Beranda Opini Pendidikan Sepanjang Hayat: Menghidupkan Spirit “Ayunan Hingga Liang Lahat” di Bumi Kajen

Pendidikan Sepanjang Hayat: Menghidupkan Spirit “Ayunan Hingga Liang Lahat” di Bumi Kajen

114
0
Gerakan Pesantren Usia Emas (Pusema) yang digalakkan di PAC Muslimat NU Kajen Mewujudkan Pendidikan Sepanjang Hayat

Oleh: Khuzaemah (Ketua PAC Muslimat NU Kajen)

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Namun, seringkali fokus kita hanya tertuju pada bangku sekolah formal, seragam, dan anak-anak usia dini. Padahal, dalam nafas Islam, pendidikan adalah sebuah perjalanan tanpa titik henti—sebuah proses yang membentang dari ayunan hingga ke liang lahat (minal mahdi ilal lahdi), senada dengan konsep Long Life Education.

PUSEMA: Bukti Semangat yang Tak Pernah Pudar

Kesadaran akan pendidikan sepanjang hayat ini mewujud secara nyata di lingkungan Muslimat NU Kajen. Momentum ini semakin terasa jika kita menoleh pada kegiatan Pesantren Usia Emas (PUSEMA) yang dicanangkan pada peringatan Hari Ibu Desember lalu. Meski dilaksanakan dalam format pesantren kilat sehari semalam, PUSEMA telah menjadi bukti nyata betapa ibu-ibu di usia senja tetap memiliki semangat tholabul ilmi yang luar biasa.

Program ini lahir dari sebuah panggilan hati. Kita menyadari bahwa kebutuhan akan ilmu tidak hanya milik anak-anak di TPQ atau santri di Madrasah Diniyah (Madin). Para lansia kita adalah pembelajar yang haus akan bimbingan, perhatian, dan kasih sayang. Mereka membuktikan bahwa keterbatasan fisik di usia emas bukan penghalang untuk terus mendekatkan diri kepada Sang Khalik melalui jalur ilmu.

Panggilan Hati dan Spirit Ngalap Barokah

Keberhasilan pendidikan lansia yang diselenggarakan  di berbagai ranting oleh para Ustadzah dan para Ibu Nyai bergerak murni karena tanggung jawab moral dan spiritual.

“Para Ibu Nyai dan Ustadzah ini menghibahkan waktu dan ilmunya dengan satu tujuan utama: Ngalap Barokah. Inilah wajah asli pendidikan kita, sebuah pengabdian tulus untuk memastikan cahaya ilmu tetap menerangi jalan setiap jamaah, tanpa memandang usia.”

Hardiknas dan Pendidikan yang Inklusif

Pendidikan lansia yang digerakkan secara swadaya ini adalah pesan kuat di Hardiknas tahun ini: bahwa pendidikan haruslah inklusif. Perhatian lebih harus diberikan kepada mereka yang di usia senja masih memiliki semangat membara untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an, memperdalam fiqih ibadah, atau sekadar menjaga kesehatan mental melalui ruang sosial yang sehat di majelis ilmu.

Mari kita jadikan Hardiknas sebagai momentum untuk mengapresiasi para pejuang pendidikan di akar rumput. Kepada para Ibu Nyai dan Ustadzah, semoga lelahmu menjadi lillah. Dan kepada para peserta PUSEMA serta lansia di seluruh ranting, semangatmu adalah inspirasi bagi generasi muda agar tidak malas belajar.

Sebab, selama nafas masih dikandung badan, pintu ilmu selalu terbuka lebar. Pendidikan bukan tentang seberapa cepat kita sampai ke garis finish, tapi tentang seberapa istiqamah kita berjalan di jalan ilmu hingga akhir hayat.

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Teruslah belajar, meski rambut telah memutih, karena cahaya ilmu akan menerangi jalan kita hingga ke haribaan-Nya.

Views: 24

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini