Beranda Opini MEMILIH SUDUT PANDANG: Kisah Dai dan Penjual Es Teh 

MEMILIH SUDUT PANDANG: Kisah Dai dan Penjual Es Teh 

379
1

Seorang fotografer profesional yang sedang fokus membidik objek gambar akan memilih titik yang pas supaya menghasilkan gambar terbaik dan enak untuk dilihat oleh siapapun. Dalam istilah fotografi disebut dengan View of Angel. Satu sudut pandang akan menghasilkan satu objek yang berbeda dengan sudut pandang yang lain. Maka seseorang ketika berada di atas puncak gunung akan melihat pemandangan desa yang sangat berbeda dengan ketika hanya melihat sebuah desa dari bukit. Dalam hal ini seorang fotografer tidak bisa memindahkan objek, tetapi fotografer lah yang harus memilih sudut pandang terhadap objek supaya bisa mendapatkan gambar yang indah untuk bisa dinikmati.

Ilmu fotografi ini bisa diterapkan dalam melihat berbagai macam kehidupan sosial. Sebagaimana cara kita melihat orang-orang dekat sekitar kita. Suami, istri, anak, saudara, sahabat, serta orang lain. Kita tidak bisa memaksa mereka berbuat sesuai dengan sudut pandang kita, tetapi cobalah mencari sudut pandang lain. Sehingga tidak akan terjebak pada satu pandangan saja terhadap orang-orang di sekitar kita. Ketika menemukan sisi buruk pada orang lain cobalah mencari sisi baiknya dari sudut pandang yang berbeda. Maka akan didapatkan persepsi dan penilaian yang sangat berbeda yang mungkin justru tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Dalam kasus yang sedang viral yaitu kisah Miftah Maulana (Gus Miftah) dan pedagang es teh dalam momen pengajian memunculkan hujatan yang luar biasa. Hal itu terjadi karena ada salah lisan sang penceramah saat berceramah dalam pengajian. Semua orang bersimpati kepada pedagang es bahkan kemudian ada yang rame-rame berdonasi sampai berjanji memberangkat umroh. 

Dalam hal simpati kepada pedagang es teh dan tidak suka pada apa ucapan Gus Miftah saya setuju. Sebab siapapun yang tinggal di dunia akan terkena hukum sosial. Artinya setiap perbuatan ataupun perkataan yang baik akan menghasilkan timbal balik yang baik, dan sebaliknya. Dalam peristiwa ini saya tidak akan ikut-ikutan menghakimi atau menghujat habis-habisan pada sang penceramah. Sepertinya saya bisa tidak hanya memilih satu sudut pandang saja dalam melihat Gus Miftah. 

Pertama, dunia dakwah yang sering dilaluinya adalah dunia yang sangat spesifik, dimana sebagian besar kyai, gus, atau orang-orang yang menganggap dirinya orang sholeh tidak mau dan belum tentu mampu melakukannya. Dalam bahasa guyonan “jangan-jangan nanti nggak pingin pulang”. Ladang dakwah beliau yaitu tempat yang masyarakat kita menyebutnya sebagai dunia gelap, dimana penghuninya adalah para “perempuan yang dianggap nakal” yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Merekapun terbiasa dengan bahasa yang terdengar kasar, jorok, di telinga orang-orang di luar komunitas mereka. 

Di dunia inilah Gus Miftah menyelam, maka dia mencoba melepas style dan mode formalnya ketika berhadapan dengan para wanita-wanita yang kadang sering berlagak centil dan menggoda setiap laki-laki yang memasuki lokasi itu. Sehingga penampilan dan gaya bicaranya pun beliau sesuaikan dengan gaya lingkungan yang dihadapi. Maka termasuk bahasa kasar yang  di luar kelaziman parah penceramah pada umumnya sering keluar dari lisannya. Sehingga gaya khas, kata-kata yang digunakan dan candaan Gus Miftah ini terbawa setiap ceramah dalam pengajiannya. Mungkin style yang digunakan saat ini lebih memudahkan baginya masuk ke dalam dunia  yang sangat bertolak belakang dunia normal ini. Walaupun akhirnya kadang ia lupa mengontrol diri dalam menempatkan kata-kata.

Kedua, dunia perempuan malam adalah dunia yang sangat tidak mungkin terjamah oleh para pendakwah pada umumnya.Tetapi Gus Miftah justru mampu mengakrabinya untuk mengingatkan mereka supaya bisa kembali kepada Allah SWT. Diantara mereka para “pekerja dunia malam” ada yang sudah bertobat dan kembali kepada keluarga. Dengan gayanya yang bisa diterima oleh komunitas dunia malam Gus Miftah dalam candaan mereka dijuluki Presiden para pendosa. Mereka tidak malu untuk menanyakan perkara-perkara agama yang mungkin mereka malu untuk bertanya kepada para kyai, ustadz, dan gus di luar lingkungan mereka. Di sinilah Gus Miftah mampu membangunkan lagi kesadaran bertuhan dan beragama di dunia yang sudah dianggap sebagai dunia maksiat.

Ketiga, kisah Gus Miftah dan penjual es teh mengingatkan bahwa ucapan seseorang dianggap biasa-biasa saja di suatu tempat tetapi bisa dianggap tidak baik di tempat lainnya. Bahkan bisa dianggap pembullyan dan pelecehan, maka memilih diksi dalam berkomunikasi itu harus menyadari siapa lawan bicara atau audiennya. Allah itu bisa menaikkan derajat seseorang dengan cara yang ia kehendaki. Ketika saya ngobrol dengan seorang pak bon dia berujar “saya juga mau digoblokin sama Gus Miftah wong setelah itu malah jadi untung banyak yang simpati dan bisa umroh”. Selalu ada hikmah dibalik peristiwa.

Keempat, setiap manusia dengan status apapun punya peluang yang sama untuk melakukan kekhilafan, dalam ucapan ataupun tindakan. Seperti hadits nabi yang berbunyi “manusia tempat lupa dan salah”. Dalam hal ini Gus Miftah sangat memahami dan menyadari kesalahan dan kekhilafan ucapannya kepada penjual es teh. Beliau segera menyambangi tempat tinggalnya dan meminta maaf. Tukang es senang bertemu dengan Gus Miftah, maaf ya jangan-jangan yang nggak senang yang baca tulisan ini,  mereka cipika cipiki, dan Gus Miftah menjanjikan akan menghadiri undangan pengajian di tempat pak Sunhaji penjual es teh. Sebaik-baik manusia adalah bukan tanpa kesalahan, tetapi mereka yang meminta maaf atas kesalahannya dan tidak mengulangi kembali. Yang meminta maaf dan yang memaafkan sama-sama baiknya di hadapan Allah SWT. Bahkan sebagian konsekuensinya ia melepaskan jabatannya sebagai utusan khusus presiden dalam bidang moderasi beragama. Kata presiden “ini adalah tindakan ksatria yang harus dihormati”.

Seekor lebah dengan matanya selalu mencari tempat yang bersih yaitu mencari bunga mengambil nektarnya. Setelah itu ia akan menghasilkan madu yang sangat bermanfaat untuk dirinya maupun manusia. Sebaliknya seekor lalat dengan matanya selalu mencari tempat yang kotor, menghinggapi makanan meninggalkan kotoran dan penyakit. Artinya kita bisa menggunakan mata lebah atau mata lalat untuk melihat kisah sang penceramah dan penjual es teh. 

Waallahu a’lamu bishowaab.

Penulis: Muhamad Mustofa (Pengasuh Ponpes Daarul Dzikri)
Editor: Khairul Anwar

Views: 98

1 KOMENTAR

  1. Sekedar urun rembug poro kiyai…
    Fenomena Viral ini memang bisa dilihat dari bermacam macam engel tidak terkecuali dari sudut pembenci atau penyuka, tentu sudut pandang pembenci akan selalu mencari sudut paling jelek atau bahkan dicari sisi yang paling jelek karena bagi para pembenci sebaik apapun sesuci apapun dihadapan pembenci tidak akan merubah kebencian menjadi kecintaan, kecuali Allah membalikkan kebencian itu dan itu sulit terjadi atau sedikit terjadi, sebaliknya Bagi para penyuka sejelek apapun idola kita akan terasa baik dan mengagumkan dengan sejuta pembelaan, dengan ribuan dalil dan hujjah penguat sebagai pembelan sampai ahir, dari sini dapat kita telisik bahwa masyarakat kita adalah masayrakat yang masih memegang budaya Taqlid dan minim rasionalitas.
    Disinilah polarisasi masyarakat di indonesia sudah mendalam dan sangat tajam dan sudah dimulai dari era pra kemerdekaan ( politik etis ) bahkan dipercepat dalam era Reformasi sebagai gerbang awal kebebasan ber ekpresi dalam segala hal, pintu masuk ketiga adalah Covid 19 sebagai era percepatan Globalisasi dan dunia tanpa batas sebagai mana konsep globalisasi.
    Fenomena yang terjadi Hari ini adalah bagian riak riak kecil sebagai indikator masuknya era Globalisasi dalam 3 tahap diatas, Baik disebabkan oleh rekayasa sosial Social enginering atau rekayasa prilaku Behavior Engenring ( keduanya Adalah hasil dari dampak masuknya sistem Globalisasi), masih ingat dalam kajian nasionalismenya Ernest Renan yang dibantah oleh samuel P Hantington dengan teori Clash nya dalam The Clash of Civilization, bahwa peradaban adalah unit utama konflik (Ini yang menjadi jualan kelompok globalis) dan inilah yang menurut saya menjadi akar persoalan di Nusantara ini lepas dari Fenomena Kebenaran adalah hal yang “Viral” dan saya yakin bahwa ini adalah bagian dari skema degradasi budaya arena target nya adalah perang kebudayaan Antara dua besar yaitu kebudayaan islam ( Transcendence) dan Kebudayan barat ( rasionalist materialist), dan pasti menggunakan metode Proxy sebagai bagian dari seni berperang dengan menggunakan tanga ketiga sebagai senjata, semoga Nu bukan bagian dari alat Proxy mereka, dan semoga kita sebagai kader NU dan benteng Peradaban Nusantara tidak terjebak akan Fenomena Gesekan Budaya dengan atas nama apapun karena gesekan itu nyata adanya pada masyarakat kita dan mayoritas Adalah Warga NU, sebagaimana Fenomena Ba’alawi yang sulit untuk selesai dalam maktu yang singkat ( NU muhibbin vs NU non Muhibbin) serta masih banyak fenomena fenomena berikutnya.
    Penguatan Kelembagaan NU dengan cara pendampingan serta kaderisasi kepada warga NU adalah langkah penyadaran sebagai mahluq Allah yang sejatinya adalah untk beribadah kepadaNYA, serta melawan pola pola pejajahan terhadap praktik degradasi terhadap keyakinan Islam Aswaja melalui cara Globalisasi, menolak globalisasi bukan juga solusi tetapi pengutan Organisasi sebagai alat menuju ketaqwaan kepada Allah adalah bentuk perlawanan dan pertahanan terhadap ajaran Allah dalam bingkai Aswaja An nahdliyyah… wallahu a’lam .. ZHQ

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini