Beranda Warta Dari Gereja Santo Petrus Pekalongan: Saat Ajaran Katolik Mempertemukan Persaudaraan dan Ekologi

Dari Gereja Santo Petrus Pekalongan: Saat Ajaran Katolik Mempertemukan Persaudaraan dan Ekologi

64
0

Pekalongan, NU Kota Santri — Setelah menelusuri sejarah Agama Konghucu di Klenteng Po An Thian, rombongan Walking Tour Keberagaman Harlah Gus Dur melangkah menuju Gereja Paroki Santo Petrus Pekalongan, Minggu (16/8/2026). Kunjungan yang diinisiasi Komunitas Gusdurian Pekalongan dan Pelajar NU Kota Pekalongan ini disambut hangat oleh Romo Paroki, pengurus gereja, serta Orang Muda Katolik (OMK).

Dalam sambutannya, Romo Yohanes Suratman menegaskan bahwa Gereja Katolik bukan sekadar lembaga keagamaan yang mengolah iman secara internal, melainkan harus hadir secara nyata di tengah kehidupan bermasyarakat. Ia mengutip semangat kepahlawanan Uskup Mgr. Soegijapranata untuk menggambarkan pijakan hidup umat Katolik di Indonesia.

“Kami ingin menjadi 100 persen Katolik, tetapi juga 100 persen Indonesia. Visi misi kami selain membangun iman kerohanian, iman itu juga harus terwujud dalam kehidupan sehari-hari”, ungkapnya.

Prinsip tersebut diwujudkan secara nyata melalui aksi kepedulian lingkungan, salah satunya lewat kehadiran Bank Sampah Gereja. Langkah ini sejalan dengan Dokumen Laudato Si’ yang dikeluarkan Paus Fransiskus pada 2015 tentang perawatan bumi sebagai rumah bersama.

“Iman kami harus diwujudkan dalam kehidupan. Melalui Laudato Si’, isu lingkungan hidup ini menjadi sarana untuk membangun dialog lintas iman. Di Gusdurian juga ada prinsip bahwa merusak alam berarti merusak kemanusiaan, ini sangat sejalan,” jelasnya.

Ia menambahkan, Bank Sampah Gereja ini bisa menjadi kerja sama dengan pemerintah daerah, pernah mengikuti perlombaan, serta menjadi ruang diskusi bersama berbagai komunitas.

Tak hanya lingkungan, Gereja Paroki Santo Petrus juga aktif memupuk relasi sosial. Waktu bulan Ramadan, gereja ini pernah membuka pintu untuk agenda buka puasa bersama yang dihadiri ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Al-Irsyad, Rifa’iyah, LDII, hingga FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama). Bahkan saat masa Prapaskah (puasa Katolik selama 40 hari), pihak gereja menggelar dialog untuk memaknai hakikat puasa dalam perspektif Muslim dan Katolik.

Romo menambahkan bahwa keterlibatan sosial ini berangkat dari doa umat Katolik, Doa Bapa Kami, khususnya pada kalimat “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga.”

“Kami ingin menghadirkan Allah yang pengasih dan penyayang di dunia ini. Kebahagiaan dan kedamaian seperti di surga itu jangan menunggu nanti, tetapi harus kita hadirkan mulai saat ini di dunia. Dan siapa yang menghadirkannya? Kita semua ini,”, tegasnya.

Melalui silaturrahmi ini, teladan kemanusiaan Gus Dur terbukti terus hidup di Pekalongan. Toleransi tidak berhenti pada wacana saja melainkan terwujud dalam dialog yang damai, persaudaraan yang erat, dan aksi bersama merawat bumi.

Penulis: Muhammad Maelal Marom

Editor: Ihza

Views: 94

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini