Beranda Warta Pengasuh Ponpes Al-Qutub: Tak Hanya Berdimensi Ekologi, Pesantren Hijau juga Miliki Nilai...

Pengasuh Ponpes Al-Qutub: Tak Hanya Berdimensi Ekologi, Pesantren Hijau juga Miliki Nilai Sosial, Agama, dan Ekonomi

484
0
Pengasuh Ponpes Al-Qutub KH. Sabilal Rosyad (tengah berpeci putih) berfoto dengan peserta Pesantren Hijau, Rabu (1/10/2025)

Wonopringgo, nukotasantri – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qutub, KH. Sabilal Rosyad, menegaskan bahwa gerakan Pesantren Hijau memiliki nilai yang sangat penting, tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi kehidupan sosial, agama, dan ekonomi masyarakat.

“Dari sisi ekologi, kerusakan lingkungan sudah semakin terasa. Dari sisi sosial, menanam pohon memiliki nilai tinggi karena dengan pohon kita bisa bersedekah oksigen kepada orang lain. Dari sisi agama, tentu hal ini menjadi bagian dari ibadah. Sementara dari sisi ekonomi, gerakan ini juga memberi manfaat nyata bagi kesejahteraan,” jelasnya.

Pernyataan itu disampaikan pada acara Kick Off Hari Santri Nasional yang digelar oleh PCNU Kabupaten Pekalongan, Rabu (1/10/2025). Pada kegiatan yang dikemas dengan pelatihan Pesantren Hijau ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Qutub, Kecamatan Wonopringgo. Tema yang diangkat adalah “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia.’”

Pelatihan ini diikuti oleh dua santri delegasi dari masing-masing 25 pondok pesantren se-Kabupaten Pekalongan. Kegiatan berlangsung dengan rangkaian materi, diskusi, serta praktik langsung di lingkungan Pondok Pesantren Al Qutub.

Para peserta mendapatkan materi mengenai Orientasi Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim, serta Teknik Budidaya yang disampaikan oleh pemateri dari Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU).

Ketua LPBINU Kabupaten Pekalongan, Eko Prasetyo, menjelaskan bahwa program Pesantren Hijau merupakan langkah strategis untuk memberdayakan potensi pesantren agar mampu memberi kontribusi nyata bagi lingkungan dan masyarakat.

“Melalui Pesantren Hijau kita ingin mengajak santri untuk merawat jagat dan membangun peradaban,” ujarnya.

Eko menambahkan, program serupa sebelumnya telah terlaksana di Pesantren Baitul Muqoddas, Kedungwuni, dan mendapat sambutan positif. Ke depan, peserta pelatihan akan mengembangkan ilmu yang diperoleh dengan membentuk kelompok tani santri yang dipantau LPBI NU bersama LPPNU.

Salah satu peserta pelatihan, Adzim dari Ponpes Ittihadus Syafi’iyah, mengaku mendapatkan banyak ilmu baru yang bisa langsung dipraktikkan di pesantrennya. Ia menuturkan bahwa di pondoknya sudah ada tanaman singkong, cabai, dan pisang, namun selama ini teknik penanaman belum maksimal.

“Alhamdulillah, setelah mengikuti pelatihan ini saya jadi tahu cara pemupukan yang benar, misalnya jangan terlalu dekat dengan batang. Selama ini kami sering menanam tanpa teori, jadi sering gagal. Dari kegagalan itu akhirnya kami belajar, dan dengan ilmu baru ini insyaAllah bisa lebih berhasil,” ungkapnya.

Pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama sebagai wujud hablum minallah, tetapi juga ruang membangun peradaban yang baik melalui hablum minannas, serta tempat santri menghidupi peran sebagai khalifatullah fil ardh dengan menjaga alam (hablum minal-alam).

Kontributor: Maelal Marom
Editor: K. Anwar

Views: 127

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini