Beranda Warta Putaran Ketiga Ngaji Kitab At-Tibyan PCNU Pekalongan: Kokohkan Aswaja dan Ketahanan Sosial...

Putaran Ketiga Ngaji Kitab At-Tibyan PCNU Pekalongan: Kokohkan Aswaja dan Ketahanan Sosial Umat

374
0
Kajian Rutin Kitab At-Tibyan Karangan Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy'ari PCNU Kabupaten Pekalongan, Putaran ketiga di Masjid Jami Simbangwetan Buaran

Buaran, nukotasantri – Penguatan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) terus menjadi komitmen Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Pekalongan. Hal ini tercermin dalam kegiatan rutin “Ngaji Bareng Kitab At-Tibyan” yang digelar oleh PCNU Kabupaten Pekalongan. Memasuki putaran ketiga, kegiatan ini berlangsung khidmat pada Ahad, 8 Desember 2024 di Masjid Jami Simbang Wetan, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan.

Acara ini diawali dengan pembukaan oleh Katib Syuriyah PCNU Kabupaten Pekalongan, KH. Ahmad Muzaki, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Istighotsah yang dipimpin langsung oleh Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Pekalongan, KH. Baihaqi Anwar. Suasana semakin syahdu dengan pembacaan Tahlil oleh KH. Bakir serta pembacaan Kitab At-Tibyan yang dibawakan oleh KH. Muhtarom selaku Qari’.

Sebagai tuan rumah, Rais Syuriyah MWCNU Buaran, KH. Ikrom Kamal menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya atas pelaksanaan kegiatan ini.
“MWCNU Buaran merasa sangat terhormat menjadi tuan rumah. Ini adalah momen yang penuh berkah, apalagi kajian kitab At-Tibyan ini adalah karya Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama,” ujar KH. Ikrom Kamal dengan penuh semangat.

Beliau menambahkan bahwa pengkajian kitab kuning seperti At-Tibyan merupakan salah satu identitas utama Aswaja Nahdlatul Ulama.
“Melalui kajian ini, kita berharap warga NU semakin paham tentang ke-NU-an, karena NU adalah tulang punggung bangsa. Keberadaannya harus terus dijaga demi keutuhan NKRI,” tegasnya.

Sementara itu, KH. Muslikh Khudlori, Ketua PCNU Kabupaten Pekalongan, menyampaikan pentingnya kegiatan seperti ini untuk menjaga ketahanan ideologi umat di tengah arus perubahan zaman. Menurutnya, NU terus berupaya memperkuat pemahaman Aswaja melalui berbagai sektor pendidikan dan lembaga.
“Penguatan Aswaja dilakukan mulai dari pendidikan formal di bawah LP Ma’arif NU, pendidikan tinggi seperti ITSNU Pekalongan, hingga Pondok Pesantren. Dengan lahirnya UU Pesantren, perhatian terhadap pesantren pun semakin meningkat,” jelas KH. Muslikh.

Beliau juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pendidikan umum dan pendidikan agama sebagai langkah strategis NU dalam membangun generasi berilmu dan berakhlak.
“NU harus merespon perkembangan zaman. Pendidikan umum bukanlah sesuatu yang bisa dipandang sebelah mata. Ilmu umum pun jika dimanfaatkan dengan baik, bisa menjadi sarana maslahat bagi umat dan bangsa,” tegasnya.

Tak hanya ketahanan ideologi, KH. Muslikh juga menyinggung pentingnya ketahanan sosial dan kesejahteraan umat. Beliau menyoroti peran aktif NU dalam merespon berbagai permasalahan sosial yang dihadapi masyarakat, seperti bencana banjir, rob, dan kekeringan.
“NU harus hadir di tengah masyarakat saat mereka membutuhkan. Melalui program-program seperti NU Peduli, LPBINU, dan Lazisnu, kita berusaha memberikan solusi dan perhatian nyata. Untuk itu, sinergi dari seluruh komponen NU sangatlah diperlukan,” ujarnya.

Kegiatan Ngaji Bareng Kitab At-Tibyan ini tidak hanya menjadi forum ilmiah keagamaan, tetapi juga ruang konsolidasi dan refleksi peran NU sebagai penjaga tradisi, ideologi, dan kesejahteraan umat.

Dengan antusiasme yang tinggi dari para peserta dan dukungan dari berbagai pihak, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat fondasi keilmuan, kebersamaan, serta kepedulian sosial di kalangan Nahdliyin Kabupaten Pekalongan.

Kontributor: Syaikhul Alim

Views: 148

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini