Beranda Opini Mencari Ilmu dengan Perjuangan: Meneladani Kesungguhan dalam Meraih Cahaya Ilahi

Mencari Ilmu dengan Perjuangan: Meneladani Kesungguhan dalam Meraih Cahaya Ilahi

185
0

Penulis: H. Muhammad Akhi Falakhi, S.Kom. (Pengurus LBM PCNU Kab. Pekalongan)

Bismillahirrohmanirrohim.

تَمَنَّيْتَ اَنْ تُمْسِىَ فَقِيْهًا مُنَاظِرًا # بِغَيْرِ عِنَاءٍ وَالْجُنُوْنُ فُنُوْنُ

وَلَيْسَ اكْتِسَابُ الْمَالِ دُوْنَ مَشَقَّةٍ # تَحَمَّلُهَا فَالْعِلْمُ كَيْفَ يَكُوْنُ

Kamu berharap ingin jadi ahli fiqih yang bisa menerapkan hujjah atas setiap permasalahannya, dengan tanpa usaha keras itu namanya gila dan gila itu bermacam-macam, sementara mencari harta tanpa usaha keras bukanlah mencari harta apalagi ilmu?

Ilmu adalah cahaya yang menerangi hati, membimbing langkah manusia menuju kebaikan, dan menjadi bekal utama untuk menjalani kehidupan yang penuh makna. Salah satu ilmu yang sangat mulia dan bernilai tinggi dalam Islam adalah ilmu fiqih, yang membahas tentang hukum-hukum syariat dalam berbagai aspek kehidupan. Namun, seperti yang tercermin dalam syair yang disebutkan, banyak orang yang berharap untuk menguasai ilmu ini tanpa usaha keras dan perjuangan yang sepadan. Dalam kenyataannya, untuk menguasai ilmu fiqih atau ilmu apapun tidaklah semudah yang dibayangkan.

Syair pertama yang tertera dalam tulisan di atas mengungkapkan sebuah harapan yang tidak realistis, yaitu berharap bisa menjadi seorang ahli fiqih yang mahir tanpa usaha dan perjuangan yang keras. Syair ini mengingatkan kita bahwa menjadi seorang yang berilmu, terutama dalam bidang fiqih, tidaklah bisa didapatkan dengan cara yang mudah dan tanpa pengorbanan. “Edan iku werna” (gila itu bermacam-macam), dan jika seseorang berharap menjadi ahli fiqih tanpa usaha, maka itu adalah sebuah khayalan.

Perbandingannya adalah dalam hal mencari harta. Setiap orang yang berusaha mencari kekayaan, tentu harus menghadapi banyak tantangan, bekerja keras, dan berjuang tanpa mengenal lelah. Jika mencari harta membutuhkan usaha yang besar, maka mencari ilmu lebih dari itu. Ilmu, apalagi ilmu fiqih, adalah sesuatu yang jauh lebih sulit untuk diperoleh dibandingkan dengan harta benda, karena ilmu itu adalah sesuatu yang abstrak, tidak terlihat oleh mata, dan sering kali membutuhkan waktu yang panjang serta usaha yang tidak kenal henti.

Ilmu tidak hanya sekadar pengetahuan duniawi, tetapi juga sebagai cahaya Ilahi yang diberikan hanya kepada hamba yang dikehendaki. Dalam syair yang dikutip dari Imam Syafi’i, beliau mengungkapkan pengalaman pribadinya tentang kesulitan dalam menghafal dan memperoleh ilmu.

شكوت الى وكيع سوء حفظى فارشدنى الى ترك المعاصى

و اخبرنى بان العلم نو ر ونور الله لا يهدى لعاصى

Saya melapor pada syeh Waki’ tentang buruknya hafalanku, maka beliau memberikan petunjuk padaku untuk meninggalkan kemaksiatan, beliau memberitahukan bahwa ilmu adalah Nur dan Nur Allah tidak akan di berikan kepada mereka yang ahli maksiat

Imam Syafi’i, yang dikenal sebagai seorang imam besar yang hafal Al-Qur’an di usia muda dan menguasai banyak kitab-kitab penting, menyadari bahwa ilmu itu bukan hanya hasil dari usaha keras, tetapi juga merupakan anugerah Allah yang hanya diberikan kepada orang yang suci hati dan bebas dari dosa.

Imam Syafi’i juga menegaskan bahwa untuk mencari ilmu, seseorang haruslah datang dengan hati yang rendah dan jiwa yang penuh dengan rasa ingin tahu, bukan dengan membawa kekayaan atau kemuliaan. beliau mengatakan, “Tidak mencari ilmu orang yang mencarinya dengan kemuliaan dan kekayaan, tetapi dialah yang mencari ilmu yang mencarinya dengan kehinaan dan kefakiran.”

Wallahu A’lamu Bishhowab.

Views: 18

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini