
Wonopringgo, nukotasantri.or.id – Kompleks YMI (Yayasan Madrasah Islamiyah) Sedayu Wonopringgo, Pekalongan, Jawa Tengah, menjadi saksi perhelatan Seminar Nasional Kebudayaan bertajuk “Spiritualitas Kebudayaan Bangsa dan Tantangan Kemodernan” pada Selasa (28/1/25). Acara yang berlangsung meriah ini menghadirkan tokoh-tokoh penting, termasuk Mudir ‘Aly Idaroh JATMAN PBNU, Prof. Dr. KH Ali Masykur Musa, Ketua Lesbumi PBNU, KH Jadul Maula, serta Menteri Kebudayaan RI, Dr. H. Fadli Zon, SS, MSc.
Salah satu kegiatan yang menarik perhatian dalam rangkaian acara ini adalah Riding Ziarah Vespa Sarungan, yang dimulai sejak pukul 06.30 WIB. Kegiatan ini menggambarkan perpaduan unik antara tradisi dan modernitas, sekaligus menegaskan pentingnya pelestarian budaya bagi generasi mendatang.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. KH Ali Masykur Musa menegaskan bahwa JATMAN dan Lesbumi PBNU memiliki visi untuk memperdalam pemahaman masyarakat mengenai makna kebangsaan dan keagamaan. “Dengan memahami keduanya secara lebih dalam, maka kehidupan berbangsa dan beragama akan lebih harmonis dan indah,” ungkapnya. Kehadiran komunitas Vespa Jadul dalam acara ini juga menjadi simbol merawat budaya serta menghargai produk masa lalu sebagai bagian dari identitas bangsa.
Tak hanya seminar, kegiatan ini berlanjut hingga Rabu (29/1/2025) dengan berbagai rangkaian acara. Ketua Lesbumi PWNU Jawa Tengah, Abdul Ghani, dalam kesempatan ini menyampaikan gagasan strategis terkait pentingnya Kurikulum Pendidikan Seni Budaya Islam Nusantara untuk diterapkan di berbagai lembaga pendidikan formal seperti Ma’arif NU, madrasah di bawah Kemenag, dan sekolah Islam di bawah Kemendiknas.
“Selama ini belum ada muatan lokal yang secara khusus membahas seni budaya Islam Nusantara di lembaga pendidikan tersebut. Kekosongan ini menjadi kehilangan akademis yang harus segera diisi agar generasi mendatang memiliki pemahaman kuat mengenai warisan budaya bangsa,” jelasnya kepada NU Kota Santri.
Abdul Ghani menambahkan bahwa seni budaya Islam Nusantara memiliki peran penting dalam membentuk karakter siswa, khususnya dalam menanamkan nilai-nilai kebhinekaan, toleransi, keharmonisan, serta kearifan lokal yang berpadu dengan spiritualitas Islam. Melalui gagasan ini, diharapkan generasi muda memiliki wawasan budaya yang moderat dan tetap menghargai tradisi.
Untuk merealisasikan inisiatif ini, Lesbumi NU berencana menggandeng berbagai pihak, termasuk Ma’arif NU, Lakpesdam, LPTNU, serta kementerian terkait seperti Kemendikbudristek, Kemenag, dan Kemenkebudayaan. Hasil akhir yang diharapkan adalah tersusunnya kurikulum dan modul pembelajaran yang sistematis dari jenjang PAUD hingga Madrasah Aliyah.
“Kami yakin sinergi ini akan menghasilkan kurikulum Seni Budaya Islam Nusantara yang kokoh sebagai landasan pendidikan, sekaligus menjaga kelestarian budaya bangsa,” tambahnya.
Selain seminar dan diskusi strategis, acara ini juga dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan seni Islam Nusantara. Seni Terbang Undukan dari Lesbumi MWCNU Wonopringgo dan Pencak Jangkah Telu dari Lesbumi MWCNU Tirto menjadi daya tarik tersendiri. Selain itu, pagelaran seni juga menghadirkan musik tradisional sholawat, orasi budaya oleh Dr. Zastrow Ngatawi, Sastro Adi, dan Ning Inayah Putri Gus Dur. Salah satu puncak acara adalah pertunjukan Wayang Sholawat “Washol” yang dibawakan oleh dalang Ki Ardhi Poerboantono dari Malang dan Ki Suryoningrat dari Pemalang.
Pada hari kedua, Rabu (29/1/2025), acara akan ditutup dengan Mujahadah dan Bai’at Kubro Thoriqoh di Kompleks PP At-Taufiq Wonopringgo. Kegiatan ini menjadi bukti nyata peran besar NU dalam kehidupan keagamaan dan kebangsaan, serta komitmennya dalam merawat spiritualitas dan budaya Nusantara.
Kontributor: Syaikhul Alim
Views: 17







