Beranda Warta PCNU Kabupaten Pekalongan Jadi Tuan Rumah Bahtsul Masail PWNU Jateng Putaran Ke-4

PCNU Kabupaten Pekalongan Jadi Tuan Rumah Bahtsul Masail PWNU Jateng Putaran Ke-4

194
0
Kegiatan Bahtsul Masail Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah digelar di Aula PCNU Kabupaten Pekalongan, Jalan Raya Karangdowo No. 9 Kedungwuni pada Ahad (25/01/2026) (Dok. LTNNU)

KEDUNGWUNI, nukotasantri.or.id — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pekalongan menjadi tuan rumah pelaksanaan Kegiatan Bahtsul Masail Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah putaran ke-4 yang digelar pada Ahad (25/01/2026). Kegiatan berlangsung di Aula PCNU Kabupaten Pekalongan, Jalan Raya Karangdowo Nomor 9, Kedungwuni, dan diikuti puluhan peserta dari berbagai unsur NU se-Jawa Tengah.

Forum ilmiah keagamaan ini dihadiri jajaran Pengurus Syuriyah dan Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, perwakilan dari 36 Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCNU se-Jawa Tengah, serta perwakilan Ma’had Aly dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Dari unsur internal Kabupaten Pekalongan, hadir jajaran Pengurus Syuriyah dan Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pekalongan, perwakilan LBM MWCNU se-Kabupaten Pekalongan, serta utusan pondok pesantren di wilayah tersebut.

Ketua LBMNU Kabupaten Pekalongan, Kiai M. Khamim, mengungkapkan bahwa Bahtsul Masail PWNU putaran ke-4 ini menjadi forum strategis untuk membahas persoalan-persoalan aktual yang membutuhkan jawaban fiqhiyah yang mendalam dan kontekstual. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya bersifat rutinitas organisasi, tetapi juga menjadi sarana penting dalam menjaga kesinambungan tradisi keilmuan pesantren di tubuh NU.

“Putaran ke-4 Bahtsul Masail PWNU Jawa Tengah ini membahas dua persoalan pokok. Pertama tentang rekontekstualisasi konsep balad, dan yang kedua mengenai qadla, ijtihad, serta fatwa yang dibatalkan,” ujar Kiai Khamim di sela kegiatan.

Ia menjelaskan bahwa tema-tema tersebut dipilih karena memiliki relevansi kuat dengan dinamika kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat saat ini. Rekontekstualisasi konsep balad, menurutnya, penting untuk memperjelas batasan-batasan wilayah hukum dalam konteks negara modern, sementara pembahasan tentang qadla, ijtihad, dan fatwa yang dibatalkan menyentuh aspek otoritas keilmuan dan mekanisme pengambilan keputusan hukum dalam Islam.

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pekalongan, Drs. KH. Muslikh Khudlori, M.S.I., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh PWNU Jawa Tengah dan LBM PWNU Jawa Tengah kepada PCNU Kabupaten Pekalongan sebagai tuan rumah penyelenggaraan Bahtsul Masail putaran ke-4 ini.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dari PWNU Jawa Tengah dan LBM PWNU Jawa Tengah. Ini merupakan amanah besar sekaligus kehormatan bagi PCNU Kabupaten Pekalongan,” tutur Kiai Muslikh.

Ia berharap kegiatan Bahtsul Masail tidak berhenti pada aspek seremonial, tetapi benar-benar menjadi wahana pencarian solusi fiqhiyah dan ilmiah atas berbagai persoalan umat. Menurutnya, Bahtsul Masail merupakan ruh jam’iyah NU yang sejak awal menjadi denyut utama kehidupan organisasi.

“NU berawal dari bahtsul masail yang hidup di pesantren. Pesantren berdiri lebih dahulu daripada NU. Kegiatan ini adalah kelanjutan dari tradisi pesantren. NU itu pesantren besar,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Kiai Muslikh menekankan pentingnya menjaga kesinambungan tradisi Bahtsul Masail sebagai sarana menumbuhkan kesadaran ruhiyah dan keilmuan di kalangan warga NU. Ia meyakini bahwa semakin intensif kegiatan Bahtsul Masail diikuti, semakin kuat pula ruh keilmuan dan spiritualitas jam’iyah.

“Mudah-mudahan kegiatan ini semakin semarak, semakin giat, dan semakin intensif. Itu berarti menumbuhkan kesadaran ruhiyah. Kita tidak akan meninggalkan Bahtsul Masail,” katanya.

Dalam konteks sosial kemasyarakatan, Kiai Muslikh juga menegaskan bahwa Bahtsul Masail harus mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat, tidak hanya dalam bidang diniyah, tetapi juga sosial, budaya, dan bahkan politik kebangsaan. Ia menyinggung kondisi Kabupaten Pekalongan bagian tengah yang saat ini tengah dilanda bencana banjir sebagai contoh konkret kebutuhan kehadiran NU di tengah masyarakat.

“Saat ini Kabupaten Pekalongan bagian tengah sedang dilanda banjir. NU harus hadir di tengah masyarakat dan menjawab kebutuhan masyarakat. PCNU hadir agar warga Nahdliyin mendapatkan solusi,” tegasnya.

Kegiatan Bahtsul Masail PWNU Jawa Tengah putaran ke-4 ini berlangsung sejak pagi hingga sore hari dengan suasana diskusi yang intens dan penuh kehati-hatian ilmiah. Para peserta terlibat aktif dalam pemaparan dalil, perbandingan pendapat ulama klasik dan kontemporer, serta perumusan rumusan hukum yang diharapkan dapat menjadi rujukan bagi warga NU dan masyarakat luas.

Melalui forum ini, NU kembali menegaskan perannya sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang tidak hanya menjaga tradisi keilmuan pesantren, tetapi juga berupaya menjawab tantangan zaman dengan pendekatan fiqh yang moderat, kontekstual, dan berakar kuat pada khazanah keilmuan Islam.

Dengan menjadi tuan rumah kegiatan ini, PCNU Kabupaten Pekalongan diharapkan semakin memperkuat posisinya sebagai pusat pengembangan tradisi Bahtsul Masail di tingkat regional, sekaligus menjadi contoh sinergi antara struktur organisasi, pesantren, dan masyarakat dalam menjaga ruh keilmuan Nahdlatul Ulama.

Kontributor: Syaikhul Alim

Views: 20

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini