Makrunah binti H. Nur Khazin, anak tersebut diberi nama Sukhayak. K.H. Sukhayak bin K.H. Damanhuri bin K.H. Muhammad Nur tumbuh menjadi anak yang mandiri, cerdas dan berbakat. Ayah K.H. Sukhayak adalah seorang pengasuh pondok pesantren yang cukup dikenal di berbagai daerah dan pengasuh majelis taklim di kampungnya. Dari pondok tersebut lahir santri-santri yang kemudian menjadi tokoh agama di daerah asalnya. Berasal dari latar belakang keluarga agamis dan kental dengan tradisi pesantren, tak heran jika beliau sejak kecil sudah dibekali ilmu agama oleh ayahnya. Selain ilmu agama, K.H. Sukhayak juga memiliki keterampilan dalam bidang seni, sosial dan mahir dalam keterampilan praktis sehingga dikenal sebagai seorang yang multitalenta. Memiliki keterampilan tangan yang luar biasa dan hobi berburu ikan di sungai beliau membuat berbagai kerajinan seperti jala ikan, jaring, dan kepis (wadah ikan). Kemampuannya dalam berkomunikasi dan bergaul membuat beliau disenangi banyak orang dan memiliki jaringan pertemanan yang luas. Dikenal sebagai sosok yang hangat dan pribadi yang terbuka, membuatnya dicintai dan dihormati banyak orang dan teman di lingkungan sekitarnya terutama sahabat seperjuangannya dalam menempuh pendidikan. Hal itu pun yang membuatnya dikagumi banyak perempuan, namun K.H. Sukhayak terpikat dengan salah satu perempuan sederhana bernama Kharirah. Dengan niat yang mantap dan keberaniannya beliau mendatangi ayah Kharirah yang bernama Azhar untuk mengkhitbahnya. Kharirah pun menerimanya, kemudian mereka menikah dan dikaruniai enam anak laki-laki dan empat anak perempuan yaitu Sirojul Munir, Umi Khabibah, Khusniyati, Umi Kholilah, Muhammad Syakirin, Filusufi, Khumaidah, Saikhul Bahri, Bahrul Ilmi dan Muhammad Hafidz Amrullah yang kelak akan melanjutkan perjuangannya. Beliau beserta keluarga kecilnya tinggal di Dukuh Pegandon Tengah Desa Pegandon RT 04/ RW 02, Kecamatan Karangdadap Kabupaten Pekalongan dalam keharmonisan dan kesederhanaan.
Pegawai Negeri, Seniman NU, dan Ulama Umat
Dalam menjalani kehidupannya, K.H. Sukhayak bekerja menjadi pegawai di Kantor Urusan Agama (KUA). Selama bekerja beliau selalu disiplin dalam menjalankan perintah, sosok yang tegas dan menjunjung tinggi sikap hormat kepada atasan maupun bawahan. Sahabatnya salah satu pejabat yang terkenal cerdas dan tegas yaitu Ali Muakhor, kepala Kementrian Agama Kabupaten Pekalongan kala itu. Berkat kepribadiannya itu, meningkatkan kariernya secara signifikan dari staf biasa hingga dipercaya menjadi kepala KUA. Bahkan beliau pernah mendapatkan penghargaan dari Presiden Republik Indonesia karena dedikasi dan pengabdiannya dalam menjalankan tugas negara. Namun karena jenjang pendidikannya yang hanya sampai pada Sekolah Rakyat (Sekolah Dasar) saja membuat kariernya tak bisa naik meskipun banyak peluang jabatan yang lebih tinggi waktu itu. K.H. Sukhayak juga aktif di salah satu lembaga di bawah naungan organisasi besar Nahdlatul Ulama (NU) yaitu Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (LESBUMI) Ranting Desa Pegandon, sebuah kelompok seni yang pernah go public pada masanya, serta sering tampil di berbagai daerah seperti Cirebon, Indramayu, Kendal, Batang, Pekalongan, dan sekitarnya. Jabatannya di LESBUMI sebagai pemimpin dan juga sutradara.
Semasa hidupnya K.H. Sukhayak mengabdikan dirinya di masyarakat, terutama dalam hal agama. Beliau adalah salah satu kyai yang ahli dalam ilmu fikih dan seorang pendidik lintas jenjang yang berdedikasi. Dalam kesehariannya beliau mengajar di majelis taklim, masjid, dan musholla yang tersebar di Desa Pegandon dan sekitarnya dengan rasa semangat, tulus dan ikhlas. Kegiatan dakwah dan pendidikan Islam yang beliau lakukan menjadi bagian dari rutinitasnya. Terkadang beliau menyempatkan diri mengurus kebun dan sawah di sela-sela kesibukannya bekerja dan menjadi tokoh masyarakat. Menurutnya, hidup harus mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.

Satu Yayasan, Seribu Harapan
Bagi K.H. Sukhayak Pendidikan Agama sangatlah penting. Pendidikan Agama harus ditanamkan sejak dini, namun beliau tak melihat adanya hal itu di daerah tempat tinggalnya. Beliau berniat ingin membangun yayasan yang bisa menaungi lembaga pendidikan Islam, bersama rekan-rekannya beliau mendirikan yayasan yang sampai sekarang dikenal dengan Yayasan Pendidikan Islam Bustanul Iman Pegandon (YPBI). Hal pertama yang beliau lakukan adalah mendirikan Lembaga Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Bustanul Iman (MIBI) Pegandon. Yayasan tersebut adalah cikal bakal berdirinya Roudlotul Atfal (RA) Bustanul Iman, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Islam dan juga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Fatayat NU Pegandon dalam jangka waktu yang ditentukan. Selain Pendidikan formal beliau juga mendirikan pendidikan non-formal yaitu Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) Nurussibyan dan Madrasah Diniyah Bustanul Iman Pegandon. Setiap gajinya selalu beliau sisihkan untuk membangun yayasan tersebut.
Kesehariannya beliau jalani dengan baik, membimbing dan menyampaikan ilmu agama dengan sabar dan telaten melalui media pengajian rutin baik di dalam maupun di luar kampungnya. Waktu pun kian berlalu, dimasa tuanya K.H. Sukhayak semakin fokus berdakwah, beliau juga membuka pintu rumahnya bagi siapa saja yang ingin curhat mengenai permasalahan hidupnya, kemudian beliau memberikan nasehat dan menawarkan solusi bagi permasalahan tersebut. Hidup sederhana dan bermanfaat adalah keinginannya hingga akhir hayat. Tepat di usia 73 tahun K.H. Sukhayak menghembuskan nafas terakhir, kembali kepada sang Khaliq (Allah SWT). Masyarakat berbondong-bondong datang ke kediamannya untuk melayat dan mendo’akan beliau. Kepulangannya meninggalkan duka yang mendalam terutama bagi orang-orang terdekatnya karena kehilangan sosok pembimbing, guru, pengayom dan teladan. Namun jasa-jasa dan peninggalannya akan selalu dikenang banyak orang.
Peninggalan Sang Kiai
Pertama, Lembaga Pendidikan Bustanul Iman, merupakan lembaga pendidikan pertama yang didirikan .KH. Sukhayak dengan tujuan memadukan antara pendidikan Madrasah Diniyah (ilmu agama) dan Pendidikan Dasar (ilmu umum) sehingga tidak terjadi kesenjangan diantara keduanya. Lembaga ini berdiri pada tahun 1971 Masehi dengan dukungan operasional dari pertunjukan seni LESBUMI Bustanul Iman Pegandon yang kemudian namanya diabadikan menjadi nama lembaga pendidikan tersebut. Namun lembaga ini mulai beroperasi pada tahun 1973 M.
Kedua, Musholla Al-Masyhuri, semasa kehidupan K.H. Sukhayak belum banyak bangunan-bangunan mewah seperti sekarang, masih banyak tanah-tanah lapang yang bertuan. Di salah satu tempat, tepatnya di tengah kampung beliau terdapat pusat pendidikan agama dan tempat tinggal para santri yang didirikan oleh KH. Damanhuri, yang lebih dikenal dengan Mansyuri. Tahun 1993 M pusat pendidikan tersebut kemudian dialihfungsikan menjadi musholla karena semakin berkembangnya lembaga pendidikan yang lebih memadai diberbagai tempat. Musholla tersebut diberi nama “Al-Mansyuri” sebagai penghormatan terhadap pendiri pusat pendidikan yang juga pemilik tanah tersebut. Meski beralihfungsi namun pendidikan agama masih tetap berjalan, setiap habis maghrib anak-anak dan para remaja di sekitar musholla berbondong-bondong pergi mengaji di musholla tersebut, KH. Sukhayak adalah salah satu kyai yang mengajar di musholla hingga akhir hayatnya yang kemudian dilanjutkan oleh putranya hingga saat ini.
Ketiga, gedung Serba Guna (Aula), sebidang tanah wakaf yang dikelola oleh K.H. Sukhayak dibangun gedung serbaguna yang digunakan untuk kegiatan-kegiatan masyarakat seperti pengajian, sosial keagamaan, rapat dan lain-lain. Hingga saat ini gedung tersebut masih beroperasi. Selain gedung serbaguna, sebagian lain dari tanah wakaf tersebut dimanfaatkan untuk perluasan area pemakaman umum.
Keempat, SMP Islam Pegandon, para tokoh masyarakat desa Pegandon saat itu sedang rapat untuk membangun SMP untuk para remaja disana. Sebelumnya, para siswa SMP tersebut menumpang belajar di MIBI Pegandon setiap sore hari. Setelah melalui banyak pertimbangan dan dukungan dari K.H. Sukhayak akhirnya diputuskan pembangunan gedung SMP ditanah milik desa yang sebelumnya digunakan untuk kebun PKK di RT 01 RW 01. SMP tersebut kemudian diberi nama SMP Islam Pegandon. Seiring berjalannya waktu SMP Islam Pegandon semakin berkembang, memiliki fasilitas yang lebih lengkap sebagai penunjang pendidikan.
Kontributor : Khayatun Nufus
Editor : Mohammad Syaifuddin
Views: 206








