TIRTO, NU Kota Santri – Komitmen Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dalam membantu masyarakat serta menjaga keamanan kegiatan keagamaan kembali ditunjukkan oleh Satuan Koordinasi Rayon (Satkoryon) Banser Tirto saat mengamankan pengajian umum bersama KH. Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq di Desa Silirejo, Kecamatan Tirto, Selasa (8/6/2026) malam.
Pengajian tersebut digelar dalam rangka tasyakuran khitan Muhammad Almu Nazam, putra Bapak Wasduri, yang berlangsung di kawasan Blok Makam Setono, Desa Silirejo. Ribuan jamaah tampak memadati lokasi acara sejak malam hari.
Kepala Satkoryon Banser Tirto, Ian Mardiono, mengatakan pihaknya langsung menindaklanjuti permintaan pengamanan (PAM) yang diajukan melalui Satuan Koordinasi Kelompok (Satkorkel) Banser Desa Silirejo.
“Kami langsung menginstruksikan seluruh Satkorkel Banser se-Kecamatan Tirto untuk bertugas dengan kekuatan penuh dan menunjuk dua koordinator lapangan (korlap). Langkah ini dilakukan guna mengantisipasi membludaknya jamaah sehingga pengamanan dan penertiban lebih mudah dilakukan,” ujarnya.
Salah satu Korlap Banser, Subekhi, menjelaskan bahwa sebelum acara berlangsung pihaknya telah menyusun layout atau tata letak lokasi pengajian. Menurutnya, langkah tersebut penting agar petugas lebih mudah memahami titik-titik pengamanan dan koordinasi di lapangan.
“Supaya tugas Banser lebih efektif, kami membagikan gambar layout acara melalui grup WhatsApp Satkoryon. Dengan begitu petugas tidak kebingungan mencari posisi saat acara berlangsung,” tuturnya.
Suasana pengajian semakin khidmat ketika lantunan shalawat dari grup rebana Al-Islah Pekalongan menggema mengiringi kedatangan jamaah. Para hadirin tampak larut mengikuti pembacaan shalawat dengan penuh kekhusyukan.
Tepat pukul 22.00 WIB, Gus Muwafiq naik ke podium menyampaikan tausiyahnya. Dalam ceramahnya, dai asal Yogyakarta yang dikenal dengan gaya khas dan rambut panjangnya itu menjelaskan tentang filosofi fase kehidupan manusia dalam tradisi Jawa.

Menurut Gus Muwafiq, manusia pada awalnya merupakan ruh yang diturunkan Allah SWT dari langit, kemudian didoakan agar memperoleh ketenangan ketika hadir di dunia melalui tradisi seperti mapati dan mitoni.
“Mapati dan mitoni itu dalam rangka mendoakan supaya ruh yang turun ke bumi menjadi adem,” ungkapnya.
Ia kemudian menguraikan tahapan kehidupan manusia yang digambarkan melalui tembang Jawa, mulai dari Maskumambang, Sinom, hingga Pucung. Gus Muwafiq menjelaskan bahwa fase Kinanti merupakan masa anak-anak yang menjadi momentum penting untuk melaksanakan khitan.
“Pada fase Kinanti, anak wajib dikhitan seperti Mas Nazam ini, lalu didoakan dan diselameti melalui walimah,” jelasnya.
Lebih lanjut, Gus Muwafiq menerangkan bahwa tradisi walimah khitan memiliki makna doa agar anak tumbuh menjadi pribadi saleh dan membawa keselamatan bagi diri maupun lingkungannya.
Pengajian umum yang dihadiri tokoh masyarakat, tokoh Nahdlatul Ulama (NU), serta badan otonom NU setempat itu berlangsung aman dan lancar hingga akhir acara.
Sebagai penutup kegiatan, seluruh anggota Banser berkumpul dan berbaris sambil melantunkan lagu “Jumberareka” untuk menumbuhkan semangat kebersamaan dan kekompakan antaranggota.
Kontributor: Yusuf Bahtiar
Editor: Khairul Anwar
Views: 72








