Sya’ban bukanlah nama yang sering disebut dalam sejarah Islam seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, atau Ali bin Abi Thalib. Namun, di antara para sahabat, ia dikenal sebagai pribadi yang tekun beribadah dan tak pernah absen dalam shalat berjamaah di masjid. Kebiasaannya yang khas adalah selalu datang lebih awal sebelum adzan berkumandang. Ia akan duduk di sudut masjid, menenangkan diri dalam i’tikaf, menunggu waktu shalat tiba. Bukan karena ingin bersandar dan beristirahat, tetapi agar tidak mengganggu jamaah lain yang datang untuk beribadah.
Suatu pagi, ketika waktu shalat subuh hampir tiba, Rasulullah menyadari ada yang berbeda. Sudut masjid yang biasanya ditempati oleh Sya’ban kini kosong. Beliau melihat sekeliling, mencari sosok sahabatnya itu. “Di mana Sya’ban?” tanya Rasulullah kepada para sahabat yang hadir. Tidak ada yang tahu. Ini tidak biasa. Sya’ban tidak pernah melewatkan shalat berjamaah.
Khawatir terjadi sesuatu, Rasulullah menunda sejenak shalat subuh, berharap Sya’ban akan segera datang. Namun, setelah beberapa saat, ia tetap tak muncul. Rasulullah akhirnya mengimami shalat subuh dengan hati yang dipenuhi rasa penasaran dan kegelisahan.
Selesai shalat, Rasulullah kembali bertanya, “Adakah di antara kalian yang tahu di mana rumah Sya’ban?” Salah seorang sahabat mengangguk dan segera menawarkan diri untuk mengantarkan Rasulullah dan para sahabat lainnya ke rumahnya.
Perjalanan yang ditempuh cukup panjang. Mereka berangkat setelah shalat subuh dan baru tiba ketika matahari mulai meninggi, saat waktu dhuha hampir tiba. Setibanya di rumah Sya’ban, Rasulullah mengetuk pintu dan memberi salam. Seorang wanita membuka pintu dan menyambut mereka dengan wajah sedih. “Benarkah ini rumah Sya’ban?” tanya Rasulullah.
Wanita itu, yang ternyata adalah istri Sya’ban, mengangguk pelan. Dengan mata berkaca-kaca, ia berkata, “Maafkan saya, ya Rasulullah. Sya’ban telah berpulang sebelum adzan subuh berkumandang.”
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un,” ucap Rasulullah dan para sahabat.
Penyesalan di Penghujung Hidup
Istri Sya’ban menahan tangis sebelum melanjutkan, “Ya Rasulullah, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan. Sebelum suamiku mengembuskan napas terakhir, ia berteriak tiga kali dengan kalimat yang berbeda.”
Rasulullah mendengarkan dengan penuh perhatian. “Apa yang ia katakan?”
“Pertama, ia berkata, ‘Aduh, mengapa tidak lebih jauh?’ Lalu, ia berteriak lagi, ‘Aduh, mengapa tidak yang baru?’ Dan terakhir, ia berseru, ‘Aduh, mengapa tidak semuanya?’”
Rasulullah menatap lembut wanita itu sebelum menjelaskan makna di balik kata-kata Sya’ban.
Ketika seorang mukmin menghadapi sakaratul maut, Allah SWT memperlihatkan amal perbuatannya. Demikian pula yang terjadi pada Sya’ban.
Sya’ban melihat bagaimana setiap langkahnya menuju masjid dicatat sebagai amal kebaikan dan berbuah pahala yang luar biasa. Ia menyaksikan ganjaran yang diperolehnya dari kebiasaan pergi ke masjid untuk shalat berjamaah. Saat itu, timbul penyesalan dalam dirinya: Seandainya rumahku lebih jauh, maka langkahku akan lebih banyak, dan pahala yang kudapatkan pun lebih besar.
Sya’ban teringat pada suatu pagi yang dingin. Ia mengambil dua lapis pakaian: yang baru di dalam, dan yang usang di luar. Saat dalam perjalanan ke masjid, ia bertemu dengan seorang lelaki tua yang menggigil kedinginan. Tanpa ragu, ia memberikan pakaian luarnya kepada orang itu agar tetap hangat. Kini, saat ajal menjemput, ia menyadari sesuatu: Seandainya aku memberikan pakaian yang baru, betapa lebih besar pahala yang akan kuterima!
Suatu hari, ia hendak menikmati sarapan sederhana: sepotong roti dan segelas susu hangat. Namun, datang seorang pengemis yang mengaku belum makan selama tiga hari. Sya’ban membagi roti dan susu itu menjadi dua bagian sama besar. Sekarang, di hadapan Allah, ia menyaksikan pahala dari amal tersebut dan menyesali keputusannya. Seandainya aku memberikan semuanya, tentu pahalaku lebih besar dan derajatku lebih tinggi di sisi Allah!
Kisah ini mengajarkan kita banyak hal tentang kehidupan dan amal perbuatan:
Jarak yang jauh menuju kebaikan adalah keberkahan
Jangan pernah mengeluh jika harus bersusah payah dalam beribadah. Setiap langkah kecil menuju kebaikan memiliki nilai besar di sisi Allah.
Berikan yang terbaik dalam bersedekah
Jangan hanya memberikan yang tersisa, tetapi berikan yang terbaik yang kita miliki, karena setiap pemberian akan kembali kepada kita dengan balasan yang jauh lebih baik.
Jangan setengah-setengah dalam beramal
Ketika membantu orang lain, lakukanlah dengan sepenuh hati. Jangan takut kehilangan, karena Allah akan mengganti dengan sesuatu yang lebih besar.
Sya’ban telah berpulang, namun kisahnya tetap menjadi pengingat bagi kita semua. Jangan sampai di akhir hayat kita menyesali kebaikan yang bisa kita lakukan namun terlewatkan. Maka dari itu, mari kita lakukan yang terbaik selagi masih ada kesempatan, agar kelak kita tidak berkata, ‘Aduh, mengapa tidak lebih banyak?’
Penulis: Syaikhul Alim
Views: 128








