Di sebuah sudut Madinah yang damai, hiduplah seorang sahabat Nabi yang bernama Abu Dujanah. Ia dikenal sebagai lelaki yang tangguh dan pemberani di medan perang. Namun, di balik keberaniannya itu, ia juga memiliki hati yang begitu lembut dan penuh ketakwaan. Ada satu kebiasaan yang membuat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam penasaran: setiap selesai shalat Subuh berjamaah di masjid, Abu Dujanah selalu bergegas pulang tanpa menunggu doa yang dipanjatkan oleh beliau.
Suatu hari, rasa ingin tahu Rasulullah tak bisa dibendung lagi. Beliau pun bertanya dengan penuh kasih sayang, “Wahai Abu Dujanah, mengapa setiap kali selesai shalat engkau selalu terburu-buru meninggalkan masjid? Bukankah doa setelah shalat juga memiliki keberkahan yang besar?”
Abu Dujanah menunduk hormat. “Ya Rasulullah, ada alasan yang membuatku harus segera pulang. Aku bukan bermaksud mengabaikan doa, tetapi ada sesuatu yang lebih mendesak bagiku.”
“Ceritakanlah padaku,” pinta Rasulullah dengan lembut.
Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Abu Dujanah pun bercerita, “Rumahku berdampingan dengan rumah seorang laki-laki yang memiliki pohon kurma. Dahan-dahannya menjulur hingga ke halaman rumah kami. Setiap malam, angin bertiup dan menjatuhkan buah-buah kurma itu ke pekarangan rumah kami. Aku dan keluargaku hidup dalam kesederhanaan, ya Rasulullah. Anakku sering kali bangun dalam keadaan lapar. Ketika mereka melihat kurma-kurma itu berjatuhan, tanpa berpikir panjang, mereka memakannya. Mereka belum mengerti bahwa makanan yang bukan haknya bisa menjadi beban bagi orang tua mereka di akhirat.”
Abu Dujanah menarik napas dalam sebelum melanjutkan, “Setiap pagi, aku harus buru-buru pulang sebelum anak-anakku bangun. Aku mengumpulkan kurma-kurma itu dan mengembalikannya kepada pemiliknya agar tidak ada barang haram yang masuk ke dalam perut keluargaku. Pernah suatu kali aku terlambat pulang. Saat tiba di rumah, aku melihat anakku sudah memasukkan kurma ke dalam mulutnya. Dengan hati yang berat, aku memasukkan jari ke dalam mulutnya dan mengeluarkan kurma itu. Aku berkata kepadanya, ‘Nak, jangan sampai ayah menanggung beban di akhirat karena sesuatu yang bukan milik kita.’ Anakku menangis karena lapar, tetapi aku lebih takut jika dia memakan sesuatu yang haram.”
Mata Rasulullah mulai berkaca-kaca mendengar kisah itu. Beliau begitu tersentuh dengan ketakwaan Abu Dujanah. Kemudian, beliau bertanya, “Siapa pemilik pohon kurma itu?”
“Dia adalah seorang laki-laki yang dikenal sebagai munafik, ya Rasulullah.”
Tanpa ragu, Rasulullah segera menemui pemilik pohon kurma itu dan berkata, “Maukah engkau menjual pohon kurma ini kepadaku? Sebagai gantinya, aku akan berikan kepadamu sebuah pohon kurma di surga yang batangnya terbuat dari zamrud biru, disirami emas merah, dan dikelilingi oleh bidadari sesuai jumlah buahnya.”
Namun, laki-laki munafik itu tersenyum sinis. “Aku tidak mau berdagang dengan janji yang belum bisa kulihat. Aku hanya mau transaksi yang langsung menguntungkan.”
Mendengar jawaban itu, Abu Bakar as-Shiddiq radliyallahu ‘anh yang kebetulan ada di sana segera berkata, “Jika begitu, aku akan membelinya darimu dengan sepuluh pohon kurma yang lebih baik dan lebih berbuah lebat dari pohon ini.”
Si munafik langsung tergiur dan tanpa pikir panjang ia menyetujui tawaran Abu Bakar. Setelah transaksi selesai, Abu Bakar menyerahkan pohon kurma itu kepada Abu Dujanah dengan penuh keikhlasan. Rasulullah tersenyum dan berkata, “Wahai Abu Bakar, aku akan menggantikan pohon kurma itu untukmu di surga.”
Namun, si munafik pulang dengan penuh kesombongan. Ia merasa telah memperoleh keuntungan besar dari transaksi itu. Dengan bangga, ia bercerita kepada istrinya, “Aku tetap bisa menikmati kurma dari pohon itu sebelum orang lain!”
Namun, keesokan paginya, ia terkejut. Pohon kurma yang semula berdiri di pekarangannya telah hilang tanpa jejak. Pohon itu seolah telah berpindah tempat ke tanah milik Abu Dujanah. Ia pun hanya bisa terdiam, menyadari bahwa apa yang terjadi adalah kehendak Allah.
Pelajaran Moral dari Kisah Ini
Menjaga Kehalalan Rezeki
Abu Dujanah mengajarkan bahwa kejujuran dan menjaga kehalalan makanan bagi keluarga lebih utama daripada memenuhi keinginan sesaat. Betapa pentingnya mencari nafkah yang halal, meskipun dalam keadaan sulit.
Keteguhan Hati dalam Kebaikan
Meskipun berada dalam kondisi ekonomi yang sulit, Abu Dujanah tetap teguh dalam memegang prinsipnya. Ia tidak tergoda untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya, bahkan untuk keluarganya sendiri.
Keutamaan Berinfak di Jalan Allah
Abu Bakar menunjukkan betapa besar keikhlasannya dalam berderma demi membantu sesama. Keikhlasannya berbuah janji dari Rasulullah bahwa ia akan mendapat pohon kurma yang lebih indah di surga.
Balasan Allah kepada Orang yang Ikhlas
Ketika seseorang melakukan kebaikan dengan ikhlas, Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik, baik di dunia maupun di akhirat.
Kesombongan Tidak Akan Berbuah Manis
Si munafik yang merasa cerdik dan menang dalam transaksi, pada akhirnya menyadari bahwa Allah-lah yang menentukan segalanya. Kesombongan dan cinta dunia tidak akan membawa keuntungan sejati.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa kehidupan di dunia hanyalah tempat untuk menanam benih kebaikan. Panennya akan kita nikmati kelak di akhirat. Sebab, sebaik-baik bekal adalah ketakwaan dan kejujuran dalam menjalani hidup ini.
Penulis: Syaikhul Alim
Views: 108








